Friday, March 16, 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (1)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Sebenernya ini adalah cerita bulan Desember 2017, saat kami memutuskan bulan madu setelah drama pengantin - baru - dikecoh - tespek. Tespek saya hasilnya dua garis dengan samar di salah satunya. Baperlah, saya hamil. Rencana semula untuk berbulan madu batal. Karena memang suami sangat bersemangat untuk segera punya anak. 

Tapi ternyata nggak lama setelah kalimat " Ya Allah, saya nggak siap. " saya ucapkan dalam doa, saya haid. Memang rasanya belum siap ketika di bulan kedua pernikahan, saya sudah hamil. Mengenal suami saja belum banyak, karena kami memang cuma dekat 5 bulan saja sampai akad nikah teh. Untuk menghibur, suami akhirnya mengajak saya berbulan madu sesuai rencana awal kami. 

Saat itu cuaca lagi nggak menentu. Lagi musim siklon Dahlia. Saya berfikir ulang apa akan baik - baik saja kalau jadi pergi? Tapi suami berkeras dan meyakinkan kalau semua akan baik - baik aja. Papandayan adalah gunung yang mudah didaki, katanya. Nggak berupa hutan belantara dan sudah banyak personil yang mengelola. Nggak perlu khawatir. 

Mengingat pengalaman - pengalaman beliau di dunia pendakian, saya memercayakan diri sepenuhnya saja. Kami baru mengabari (bukan meminta izin) pada orangtua saat benar - benar mau berangkat. Haha. Memang benar adanya. Sesuai dugaan, orangtua saya nggak mengizinkan. Cuaca lagi nggak bagus, kata mereka. Tapi suami sudah yakin pergi. Jumat jam 17.00 kami berangkat. Prediksi, insya Allah hari Minggu sore sudah di Bandung lagi. 

Sejujurnya, saya pun takut untuk pergi. Tapi beginilah ya namanya sudah bersuami. Patuh pada suami walaupun sebenernya pengen patuh sama Papa. Haha.


Jadilah kami berangkat  tanggal 2 Desember 2017, pukul 5 sore. Cuaca mendung. Saya semakin khawatir tapi suami malah semakin bersemangat. 



Habis Isya kami sampai di Tarogong. Sesuai rencana, malam ini nginap di rumah bibi dulu. 

Besoknya, hari Sabtu itu, kami bersiap pergi sehabis sarapan. Suasana Garut yang tenang dan asri bener - bener bikin betah. Suami sampai berat mau beranjak dari kursi dan saung disamping kolam ikan depan rumah bibi. Semoga suatu hari nanti kami bisa punya rumah asri seperti itu. Aamiin...

Saya semakin berdebar, tapi udah nggak bisa mundur. Tetap harus berangkat. Saya memang suka ke gunung dan hutan, tapi nggak untuk camping karena masih ngumpet - ngumpet dari orangtua. Jadi pergi pagi, sore atau malam sudah harus ada di rumah lagi. Dan lagi saya nggak ke gunung tempat wisata tapi gunung yang terkenal dengan sejarah atau mitos mistisnya. Sehingga pendakian kali ini begitu berbeda. 

Agak kaget karena bayangannya Papandayan itu rindang tapi ternyata bagian bawahnya dibilang cukup gersang. Iya da tambang. Heheu. 




Tiket masuknya cukup pricey. Karena sekarang sudah dikelola oleh swasta. Harga tiket masuknya Rp. 30.000 per orang. Kalau mau camping, tambah lagi Rp. 35.000 per orang per malam. Ini belum termasuk uang bawa masuk kendaraan roda 2 (saya dan suami naik motor) Rp. 17.000, dan di pos kedua dipinta Rp. 15.000 lagi untuk parkir. Harga tiket yang mahal ini pernah juga dibahas di page ini. Di cek aja ke situ biar makin jelas. 

Dari tempat parkir, kami jalan kaki menuju pos ketiga. Nggak terlalu jauh sih, nggak sampai 1 km. Di situ, kami mencatatkan kedatangan kami dan juga detilnya. Jam berapa kami mulai naik, berapa orang anggota tim, nomor kontak yang bisa dihubungi bila keadaan darurat, juga rencana turun jam berapa. Kami mengisi ini di form khusus, yang setelahnya dicatat oleh bapak penjaga posnya. 

Bismillah... Kami mulai mendaki. Hati saya masih ragu. Tapi melihat semangat suami, rasanya jadi bersemangat juga. 



Dari pos ketiga menuju tangga mulai pendakian (bentuknya udah ada tangga - tangga batu buat memudahkan pijakan), jalannya udah enak. Udah di aspal. Pemandangan kiri dan kanan juga bagus. 

Kami punya foto lebih banyak dan lebih lengkap di handphone saya yang lama. Sayangnya HP itu rusak dan datanya hilang semua :(

Bagi saya yang nggak suka tempat terlalu ramai, naik di sini tuh pabeulit sama yang jalan - jalan. Karena area camping memang jauh di atasnya lagi. 

Terus, yang masih jadi kendala bagi saya memfoto banyak spot, rasanya nggak menikmati perjalanan. Dikit - dikit ambil HP. Belum nemu caranya sih, gimana jadi travel blogger. Hahaaha...

Apakah pendakian ini berhasil? 

Kita lihat di part selanjutnya :)


 

1 comment:

  1. Perjalanan yang seru mbak, ku tunggu cerita selanjutnya yaa

    ReplyDelete