Thursday, June 21, 2018

Sakit

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Walaupun Ramadhan sudah berlalu, semoga semangatnya tetap tertanam ya, temen - temen. Gimana dengan Shaum Qadha dan Syawal - nya? Ada yang sudah mulai? 

Malam ini, saya mau cerita soal sesuatu yang terjadi hari Minggu (19 Juni 2018) lalu. Tentang sesuatu yang luput dari kontemplasi saya, hingga kemudian ujian tersebut diulang lagi dan lagi sama Allah.

Ujiannya ada di judul tulisan ini. 

Sakit.

Apanya yang sakit? 
Diawali dengan beberapa bulan lalu, ibu mertua saya tiba - tiba nyeri perut hebat. Sepulang suami kerja, kami langsung pergi ke rumah mertua saya. Lewat monitor Teteh Ipar, kami dapat kabar bahwa ibu mertua saya kena usus buntu dan esok paginya harus segera di operasi. 

Alhamdulillah, ibu mertua menjalani operasi dengan lancar dan cepat pulihnya. Daya tahan tubuh beliau memang mantap. Disusul dengan Kakeknya suami di Banten sana yang juga masuk RS plus Bibi yang operasi caesar. 

Sekitar dua bulan setelahnya, tepat beberapa hari sebelum Ramadhan, Suami saya masuk rumah sakit setelah sebelumnya mengigil hebat diselingi demam. Beliau sampai nggak sanggup jalan dan harus saya akod (apa ya bahasa Indonesianya? Gendong di punggung?). Beliau anti dengan rawat inap, sehingga membuat saya membohonginya dengan pura - pura mau bawa beliau pulang ke rumah mertua, padahal ke rumah sakit. Hehe.

Selepas beliau sehat, alhamdulillah, kami bisa pulang kembali ke rumah dan bersiap menjalankan Ramadhan.

Saya ketakutan duluan, dari yang sudah - sudah, saya nggak kuat shaum Ramadhan. Iya. Nggak bisa full dengan kuat. Badan saya akan sangat lemas dan gemetar hebat, bahkan tekanan darah pernah turun sampai 60/40 yang mengakibatkan saya harus masuk kamar rawat inap di malam takbiran beberapa tahun yang lalu.

Tahun ini saya bertekad mantap untuk menunaikan shaum tanpa batal selain karena haid. Ketakutan saya itu terjadi di hari ke - 4 puasa (yup, baru 4 hari!) dan setelah lewat dua pekan puasa. Saya lupa, pokoknya tanggal beberapa belas Ramadhan. Hampir mau batal, karena yang tanggal beberapa belas ini sampai membuat saya nggak bisa bergerak sama sekali, badan mengigil dan lemas banget dalam kondisi sendiri di kosan. Tapi saya paksakan, dengan niat, kalaupun saya harus meninggal karena fisik yang drop, toh saya meninggal dalam keadaan shaum. Lagi nurut sama Allah. 

Alhamdulillah setelah hampir 5 jam terkapar dan mengap mengap nggak bisa bergerak saya kuat sampai maghrib dan berbuka dengan nangis haru. Huhu... 

Oh ya, awal Ramadhan ini juga dibuka dengan bapak mertua yang masuk rumah sakit karena harus operasi tumor lunak di seluruh rongga perutnya. Hasil USG menunjukkan ada 12 tonjolan yang harus diangkat. Hal ini membuktikan bahwa Bapak adalah orang yang kuat juga. Beliau ngga ngerasa - rasa sakit itu sampai akhirnya ada 12 benjolan. Ugh.

Alhamdulillah, bapak udah sehat. 

Lanjut Mama saya yang gusinya bermasalah. Bengkak banget, curiga behel - nya yang bermasalah sih. Kemudian setelah itu, drama saya di hari belasan Ramadhan itu terjadi. 

Lebaran, semua baik - baik saja. Hari H, seperti biasa kami ke Ciwidey, ke rumah Enin. Berkumpul di sana. Di perjalanan pulang, saya ngerasa capek banget dan tertidur. Sesuatu yang jarang banget terjadi karena saya biasanya nggak pernah mau kehilangan momen lihat pemandangan kiri dan kanan di perjalanan. 

Saya pulang ke Kopo, ke rumah mertua, karena barang - barang saya dan suami masih di sana setelah menghabiskan malam takbiran semalam. Begitu sampai rumah, ibu mertua ngajak ngobrol dan keponakan saya yang lucu ngajak bercanda tapi saya nggak begitu baik merespon. Saya bersandar pada kulkas, lemas, dan ngantuk sekali. 

Jam 17.00, suami ngajak saya ke lantai dua, kamar (transit) kami, untuk istirahat. Nggak sampai semenit kepala nempel ke bantal, saya tertidur. 

Jam 18.45, suami membangunkan saya untuk shalat Maghrib. Sudah dibangunkan dari tadi tapi saya nggak bergeming. Saya turun untuk berwudhu dengan gontai. Kepala berat. Sangat lemas. " Be, habis Isya kita pulang, ya. " ajak saya pada suami, beliau mengiyakan. Dengan memaksa, saya dan suami izin pulang ke Padalarang pada mertua. 

Di Padalarang, saya masih bisa mandi dan sedikit bebersih rumah. Suami saya terlelap begitu saja di tempat tidur. Beliau kelelahan sekali. Saya nggak selelah itu karena memang sudah tidur dulu sebelum pulang, kan. Setelah semua beres pun saya masih bisa memanaskan air dan menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk suami, plus mijitin punggungnya sampai beliau tertidur. Nggak ada yang aneh sama sekali sampai besok sorenya...

Setelah menghabiskan hari kedua lebaran dengan istirahat, kami berangkat ke Mama saya, ke Dago, karena besok pagi - pagi sekali kami mau pergi ke Garut untuk kembali kumpul keluarga. Baru seperempat perjalanan, saya bilang ke suami, " Be, dingin ya. " beliau bilang nggak sedingin itu. Biasa aja. Tapi yang saya rasakan, dinginnya mengigit banget. Setengah perjalanan ditempuh, saya mulai merasa pandangan saya berkunang - kunang. Pening dan pengen ngajoprak aja rasanya. Pengen terkapar di jalan.

Sampai rumah, setelah salim ke mama, saya langsung minta adik buatin teh manis panas karena dia sedang ada di dapur. Lalu saya ke kamar. Rebahan tanpa buka jaket, kaos kaki, dan jilbab, kemudian menyelimuti badan dengan dua selimut, yang mana nggak terasa hangat sama sekali. 

Keluarga mulai panik dan akhirnya membantu saya melepas jilbab. Shalat Maghrib dan Isya saya lakukan sambil rebahan dengan kondisi mengigil hebat. Ujung jari sampai terasa kaku banget. Saya merasa, itu saat terakhir saya. Dihantui kematian sejak sakit di pertengahan Ramadhan, entah kenapa rasanya usia saya nggak lama lagi (Pekan terakhir Ramadhan, ketika tidur siang, lagi - lagi saya mimpi dicabut nyawa. Menyisakan perih yang luar biasa di seluruh badan dan kerasa banget walau sudah terbangun).

Jam 21.30, saya terbangun dengan kondisi demam tinggi. Berbalik dengan yang tadi. Saya pengen ke toilet. Suami saya memeluk saya dari belakang sambil menggiring saya ke kamar mandi karena kami nggak punya pispot. Orangtua dan adik saya menonton saja, mereka bilang, toh udah ada suaminya. Hihi. Kebayang lagi sensasi rasa mimpi meninggal yang beberapa kali saya alami hingga kemudian saya bilang sama suami, " Be, kalo w ada salah, w minta maaf ya... " dan beliau jawab " Ngaco ah! "

Demam naik turun sampai keesokan harinya, saya ditinggal orang rumah ke Garut menyisakan saya dan suami di rumah. Berdua saja. Beliau masih panik dan terus ngajak ke dokter. Sejak semalam sudah menawarkan untuk opname saja, tapi saya nggak bisa menjawab ketika beliau nanya beberapa kali, " Mau ke rumah sakit, nggak? "

Hari itu rencananya kami ke Garut tapi nyatanya qadarullah kami harus ke klinik. Suami saya pamit sebentar mau isi bensin sebelum antar saya berobat (jaraknya deket dari rumah) dan berkali - kali bilang, " Diem (rebahan), nggak usah ngerjain apa - apa! Tunggu. Adi nggak bakal lama. " tapi saya bandel, saya tertatih ke kamar mandi, mandi air dingin. Sensasinya nggak enak banget, tapi saya takut diri saya seperti di mimpi itu dan kalau memang itu terjadi, saya pengen kondisi saya sudah bersih... :(

Diagnosa dokter Ratna (dokter yang ramah dan anggun sekali dari klinik Kimia Farma Sulanjana. Semoga Allah selalu menyertainya) adalah Infeksi virus karena daya tahan tubuh drop. Saya cuma disuruh bed rest saja. Diagnosa yang sama seperti ketika suami harus opname sebelum Ramadhan dulu. 

Hari kedua, ketiga, kok nggak membaik juga. Nggak lemes lagi tapi nyeri di kepala begitu luar biasa dahsyatnya. Pengen nangis tapi nggak bisa. Akhirnya suami memutuskan untuk membawa saya ke rumah sakit walaupun akhirnya atas saran mertua, saya dibawa ke dokter keluarga dulu aja. Saya nggak bisa ngontrol panik juga karena mikirnya udah jauh ke Sakaratul Maut, lagi - lagi karena mimpi itu. 

Ternyata... 

Voilla! Tekanan darah saya saat itu hanya 95/60. Apalah... 

Wajar semuanya serasa nggak enak. Kesehatan turun. Dokter Dendi (Semoga Allah selalu menyertainya) nyuruh saya makan yang asin - asin dan manis - manis (padahal dua tipe ini adalah favorit saya, kok bisa masih kurang aja ya?). Ketika saya mengeluhkan insomnia saya, dokter nggak berani ngasih obat tidur yang saya dambakan karena tekanan darah saya yang rendah. Jadi cuma disuruh jangan stress dan dikasih Braxidin saja. 

Kemudian saya menjadikan " Handling stress and sleep better " sebagai tambahan resolusi 2018. Doakan aku, yaa! *ala ala Takeshi Warrior*

Saya berfikir, sejak menikah, hidup tuh indah indah aja. Rizki lancar banget, kerjaan lancar, semuanya lancar. Ternyata ujiannya ada di kesehatan. Saya dan suami jadi lebih sering sakit. Semestinya ini jadi alarm buat kami, ya. Saya bertekad untuk lebih menjaga kualitas makanan yang kami konsumsi demi kesehatan kami berdua.

Terlepas dari kapan dan bagaimana saya meninggal, saya memutuskan untuk kembali ke semestinya aja. Mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan bekal yang sebanyak mungkin. Mungkin ini cara Allah negur saya, cara Allah ingin saya berubah. Ingin saya lebih baik dan mungkin juga ini adalah hidayah dariNya yang harus saya camkan baik - baik. Karena kematian nggak mengenal waktu dan kondisi.  

Insya Allah. 


PS : Rencana liburan ke Burangrang harus batal lagi karena Aa harus jagain w yang tiba - tiba sakit. Allah luar biasa baiknya ngasih kamu ke aku. Makasih, sayang. Insya Allah kita jadwalin lagi. I Love You. 

No comments:

Post a Comment