Saturday, March 17, 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (4)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Mauuuu ngelanjutin cerita Papandayan (3).

Panjang, yak? Haha. Ini part terakhir. Insya Allah. 

Malam yang seram dan dingin sudah berlalu. Subuh tiba. Saat keluar dari tenda, rasanya damai banget. Beda dengan semalam. Dengan bantuan head lamp, kami mendapati plastik sampah kami sudah terkoyak dan terburai. Duh...

Alhamdulillah, penjagaan Allah memang luar biasa. Kami ke kamar mandi untuk berwudhu. Bahkan jam 04.00 ke toilet saja sudah antri, tuh. Malah ada suara mandi di balik salah satu bilik. Uyuhan ~_~
Selepas shalat subuh dan tilawah, suami mengajak saya jalan - jalan pagi. Beliau mau mengajak saya lihat sunrise di hutan mati. Perjalanannya nggak jauh, mungkin 30 menit dari tenda.

Nggak cuma kami yang ke sana, ada serombongan pendaki tepat di belakang kami. Hanya saja, mereka terus ke atas. Tidak seperti kami yang puas - puasin foto di hutan mati :p




Beda ya, antara saya yang fotoin dan suami yang fotoin. Hahaha! 


Beda juga, antara yang tidur nyenyak dan yang gak bisa tidur :D
Setelah puas foto - foto, kami kembali ke tenda untuk sarapan. Tapi sayangnya, tapi senengnya juga, suami menyuruh saya tiduran dan beliau memasak sarapan. Haha!





Sekitar jam 09.00, kami selesai beres - beres dan bersiap turun gunung untuk pulang. Rutenya ke Hutan mati lagi, seperti saat kami lihat sunrise tadi. Berkesan banget, walaupun nggak dapat momen lautan awan yang jadi iming - iming suami ke saya :p  

copyright : Pak Suami :p


Perjalanan bulan madu impian yang ngga berani saya impikan, sebenernya. Tapi menikah, membuat saya mengalami begitu banyak hal baru. Nikahilah orang yang membantumu menjadi orang yang lebih baik. Begitu, bukan? 


Selamat menjelajah!





No comments:

Post a Comment