Saturday, March 17, 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (2)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Dago terik. Padahal beberapa menit yang lalu hujan turun. Cuaca belum menentu. Jaga kesehatan yaa, temen - temen!

Kali ini saya mau melanjutkan cerita Papandayan (1).

Jadi, setelah kami mulai mendaki, saya masih kuat kok naiknya. Setidaknya sampai 10 - 15 anak tangga pertama. Asli, payah banget nih fisik. Ngos ngosan. Beda sama suami yang kelihatan anteng aja naiknya. Beberapa kali suami menawarkan buat bawain tas, istirahat dulu, minum dulu, dan lainnya. Beda banget deh naik sama suami tuh. Ayok naik gunung dengan yang halal :p

Cuaca lagi cukup panas. Lumayan panas lah. Terbayang - bayang nasi padang yang kami beli sebelum memasuki wilayah Papandayan. Rencananya itu buat makan nanti malam :D
Yang saya sesalkan, banyak bekas - bekas vandalisme. Ameh naon atuh, ameh naon? :(

 


Kami mulai mendaki sekitar pukul 11 siang. Terusss berjalan (beberapa kali istirahat sih :p) sampai akhirnya tiba di persimpangan yang ke kiri itu ke wilayah konservasi Tegal Panjang, dan ke kanan ke Pondok Saladah. Ada mushala di situ. Demi apa lah, ambil wudhu itu godaan banget karena airnya dingin banget :D

Suami saya mengajak ngobrol bapak penjaga pos di mushala situ. Ternyata biaya masuk yang mahal kali ini sudah masuk asuransi, penyediaan ambulance kalau ada yang nggak kuat mendaki, pengelolaan fasilitas umum kayak toilet dsb, juga yang suami saya rasakan kalo dibandingin dengan sebelum dikelola swasta ini, sekarang mah merasa lebih aman karena ada anjing penjaga yang menjaga para pendaki dari babi hutan.

beraaat :D
Oh iya, setelah tangga - tangga pijakan itu menemui pangkalnya, kami tiba di pos 09. Itu tuh ada warung kecil yang banyak disinggahi para pendaki. Mereka pada jajan pop mie, air mineral, gorengan, atau sekedar istirahat.

Jika belok kiri ke arah Hutan Mati, sebenernya lebih dekat dan mudah. Tapi itu track khusus turun gunung. Untuk naik, kami harus memutar lebih jauh. Saya lega, karena berpapasan dengan banyak pendaki perempuan yang berjilbab syar'i bahkan pakai rok. Bahkan ada beberapa yang pakai cadar juga. 

Suami saya meyakinkan, " Tuh, yang lain juga pakai rok pakai cadar bisa naik gunung. " Saya nyengir. Hehe. 






Seru! Haha. Memang banyak orang, sih. Banyak yang bawa anak kecil juga. Walaupun saya nggak yakin apa untuk menginap atau nggak. Karena nggak terlihat bawa bekal banyak barang. Sebagai pendaki abal yang biasa nyari tempat sepi, segini terlalu ramai. Tapi positifnya, kalau ada apa - apa bisa mudah. Nggak nyasar sendiri tapi bisa tanya dan bisa saling menyemangati.

Lewat sungai kecil. Namanya Sungai Cibeureum.
Alhamdulillah, waktu sudah melewati waktu ashar ketika kami sampai di Camp Pondok Saladah. Termasuk lama di perjalanan mungkin, ya.  Secara saya baru pertama naik sejauh ini dan banyak jeda tadi. 

Kami lapor di pos terakhir sambil menyerahkan form yang kami isi di pos tiga tadi untuk kemudian dicatatat dalam log book bapak penjaganya. Sebagai bukti bahwa kami sudah sampai dengan selamat. Check in, kalau hotel mah. Di situ kami diberi patok kayu bernomor sebagai tanda. Jadi kalau ada apa - apa, bapak penjaga tinggal mengecek nama dan nomor patok kayunya, lalu nyari tenda dengan nomor tersebut. Lebih praktis. Seingat saya, patok kayu kami bernomor 19. 

Kami keliling Pondok Saladah mencari spot terbaik menurut kami. Tapi sayangnya spot yang saya mau sudah ditempati tenda lain. Jadi kami muter lagi dan kami memutuskan membuat tenda diantara pepohonan saja. 



Kami berwudhu di toilet umum nggak jauh dari tenda. Bersih. Nggak berbau. Airnya, jelas jernih. Dingin banget pula. Udah gitu, ada penjaganya. Saya merasa aman karena setidaknya menghindari hal - hal yang tidak diinginkan ketika saya dan suami berada dalam bilik toilet masing - masing. 

Kami shalat berdua dalam tenda. Karena mushala jauh. Harus ke bawah lagi. 

Setelah itu, saya diajak suami ke padang Edelweis. Saya bersemangat banget, karena belum pernah lihat :P


Disuruh pose begini sama Aa :))
Tapi sebenernya saat itu kabut udah tebal. Jarak pandang jadi terbatas juga. 




Saat foto - foto di padang Edelweis ini, saya diminta jalan terus ke depan oleh suami. Tapi di balik gundukan - gundukan itu saya lihat kuping anjing. Dia lagi rebahan gitu di belakang sana. Akhirnya saya foto di situ aja. Nggak jadi terus maju. Hehe.

Kemudian, setelah foto - foto, saya dan suami memutuskan kembali ke tenda, untuk makan. Kami cuma isi perut saat sarapan tadi. Udah terbayang - bayang nasi padang yang dibeli tadi siang. Hihi.

Suami saya masak air untuk nyeduh kopi saat saya mempersiapkan lapak buat makan. 





Kami menghabiskan waktu sore dengan berkeliling, makan dan ngemil. Rasanya seneng banget. Eh, sebelum makan itu, saat kami mau masuk tenda, terdengar gonggongan anjing dari spot kami berfoto di padang Edelweis tadi. Saat kami menoleh, tiga ekor anjing sedang mengejar seekor babi hutan yang ukurannya tiga bahkan empat kali lebih besar dari anjing - anjing itu !!! 

Saya shocked dan suami sibuk menenangkan. " Aa pernah lihat Macan Kumbang waktu di Ciremai. Bertiga sama temen - temen. Pertamanya lihat kayak anak kucing lewat, taunya di belakangnya ada macan gede. " 

Itu sih bukan hiburan, a...

Ketenangan kami setelahnya diuji banget deh. Nyambung ke part 3, insya Allah. 

:)

No comments:

Post a Comment