Saturday, March 17, 2018

Trip Ke Gunung Padang Cianjur (1)

Assalamualaikum. 

Selamat siang. 

Hari terik banget ini. Katanya karena efek fenomena alam Cincin Matahari tanggal 13 Maret 2018. Ada juga yang bilang tanggal 31 Maret 2018. Nggak banyak sih yang saya baca soal ini. Tapi memang menyengat banget. Saya bersyukur tinggal di dataran tinggi yang walaupun masih tetap panas, tapi nggak separah kalo di dataran rendah. Bisa pecah nanti Adek, Bang. Nggak dilapis Pyrex >_<

Semalem keingetan masih nyimpen beberapa foto saat jalan - jalan ke Situs Gunung Padang Cianjur tanggal 02 Desember 2016 lalu. Yah, udah lebih dari setahun, memang. Tapi semoga bisa sedikit membantu, ya. Itu kunjungan ketiga saya, setelah kira - kira 25 Desember 2015 dan pertengahan tahun 2016 (yang ini nggak yakin kapan, sih. Lupa.) ke sana bersama teman - teman Napak Tilas Community. Berkesan banget sih, kalo menurut saya. Soalnya seru.

Sayangnya, foto - foto kami udah nggak ada di HP dan hard disk. Soalnya laptop dan  HP lama rusak. Ngga selamat data - datanya T_T

Yang bersisa dari dua trip pertama cuma tiga, sih. NIh fotonya...

Trip kedua. Badan super lelah karena high effort ke Curug Cikondang sebelumnya.

Trip pertama

Trip pertama

Masih dekil dan kurus banget. Hihi. Komentar pertama suami adalah " Yang, kecil gitu. " dan saya pura - pura nggak ngerti maksudnya apa :p

Jadi, saya mau cerita trip ketiga saja. Awalnya temen dari Bekasi menjemput saya ke Bandung. Kemudian kami menjemput lagi satu orang teman di Kota Baru Parahyangan. Kami nunggu di rumah beliau sambil lihat aksi damai 212 yang live di TV. Masya Allah...

Berangkat dari Kota Baru Parahyangan tuh sekitar jam 11 siang. Dari Padalarang ke Cianjur sih deket, ya. Sekitar dua jam perjalanan dan kami shalat Dzuhur di jalan. Mudah juga jalannya karena tinggal ngikutin jalan raya aja. Nggak banyak belok sana sini. Seingat saya, kami baru berbelok ke sebelah kiri setelah menemukan tanda ini nih :

Nyempil dan udah ngeletek :(
Dari pinggir jalan ke lokasi masih cukup jauh. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warung Kondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Tapi nggak usah khawatir, di sepanjang perjalanan banyak penunjuk jalan menuju lokasi. Kita tinggal ngikutin aja. Pemandangannya juga bagus. Udaranya adem. 




Saat itu sih kami masih menemukan kondisi jalan yang kurang bagus. Berlubang di sana sini. Semoga sekarang mah udah bagus, ya. Jalan seperti foto di atas juga diselingi rumah - rumah penduduk, masjid, dan lainnya. Semakin dekat ke lokasi, suasana semakin hijau. 

Dari Stasiun Lampengan masih berjarak 6 Km

Makin dekeet....

Dekeet...

Belokan terakhir
Daaan setelah kegojlok di beberapa ruas jalan yang berlubang, alhamdulillah, kami sampai. Begini gerbang masuknya : 


Dari pintu masuk ini, kalau pakai motor masih bisa dilanjut ke atas pakai motor. Sampai tepat di bawah tangga naiknya, sedangkan mobil atau bis hanya bisa sampai sini saja. Pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki atau naik ojek yang tersedia di sana. Dari info yang saya dapatkan, kita juga bisa melanjutkan pakai ojek sampai puncak Gunung Padang dengan rute berbeda dari ini atau sekedar sampai tempat pembelian tiket saja. Opsi pertama, biayanya Rp. 50.000 sedangkan opsi kedua Rp. 5.000 saja. Kami memilih opsi kedua. Biar berasa perjuangannya. He he...

Oh iya, saya nggak tahu rute kendaraan umum. Jadi mungkin naik bis aja yang ke arah Cianjur atau Sukabumi, terus turun di Minimarket samping tanda penunjuk arah yang nyempil di foto di atas. Tapi ke dalamnya nggak tahu naik apa lagi. Seingat saya nggak ada kendaraan umum ke sana. 

Setelah makan, kami mencari ojek dan kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 200 m sampai kaki Gunung Padang. 

Parkir motor di sini.

Beli tiketnya ada di sebelah kanan spot di atas. Harga tiket saat itu kalau nggak salah Rp. 2.000 - 3.000 aja. Mohon maaf banget saya lupa tepatnya berapa. 

Beli tiket dulu
Di sebelah kanan loket tiket, ada kabin Pusat Informasi Gunung Padang. Di depannya tersedia sekelompok pemain karawitan yang memainkan musik tradisional Sunda. Duh, ini tempatnya adem plus diiringi musik Sunda, sip mantep. 
 

Seperti apa cerita yang kami buat di sana? 

Insya Allah nyambung ke chapter 2, yaa!

No comments:

Post a Comment