Saturday, September 16, 2017

Less Productive, Quarter - Life Crisis Atau Sekedar Insecurities?

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Akhir - akhir ini rasanya nggak pengen ngapa - ngapain. Hampir tiap malam nangis terus. Hidup teh asa nggak berarti. Terus dan terus bertanya ke diri sendiri, apakah yang sekarang saya lakukan ini sudah benar? Jika ya, kenapa rasanya nggak nemu kepuasan dan kesuksesan? Jika tidak, lantas saya harus apa? 

Pengen banget mencurahkan yang seperti ini, tapi posting yang happy happy juga dianggapnya galau lah, curcol lah, dan gagal membuat orang lain merasakan happy-nya saya. 

Ketika saya posting sesuatu yang happy, orang akan chat ke saya, bilang kalo saya tukang maen. Tukang makan. Malah ada juga loh yang bilang kalau sebenernya saya lagi galau karena sepemahaman dia, ketika seseorang posting sesuatu yang happy, sebenernya orang tersebut sedang sedih. Tapi justru ketika saya posting yang beneran galau, nggak happy, mereka akan berkata saya galau terus. Nggak pernah happy. Malah menasihati panjang lebar untuk sesuatu yang nggak saya perlukan. 
Kalau udah gini, saya harus apa? 


Sebagai seorang ISTJ, sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan. Sekalinya meluap, orang nggak faham saya ini kenapa. Cuma orang spesial seperti Abah yang tiba-tiba bisa nasihatin panjang lebar dengan pas tanpa saya merasa sedang digurui walaupuuuuunnnn saya baru duduk dan belum bilang apa - apa.  

Apa Abah itu paranormal? Bukan. Abah cuma sudah sepuh. Sudah penuh pengalaman. Beliau bisa dengan mudah menangkap gelagat kegalauan dan kerapuhan anak labil cem saya. 

Asa barerat, mau ngerjain kerjaan rumah juga nggak sedisiplin biasanya. Kerjaan kantor mah selesai sih. Tercapai target harian kecuali alat lagi ada yang pakai. Tapi beda banget sama zaman awal kerja. Dulu mah dikasih kerjaan sebanyak apapun, saya selesaikan di awal dan kemudian bisa santai. Sekarang, ya udah. Dibagi rata aja,  Tenggat waktu pengerjaan segitu, ya udah selesaikan sesuai tenggat waktunya.

Saya juga merasa aneh sendiri. Tapi kalau ditanya, apakah pekerjaan saya sekarang ini udah sesuai dengan apa yang saya mau lakukan? Jawabnya, setengah sudah. Waktu diajak meeting dll sih asa iya bener ini teh yang saya mau. Entah ya, justru ketika jadwal padat dan harus pulang terlambat, saya malah lebih merasa jauh berbahagia.  

Saya malah bingung, mana yang diri saya, mana yang alter ego saya >_<

“Quarterlife crises don't happen literally a quarter of the way through your life. They occur a quarter of your way through adulthood, in the period between 25 and 35, although they cluster around 30,” - dr. Oliver Robinson
Kalau sekarang, yang sering muncul adalah, " Apakah setelah menikah saya bisa membuat suami saya amat bersyukur karena memiliki saya? "

Asa takut, gitu. Kerjaan belum mapan (karena memang saya ngga mengejar jenjangnya), hobi nggak tahu apa, cita - cita nggak punya, masa depan nggak pernah lagi mikir mau gimana dan gimana (nggak pernah merancang masa depan lagi, maksudnya) karena saya memang menjalani hidup dengan mengalir begitu aja sesuai yang ditentukan orang - orang terdekat saya. Karena saya merasa nggak punya hak menentukan saya mau melakukan apa dan menjadi seperti bagaimana. Nggak boleh ada kata "tidak", nggak ada pilihan selain patuh. Walaupun saya tetap dinilai nggak patuh.

Rasanya saya ngeliat temen - temen seangkatan udah jadi seseorang yang bernilai, yang sudah mencapai A, B, Z... 

Saya menghabiskan waktu bertahun - tahun untuk mengikuti arahan orang lain dan kemudian saya seolah baru bangun dan mendapati kenyataan, bahwa arahan mereka nggak lebih baik dari yang dulu saya cita - citakan. 

Nggak bisa apa - apa lagi sekarang. Kebayang, wajar saja orang yang sudah meninggal ingin kembali hidup lagi untuk menghabiskan waktunya dengan beribadah dan menjadi orang yang lebih baik. Lebih bermanfaat. Saya saja yang masih hidup pengen banget kembali ke masa lalu dan memerbaiki semuanya. Nggak bakal denger kata orang lain lagi, deh. 

Tapi ya gimana. Cuma bisa mengobati kekecewaan sama diri sendiri dengan kalimat, " Anything happened for a reason. "

Tapi nggak semudah itu juga. Tawakkal saya sering banget diuji. Nggak yakin sama ketetapan Allah. Nggak bisa baca, Allah tuh pengen saya belajar apa dari kejadian itu? 
Sekarang, bisa apa? Umur makin bertambah, tapi skill masih gini aja. Nggak bisa mengandalkan diri sendiri, rasanya. Apalagi ngandelin oranglain, karena mereka sudah sibuk membangun istana mereka sendiri. Rasanya aneh ya, kita disetting bergantung pada A, B, dst tapi ketika sudah bergantung malah dilepas. Kita yang disuruh ngalah. Aneh. Saya nggak habis fikir. 

Jika benar rencanaNya lebih indah, tentu semua ini akan berakhir indah juga.  

Aamiin...

No comments:

Post a Comment