Saturday, March 10, 2018

Orang Yang Tepat

Assalamualaikum. 

Selamat sore. 

Alhamdulillah, akhirnya ngetik di laptop juga. Ngetik di HP emang praktis ya, tapi kurang nyaman. Akhirnya hari Jumat, nih. Rasanya nunggu banget pekan ini selesai. Pekan yang rasanya berat dan musingin. Sempat makin drama juga karena kabar gembira dari Pak Dokter Kandungan pekan lalu berubah jadi kabar duka. Efek gelisah, katanya. Disaat seminggu itu lagi dikasih penguat kandungan, saya malah nggak bisa ngontrol stress (bukan karena hormon ibu hamil, soalnya lagi ga hamil pun reaksinya mungkin akan sama juga). Jadi harus kembali bersabar menanti tanda - tanda si junior hadir. 

Hati makin patah ketika melihat suami juga jadi nggak ceria. Beliau masih tetep berusaha ngehibur saya, tapi ya, beliau mah ga bisa nyembunyiin perasaan. Sedih jelas tergambar. 

Kebayang perasaan orangtua, keluarga, dan terutama suami. Beliau pengen cepet punya anak. Orangtua kami udah excited menyambut. Ngerasa nggak berguna banget karena ngga bisa jaga kandungan. Huhu...

Ikhlas menjadi satu - satunya yang bisa dilakukan.


Ah, kali ini bukan mau bahas itu, sebenernya.  Tapi mau sedikit mengutip obrolan saya dengan seorang sahabat, soal hal lain.

Jumat lalu, saat liburan imlek, saya ikut temen - temen Satguna menyelenggarakan Tanginas. Salah satu jadwal rutin Satguna. Nggak banyak yang bisa saya lakukan di sana, tapi berada di tengah orang hebat, selalu dapat menjadi booster diri yang hebat juga.

Angkatan 7 hanya saya dan Teh Umi. Beliau anggota muda yang sangat dewasa. Saya suka merhatikan dan menyimak kata - kata beliau, karena berbobot banget. 

Obrolan kami dimulai ketika tiba - tiba Teh Umi berkata," Teh Wi, itu tuh, yang maju, dia atlet berkuda tingkat nasional. "

Saya menoleh ke arah yang ditunjukka oleh Teh Umi. Anak gadis bergamis hitam, dengan kerudung biru tua. Auranya bagus. Dia juga tampak tenang dan terkendali saat maju, ngantri giliran memadamkan api, saat mendekati sumber api, dan saat menutup kobaran dengan karung basah (Ini lagi simulasi kebakaran. Setiap anak diminta mencoba memadamkan api dalam drum dengan karung basah satu per satu). 

" Mereka kelas 10, kan? Hebat ih, umur segitu udah atlit nasional " Ujar saya takjub. 

" Iya, sama orangtuanya udah dilatih dari kecil. Tuh, keliatan kan gimana caranya ngatasin kepanikan. Keliatan banget lebih dewasa dari temen - temennya. " Lanjut Teh Umi. Saya menoleh ke arah anak yang lain. Ada yang jingkrak - jingkrak, ada yang berteriak, ada yang melakukan keduanya. Seulas senyum tersimpul. 

" Saya selalu iri teh, sama yang dewasa gitu di usianya yang masih muda. Dia bisa menjadi muslimah yang faham di usia muda. Enak banget. Pasti bersyukur banget di posisi itu. Saya mah sedih sendiri, kenapa di usia seperti dia saya nggak bisa begitu, ya? Hehe. " 

Teh Umi tersenyum. " Ya, orang kayak gitu ketemu orang yang tepat, teh. Kalau teh Uwi sama aku juga gitu dulu, ketemu orang yang salah dulu. Niru contoh yang ngga bener apalagi malah ngga ada yang bisa dicontoh ketika kita pengen ngelakuin sesuatu. " 

Saya menunduk. Tepat sekali kata - katanya. 

" Aku juga dulu gitu, pengen berubah tapi nggak tahu harus gimana. Belajar ke siapa, nyontoh siapa. Tapi aku sih terus berusaha. Niatnya, kalau nanti ada orang kayak aku dulu, aku bisa bantu dan mereka nggak bingung harus lari ke siapa apalagi ke yang salah. " 

Ih. Kata - katanya itu loh. Kayak nancep ke ubun - ubun banget. Ya walaupun kita nggak bisa lagi seperti itu, kecil - kecil cabe rawit, tapi setidaknya kita bisa mendewasa dan bisa jadi 'orang yang tepat' bagi banyak orang. Contoh terbaik memang Rasulullah. Tapi dari mana seorang yang baru melangkah tahu, jika tidak dari orang yang menurutnya bisa membawanya ke figur terbaik itu? Googling lalu salah tafsir? Udah, gitu aja?

Saya larut dalam pemikiran sendiri. Justru kalau saya nggak bisa mengendalikan diri, selain merugikan buat diri sendiri, juga buat orang sekitar. Bisa saja, ketika misalnya ada orang yang sedang menjalani prosesnya untuk mencari 'orang yang tepat' tersebut, dia melihat kita yang nggak bisa mengendalikan diri ini dan kemudian malah jadi nggak mau hijrah. Nggak mau jadi orang religius. Ada? Ada. Dulu saya seperti itu. Lebih parah lagi, ketika perilaku buruk kita malah menjadi contoh bagi yang lain. Bukankah itu dosa yang terus mengalir ke kita?

Ketika kita memunculkan image islami dengan pakaian kita, maka perilaku pun harus mulai mengikuti. Bertahap saja. Belajar saja. Setidaknya, bagi wanita, suatu hari kita akan menjadi contoh pertama bagi anak - anak kita. Ya, ayah juga. Tapi madrasah pertama bukankah seorang ibu? Relakah kita bila anak - anak kita menjadi buih di laut karena mereka tidak memiliki tempat bertanya dan contoh yang tepat dalam kesehariannya? 

Mari menjadi ' Orang yang Tepat ' ^_^

No comments:

Post a Comment