Friday, October 20, 2017

Sudah Menikah

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Udah hampir sebulan ya, saya nggak posting. Sebenarnya sih banyak banget yang mau saya ceritakan. Tapiiii menjalani peran baru sebagai seorang istri itu nggak mudah, ya. Yup. Hari ini saya genap dua minggu menjadi seorang istri. 

Kefikiran sih, bikin label baru yang isinya kehidupan saya sebagai seorang istri. Haha.

Tulisan ini saya ketik dengan rasa yang berbeda. Biasanya sendirian, sekarang ditemenin sama sosok laki - laki yang saya gelari 'suami'. Yang keukeuh pengen tau, pengen baca, pengen liat saya ngetik. Pan jadi ge er yahhh >_< Judul aneh itu juga atas ide beliau. Haha.

Saya dan suami masih sama - sama belum merasa sudah menikah. Masih merasa lajang saja. Karena proses kami yang memang nggak saya - kami - sangka akan membawa kami sampai ke titik ini. Banyak pihak yang kaget dan nggak nyangka juga, saya akan berjodoh dengan dia. Dia akan berjodoh dengan saya. Karena memang, walaupun kami bekerja di bawah label yang sama, bisa dikatakan kami ini nggak pernah berinteraksi dalam pekerjaan. Apalagi di luar pekerjaan. 

Saling nggak merhatikan, nggak pedulikan, hingga akhirnya tangan Allah bekerja.
Yang nggak bisa saya abaikan pula (karena jujur, ini juga jadi salah satu bagian seru), ketika banyak orang terkaget - kaget dan nggak nyangka akhirnya saya yang selama ini anti pernikahan bisa memutuskan untuk menikah juga dan tanpa kabar apapun tahu - tahu sebar undangan. Semacam menjilat ludah sendiri, sebenernya. Saya juga nggak ngerti kenapa bisa mantep nikah sama beliau. Saat itu nggak ada perasaan apapun. Cinta, sayang, gak ada. Yang ada hanya satu : YAKIN.

Mereka bertanya, gimana prosesnya kok bisa sampe nikah?

Saya selalu menjawab dengan jawaban berbeda - beda. Haha! Abis, bingung atuh, jawabnya gimana. Semua terjadi nggak disangka - sangka. Jadi nggak saya nikmati dan saya perhatikan tiap detil prosesnya. Pokoknya kurang lebih seperti itu :p

Mungkin awalnya ketika saya masih diklat Satguna. Sebelum itu, saya berfikir bahwa menikah hanya sebuah ikatan legal untuk saling menyakiti saja. Buat apa harus repot ngurus anak orang lain (pasangan) bila akhirnya akan disakiti? 

Ngga, bukan. Bukan saya pesimis. Tapi itu realita yang sering saya temui di sekitar saya. Banyak pasangan di sekitar saya yang disakitin pasangannya. Ada yang diselingkuhi, tidak dinafkahi, KDRT, tidak diakui, disia - siakan, dan sejenis itu. Coba, sebelah mana indahnya?

Saya tahu kok, pernikahan itu separuh agama. Mitsaqan ghalidza. Tapi proses saya belum sampai mengimani itu. Baru sebatas tahu saja. Bodo amat. Pokoknya nikah itu menyakitkan. Titik.

Segalanya betul - betul berubah, sejak saya sering menyimak teman - teman Satguna 7 diskusi soal menikah. Saya bertanya pada mereka, apa sih yang membuat mereka segitu pengennya nikah? 

Apakah saya mendapatkan jawaban yang membuat saya yakin?

Tidak. 

Mereka masih menjawab dengan jawaban subjektif. Saya sangsi, ah. 

Tapi ya, bagi Allah mah mudah banget membalik hati saya. Saya hanya berdoa, " Ya Allah, Gimana caranya bikin Allah sayang sama saya, dan saya sayang sama Allah, akan saya lakukan. Termasuk menikah. Uwi percaya sama pilihan Allah. Uwi nurut. Bismillah, sami'na wa atho' na."

Mungkin itu adalah doa pertama saya setelah sekian lama nggak mau bahas jodoh sama siapapun, termasuk sama Allah. Bertahun - tahun udah nggak mau doa soal jodoh. Tapi da hati mah Allah yang menggerakan, kan. Tiba - tiba aja pengen doa itu. 

Nikah memang menakutkan buat saya. Tapi lebih takut kalau nggak diakui Rasulullah di akhirat nanti. " Nikah adalah sunnahku. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka tidak termasuk dalam golonganku. " (Al - Hadits, mohon koreksi redaksinya). 

Saat itu, saya masih punya pacar. Yup, saya pacaran sama yg onoh selama setahun lebih. Itu sih tapi putus nyambung. Tapi sekarang dididik di Daarut Tauhiid, jadi udah nggak boleh sama lagi sikapnya terhadap sesuatu yang nggak jelas baik nggaknya. Jadilah saat itu, saya tegas sama dia. Eh, nggak dapat jawaban. 

Duh, gimana ya, kan nggak mau kalo ngga jelas. 

Menjawab kegalauan, Allah nunjukin cara unik lagi. Ditunjukkanlah mana yang terbaik. Alhamdulillah, walaupun sakit, kami berpisah. Saya memisahkan diri. Saya memutuskan bahwa saya sangat pantas dapat yang lebih baik dari dia. Bersama orang yang dengan bersamanya, surga terasa lebih dekat...

Ihiw.

Nggak ada air mata. Nggak ada kebencian sama dia. Yang ada benci sama diri sendiri. Kok bisa, dijanjiin komitmen serius, dan percaya. Ditinggal lama dan percaya lagi ketika dia kembali. Ish! 

Hanya hamdallah dan istighfar yang terus terucap. Bersyukur dijauhkan dan mohon ampun atas semua kekhilafan. Entah ya, itu momen - momen yang rasanya saya pure pasrah dan percaya sama Allah. Satu fase yang super susah saya rasakan. Cuma modal inget terus kata - kata ustadzah Siti Sumarni, " Belajar husnudzan, wi. Sama Allah, sama diri sendiri, sama orang - orang di sekitar. " Nuhun, Ustadzah...

Saya kembali pada kegalauan saya. Yup, selalu galau. Bukan karena jomblo, tapi karena makin nggak tahan sama omongan orang.

Yang nyindir, yang ngejek, duh. Bahkan yang sekedar kepo aja ngerubung ga jelas. Ternyata ngerubung teh hanya untuk kepo saja. Pas undangan disebar dan resepsi di helat, para kepoism nggak nyumbang dana tuh. #eh...

Udah ga tau lagi harus apa, saya menimbang-nimbang ikut biro jodoh saja. Tapi hati menolak. Jadi setengah-setengah. Sempat juga kefikiran, " Nyari yang mau nikah kontrak di mana, ya? " Atau juga " Misal ada penyuka jenis yang perlu nikah untuk nutupi statusnya juga gapapa deh. Saya mau. "

Bukan karena saya segitunya ngebet nikah, tapi karena rasanya ngga sanggup lagi ditanya terus kapan nikah? Undangan mana? Duh!

Semua terjadi di pekan pertama Ramadhan 2017. Secara ajaib, pekan kedua di bulan yang sama, seseorang yang baik datang. Seseorang yang sesungguhnya nggak meninggalkan kesan apapun sejak kami berkenalan (Kami berkenalan saat ada bahasan pendakian ke Semeru. Ya, kami sama - sama suka naik gunung, sih), namun tiba - tiba meninggalkan jejaknya ketika saya tahu bagaimana usahanya menghalalkan gadis yang dia idamkan. Sampai mengalami hal yang buruk seperti itu. Punten, saya nggak ceritakan di sini karena menghargai kisah beliau. Yang pasti, saya kagum. Tapi nggak saya ungkapkan sih. Didalem hati aja.

Kemudian beliau bilang, " Yang sedang saya perjuangkan itu teteh. Saya mau serius sama teteh.. " 

Saya nggak bisa bilang apa - apa. Cuma balas dengan emoticon nangis saja. Setelah khitbah dilakukan, saya baru tahu ternyata beliau sudah ngepoin instagram saya sejak sebelum berkenalan tapi belum lihat wujud saya seperti apa. Hanya berfikir kami akan cocok, karena menilai dari postingan - postingan saya di IG. Zaman itu saya masih nggak pede pajang foto sendiri. Kasian nanti yang lihat jadi mimpi buruk. Hehe.

" Kalau memang serius, akhir minggu depan saya minta aa datang ke rumah. Biar kenalan sama keluarga. "

Saya menguatkan hati. Kali ini sungguh membersihkan segala harapan sampai kosong sama sekali. Berusaha meluruskan harap. Bener - bener pasrah ke Allah. Kesungguhannya terbukti. Dia datang. Kami berbuka shaum bersama. Dengan mama dan papa. Tapi belum ada obrolan ke arah serius. Saya masih memerkenalkan beliau dengan sebutan 'teman'. Tapi tentu orangtua udah tahu maksud dari 'teman' itu.

Respon orangtua positif. Saya lanjutkan dengan istikharah sambil memperkenalkan diri lebih jauh. Termasuk menjelaskan fakta, bahwa saya ini anak aneh yang suka hal - hal mistis. Tapi ternyata beliau lebih aneh karena nggak ilfil pada keanehan saya itu. Lalu  tantangan saya lontarkan, " Kapan uwi bisa ke rumah aa? " 

Jadilah pekan terakhir Ramadhan saya berkunjung ke rumah beliau untuk pertama kali. Buka bersama keluarga beliau dengan perasaan nggak menentu. Aneh. Jika memang saya nggak berharap, semestinya nggak ada perasaan seperti itu. Ya sudah, berkunjung aja kan. 

Ternyata, respon keluarga beliau positif pula. Lega. Alhamdulillah. 

Tetap saja, ada minder yang luar biasa. Rasa takut nggak diterima, nggak bisa membahagiakan. Ketika selama ini yang ada hanya rasa takut nggak dibahagiakan, kali ini berbalik, gimana kalau saya nggak bisa membahagiakan beliau? Disinilah saya sadar, ego saya roboh. Nggak melulu mikir apa yang bisa saya dapatkan seperti sebelumnya. 

Ketika menyamakan persepsi, visi, misi, dan diskusi berbagai hal, rasanya makin cocok saja. Makin nyaman, hingga saat beliau ingin silaturahmi ke rumah di hari kedua Idul Fitri, saya mengiyakan.

Beliau melamar saya pada papa ketika saya ada di dapur. Jadi saya nggak tahu tepatnya apa yang beliau bilang. Tiba - tiba aja kedenger suara papa bilang, " Ya, Papa mah gimana anak - anak aja. Sok. Nggak minta apa - apa papa mah. Semampu aa aja. " 

Saya refleks nongol dari dapur. " Ngomongin apa sih? " 

Aa hanya menunduk sambil senyum, begitupun papa. Tapi senyum papa mah tengil. Mencurigakan. " Nggak apa - apa. " Kata Papa. Saya nggak percaya. 

Hingga akhirnya aa pulang, papa baru cerita di depan saya, mama, dede, dan kakak sepupu saya dari Tual. Kak Hasna. 

" Itu, minta izin mau serius. " 

Duh, entah kenapa kok rasanya pengen nangis, campur aduk. Antara takut cuma harapan kosong seperti sebelum - sebelumnya, takut iya serius tapi disuruh nunggu nabung dulu, takut ini... takut itu...

6 Juli 2017, beliau menjemput saya dari rumah Bu Oto. Saat itu sedang berlangsung acara siraman Mpit. Saya dijemput, dipertemukan lagi dengan Mama beliau lalu kami beli mahar nikah bersama-sama. 

Saya masih ga yakin beliau serius. Sejak itu, setiap weekend kami maksimalkan untuk persiapan pernikahan. Beli seserahan. Saya masih nggak cerita pada siapapun karena masih yakin akan ada apa apa yang menggagalkan di tengah proses. 

Sampai akhirnya seserahan selesai dibeli semua dan uang untuk resepsi diberikan mamanya pada mama saya.

Rasanya semua instan. Sekitar 2 atau 3 bulan saja. Tapi masih ada ketidakikhlasan ketika keluarga beliau menentukan bulan Desember untuk akad nikah. Malam itu, setelah udah lama nggak tahajjud, saya bangun dan refleks mengambil wudhu. Doa saya malam itu cuma satu, " Ya Allah, nikahnya Oktober aja. "

Hanya satu kali kalimat itu saya ucapkan, tanpa adab berdoa yang baik pula, tapi Allah menjawabnya. Cash.

Aa dapat rizki tak terduga. Ini beliau sampaikan ke saya pagi hari setelah semalam saya berdoa singkat itu.

Rencana akad nikah yang awalnya bulan Desember, dimajukan dua bulan. Oktober. Alhamdulillah. 

Disitu saya baru sadar, selama ini saya berdoa minta didatangkan pria yang serius sama saya. Padahal semestinya (mungkin akan lebih baik kalau saya minta) berdoa yang SIAP dan SERIUS. Nggak cuma (mengaku) serius saja. Kan jadi buang waktu dan energi bgt, ya.  Plus awal saya pengen nikah dulu ada temen liqo yg bilang, " Kalau ada yang maju, terima aja dulu
 Kalo bukan jodoh nanti Allah jauhkan kok. " Padahal nggak gitu loh semestinya. Saya nyesel nurutin nasihat itu.

Konflik jelang nikah mah ada aja ya, temen-temen. Luar biasa, deh. Mulai dari H-seminggu keluarga aa minta bajunya diganti, aula resepsi yang nggak bisa dipake padahal saat kabar ini disampaikan ke saya itu sudah hari Kamis dan kami akan resepsi hari Ahadnya.

Campur-campur, tapi Allah selalu menunjukkan cintaNya. Kemudahan demi kemudahan kami dapatkan. Acara lancar, nggak kekurangan satu apapun. Teman-teman dan keluarga datang. Huhu. Terharu. Ada yang jauh-jauh dari luar kota juga. Allah ngambil sesuatu untuk diganti dengan yang jauh lebih baik tuh bener banget kebuktian pas proses kemarin.

Hari itu rasanya nggak nyata. Kayak yang main - main aja. Nikah nikahan. Saya yang nggak pernah nyangka akan nikah, akhirnya menikah juga. Ketika saksi berkata, " Sah! " Saya hanya bisa mengucap satu kalimat, "Allahu akbar!" Setelah hamdallah, tentu. Nggak ada degdegan sebelumnya, sampai akhirnya saya melihat beliau dan rombongan datang. Lihatnya dari bagian bawah jendela kaca aja. Hehe. Trus mulai kesemutan sebadan-badan saat bapak penghulu datang. Dan semua terbayar saat beliau lancar mengikrar kabul dan saksi menyatakan " Sah ". 

Selama saya jadi anak papa, saya baru dua kali melihat papa menangis. Saat kakek meninggal dan di hari pernikahan saya. Suami saya cerita saat papa menjabat tangan aa, tangan papa bergetar hebat. Duh papa T_T 

Tugas papa dan mama selesai begitu saya menikah, tapi tugas saya nggak akan pernah selesai sampai kapanpun. Jadi nggak mungkin saya mengurangi bakti karena sudah nikah. Inshaa Allah.

Gitu ya, temen-temen. Apa yang sudah Allah takdirkan, nggak bisa kita buru-buruin dan nggak bisa kita tunda-tunda. Pertolongan Allah ga pernah tanggung-tanggung, saya dapat jodoh, dapat jalannya, bahkan dapat biayanya sekaligus. Mudah loh prosesnya. Nggak berbelit dan penuh drama.

Banyak orang bilang, " Ternyata jodohnya orang dekat. Kenapa ga dari dulu, ya?"

Ya, kalo kami bertemu dari dulu, belum tentu akan selancar ini. Bisa saja kami masih berego tinggi, idealis, belum siap budget, atau kendala lain.

Allah ngga pernah telat atau kecepetan mengabulkan doa. Tapi tepat pada waktunya. Pas. Presisi.

Kita hanya perlu sabar dan percaya.

Dan siapa sangka, saya mendapat suami yang selama ini saya fikir hanya ada di drama korea. Haha. 

Pihak yang terkaget - kaget bukan hanya satu atau dua loh, temen-temen. Mereka ikut bersuka cita. Ada aja yang julid, sih. Bilangnya, " Kok nikah sama ini? Kan sering cerita punya temen yang hebat dan keren. "

Sesungguhnya suamiku adalah pria terhebat dan terkeren dari semua yang pernah maju. 

#Haseum belagu pisan c uwi. Haha.

Sampai sekarang, kami masih adaptasi. Saya berusaha banget, bangun awal, masak sarapan ketika suami sedang mandi, baru bisa mandi setelah suami makan, dan ketika beliau berangkat kerja, saya baru bisa mandi, sarapan, dan siap-siap kerja. Soalnya beliau masuk jam 6 sedangkan saya jam 7.30 sih. Pulang kerja ga bisa leyeh-leyeh. Harus masak dan beres-beres. Mandi, shalat, makan, cuci pirjng dan beberes dapur. Habis isya sudah capek lalu pasti tidur awal. Alhamdulillah, suami saya mau repot-repot bantu kerjaan rumah dengan semangat dan wajah ceria. Huhu.

Perjalanan masih sangat panjang. Doakan saya dan suami agar rumah tangga kami barokah, ya. Aamiin...

No comments:

Post a Comment