Saturday, March 17, 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (3)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Jadi, kali ini mau melanjutkan cerita di Papandayan (2)

Memang benar yang orang bilang. Ujian banget itu ketika hari mulai gelap. Saat itu, saya yang newbie bener - bener menggantungkan diri ke Allah dan suami. 

Ketakutan sepanjang malam dan benar - benar merindukan matahari terbit. Pengalaman pertama yang nggak saya bayangkan sama sekali saat di Cijanggel. Di sana tidur pakai bivak aja. Nggak pakai jaket. Kepala terbuka gitu aja. Awalnya mau rebahan gitu aja di atas rumput, dong ~_~ Nggak kebayang ada hewan di situ. Ular, mungkin. Atau yang paling mungkin, anjing liar. Bisa aja, kan? 

Para santri yang mengikuti program Santri Siap Guna diwajibkan menjalani Solo Bivak di ujung program. Tujuannya, katanya untuk menguji keyakinan kita sama Allah. Biar manteng keyakinan kita sama Allah. 

Dan itu benar adanya.
Setelah sore harinya shock melihat babi besar ramai - ramai dikejar anjing, setelah maghrib, saat kami selesai shalat, di bagian belakang tenda terdengar suara babi oink oink dan menyundul - nyundul dinding tenda dengan moncongnya. Saya mulai ketakutan. Suami saya kaget lalu meraih tongsis dan memukulkannya ke moncong babi di balik tenda. Nggak lama kemudian, gonggongan anjing - anjing penjaga mulai meramaikan malam.

Saya nggak bisa apa - apa. Takut. Pengen pulang T__T

Suami saya menenangkan saya dan saya percaya padanya. 

Di luar sana, para pendaki masih ramai berkumpul. Musik dan nyanyian masih jelas terdengar dari beberapa titik plus pengeras suara dari pos. 

Ramai. 

Tapi takut. Hehe. 

Babi itu datang lagi, dan lagi. Terus, dan terus. Para anjing bersiaga dan beberapa kali mengejar babi itu sambil didampingi bapak penjaga. Tapi fikiran saya masih tetap ingin pulang :p

Malam memasuki waktu isya. Setelah saya dan suami menunaikan shalat, kami beres - beres biar ada ruang untuk tidur nanti. Tapi tak lama kemudian, gangguan babi itu semakin pendek durasinya. Bisa sekitar 10 menit sekali! Ternyata bukan cuma babi itu. Anjing penjaga juga ngendus - ngendus tenda kami. Suara nafasnya yang memburu membuat saya kaget. Udah gitu itu hewan dua teh massive - nya di sisi tenda tempat saya buka lapak tidur T_T

Saya shocked banget. Udah berdoa terus weh, jangan sampai kami kenapa - kenapa, takutnya nanti nggak diizinkan lagi sama orangtua. Sementara udara semakin dingin. Suami saya pernah cerita, suatu ketika beliau ke Papandayan, beliau mendapati tendanya dan lingkungan sekitar ditutupi es. Embunnya terkondensasi oleh udara yang mengigit. 

Karena kami kedinginan, Sambil duduk dan ngobrol, suami saya memanaskan air. Beliau mau bikin air jahe, katanya. Pakai gula merah. Terfikir juga, kan hewan - hewan itu mendeteksi lewat bau, ya. Bisa saja aroma indomi yang tadi kami masak masih menyeruak dari dalam tenda. Jadi kami coba netralisir dengan bikin air jahe. Biar aroma menggoda dari indomi nggak mengusik mereka. 

Nah dari situ mulai tenang. Padahal belum jam 21.00. Hanya sesekali saja dan suara - suara itu hanya melintas saja. 

Kemudian dia datang lagi. Babi itu. Duh, mungkin bau jahe yang kami buat sudah hilang. Saya berinisiatif mengoleskan minyak kayu putih, dan entah benar atau kebetulan saja, mereka nggak ganggu lagi. Benar - benar hanya lewat. 

Kami rebahan dalam sleeping bag masing - masing. Suara angin yang menderu di atas kami seperti phoenix yang terbang saja. Kadang seperti kita tuh lagi tidur di landasan pesawat, dengan pesawat - pesawat yang lepas landas. 

Saya nggak berhenti berdoa plus mengigil. Padahal sleeping bag saya sudah lebih tebal dari punya suami. " Lemak Aa lebih banyak jadi nggak bakal terlalu mengigil ", katanya. 

Tapi di saya nggak ngaruh. Padahal di laboratorium, saya yang paling kebal dingin. Jaket yang saya pakai nggak cukup tebal, sih. Nggak sampai 30 menit, saya sudah bisa mendengar dengkuran suami dengan jelas ~_~

Sungguh, rasanya itu malam terpanjang yang bisa saya ingat. Pengeras suara dari pos yang memutar musik sudah dimatikan. Menyisakan suara desingan angin, oink babi, gonggongan anjing, dan beberapa titik tenda yang masih ngobrol dan nyanyi diiringi gitar. 

Semuanya benar - benar senyap di jam 02.00 dini hari. Saya bisa tidur setelah menempelkan koyo tepat di tengah punggung, tapi terbangun hampir setiap 5 - 15 menit sekali.

Nyiksaaaa! Ya Allah... :(

Tapi terasa, di saat kondisi menakutkan seperti itu, justru kuat banget inget ke Allah teh. Beda dengan kalau lagi biasa saja. Apalagi lagi happy happy aja. Maafin kami, Ya Allah :(

No comments:

Post a Comment