Sunday, September 17, 2017

Kisah Nagato, Raisa, dan Sephia

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Bandung lagi gerah - gerahnya belakangan ini. Entah karena tempat tinggal baru kami yang belum cukup membuat kami betah atau apa. Tapi kata ibu owner Godiva Studio itu memang benar, Bandung lagi panas banget. Kebayang yang tinggal di Timur Tengah, gimana panasnya coba. Atau yang di Jakarta, deh. Banten. Cirebon. Nanash... :(

Nggak sanggup. Putri salju cem saya mah leleh. Heheu. *hoek

Bawaannya tuh pengen yang seger - seger. Liatin bang Joong Ki atau om Gong Yoo, misalnya.  Nggak, deh. Mie bakso dan jus buah, mantep ya. Tadi jajan baso malang yang lewat depan rumah terus bikin jus buah di rumah. Jus pisang stawberry. Duh, nikmat mana lagi yang kau dustakan? 

Oh, kali ini saya cuma mau cerita, ya. Postingan ini saya ketik dan posting ke blog atas izin dan keseluruhan tulisan udah atas persetujuan yang bersangkutan. Tentu dengan menjaga kerahasiaan identitas dari orang yang mengalami ini. Kesamaan nama dan kejadian di luar kuasa saya, ya. Da memang saya mah mau nyeritain kisah milik tiga nama di judul tulisan ini.

Tentang kisah tiga orang yang saya kenal. Kawan satu komunitas. Ketiganya saya kenal cukup baik. Bahkan saya jadikan figur contoh.

Begini ceritanya...
Saya mengenal pria itu lebih dulu. Nagato namanya. Nagato adalah suami dari Raisa. Yang mana keduanya adalah pasangan mapan, cerdas, cantik dan tampan. Keduanya bekerja di dua perusahaan bonafide yang berbeda. Ntap, deh.

Nagato orang yang kalem. Nggak pendiam tapi. Kalem aja. Sedangkan Raisa adalah wanita cerdas yang supel. Dia menghabiskan banyak biaya untuk perawatan tubuh dan penampilannya. Stylish pisan, hayoh. Dari luar aja keliatan cerdasnya. Apalagi kalo udah ngobrol. Duh... saya mah cuma calacah garpit (abu rokok gudang garam filter).  

Saya sering berkhayal menjadi seperti mereka ketika sudah punya pasangan nanti. Sampe pernah memohon - mohon sama Allah biar bisa kayak gitu. Terus berenti memohon karena sadar kualitas saya jauh di bawah Raisa. Haha. Atuhda ideal banget di mata saya. Mereka juga harmonis dan hangat. Duhduhduh pokoknya.

Nagato tipe pekerja keras yang pinter ngatur waktu. Kerjaan dia OK semua tapi masih bisa kumpul sama kita kita. Beda sama Raisa yang nggak sesering itu ikut meet up. Nagato bilang, Raisa lebih suka beauty sleep dan perawatan lain yang seabrek itu di rumah. Yah, wajar sih kinclong gitu. Oh ya, mereka udah 3 tahun menikah tapi belum diamanahi anak.

Tapi suatu hari,  Raisa mengajak saya bertemu. Saya sih hayuk aja. Ditraktir ya siapa yang nggak mau ya :p

Pulang kerja, ketemuan deh kita. Saya selalu suka ketemu dan ngobrol sama Raisa. Dia cerdas badas. Pinterrrr banget. Jadi selalu dapat banyak ilmu dan quote baru setelah ngobrol sama dia.  Saya bersemangat sekali malam itu. 

Setelah ngobrol sana sini, Raisa menunjukkan sebuah foto di ponselnya. " Wi, kamu kenal dia? " 

Saya menatap layar HPnya sekilas. Sekilas aja, karena memang sudah tahu itu siapa. " Oh, kenal. Sephia, kan? "

" Yang waktu itu ikut ngopi waktu di Bober Riau? "  

" Iya, yang itu. Kenapa? " 

Raisa menghela nafas ketika saya menggigit kentang goreng yang saya pesan. Enyakk T^T

" Kamu tahu nggak, seberapa dekat dia sama Nagato? " 

" Mmm, nggak tahu. Saya mah nggak merhatikan sih, tapi sepertinya nggak terlalu sering ngobrol kalo lagi bareng - bareng kita mah. " 

Raisa tersenyum lalu terlihat menelan cola yang dia sedot saat saya bicara. 

" My husband is cheating with her. " Ucapnya sambil senyum kecut. Ada linangan air mata di matanya yang bundar. Mata saya juga ikut membundar. Colohok, ga nyangka. 

" Serius? Yakin? " Raisa mengangguk - angguk sambil tersenyum. Air matanya mulai menggelincir ke pipinya. " Tahu dari mana? Memang sudah ada bukti? " 

Tanpa kata, dia menyodorkan ponselnya dan meminta saya meneliti sesuatu. 

" Itu. Menurut kamu mereka apa dong kalo bukan selingkuh? " 

Saya membaca chat antara Sephia dan Nagato. Ajakan bertemu di sebuah restoran untuk makan siang di jam istirahat kantor. Padahal lumayan jauh loh jarak kantor mereka. Nagato yang nyamperin Sephia. 

" Mungkin itu sambil ngobrolin bisnis. " 

" Mereka beda bidang. "

" Mungkin ada perlu lain. " 

Raisa menunjukkan sebuah foto yang membuat prasangka baik saya gugur semua. Saya menggeser tempat duduk mendekati Raisa. Memberikan bahu saya untuk tempat dia menangis. Tangisan yang terasa nyeri di hati saya. Diselingkuhi pasangan, sesuatu yang membuat saya merasa simpati teramat mendalam.  

" Kok bisa ya wi, Nagato pilih cewek kayak gitu? "

Saya langsung faham apa yang dimaksud 'kayak gitu' oleh Raisa. Walau dalam pandangan manusia Raisa begitu ideal, tapi pria seperti Nagato saya rasa akan mudah saja mendapatkan wanita lain yang lebih segalanya dari Raisa. Tapi Nagato malah memilih wanita yang dinilai 'kayak gitu' sama Raisa. Saya hanya bisa menunduk dan tersenyum. Menaikkan sudut bibir kanan saya sedikit. 

" Pantesan beberapa bulan ini dia udah nggak pernah nyentuh saya, wi. Bisa aja dia cari pemuas batinnya dari Sephia ini. " lanjutnya. Yah, menyentuh. If you know what i mean...
Malam itu, kegundahannya tumpah. Cerita yang nggak saya duga meluncur dari mulutnya. Betapa dia berjuang merawat dirinya, berjuang membantu finansial keluarga, berjuang untuk kehidupan dan penghidupan mereka.  

Nagato pria setia, menurut Raisa. Selama ini nggak ada yang aneh - aneh. Walaupun banyaaak banget yang berusaha menggoda, nggak ada gangguan yang ditanggapi oleh Nagato. Sejak pacaran di awal masa kuliah sampai sekarang, nggak pernah ada cerita perselingkuhan. 

Akhirnya dengan sok bijak, saya berusaha menguatkan Raisa. Tapi saya sendiri nggak kuat mendapati kenyataan seperti ini. Asa nggak terima, gitu. Apalagi istrinya ya, tentu lebih nggak terima lagi. 

Saya berpura - pura nggak tahu apapun meski Raisa terus berbagi cerita dan menjadikan saya tempatnya berbagi duka. Temen curhat. Karena saya berpura - pura nggak tahu, tentu saya bersikap biasa saja pada Nagato. Tapi beberapa minggu setelah kisah itu saya dengar, Nagato sadar juga kalau sebenernya saya sudah tahu.

Raisa yang kasih tahu. Dia sudah mencapai titik ledak semalam sebelum Nagato mengajak saya bertemu besoknya. Yah, sudah terlibat. Mau nggak mau ini mah. 

Yup, kami bertemu. Awkward.

" Yang Raisa ceritain ke kamu itu bener semua, Wi. " dia masih tetap dengan gaya kalemnya. " Tapi kami nggak sejauh itu. Saya nggak pernah berbuat nggak pantas sama Sephia. " 

" Selingkuh, itu nggak nggak pantas, ya? " Dia terdiam. 

" Raisa terlalu ideal. Dia nggak pernah minta saya melakukan A, B, C... Dia lakukan semua sendiri. Dia lebih suka bayar orang buat bantu dia benerin genteng rumah daripada nyuruh saya. Dia sibuk dengan kerjaannya, sampai nggak sempat manjain saya. Yah, boys will be boys. Pengen mereun dimanjain pasangan mah. " 

Saya diam.

" Kamu tahu, kenapa kami belum punya anak? Bukan karena sudah ada Sephia saya nggak nyentuh dia. Tapi karena dia sibuk ngurus muka sebelum tidur daripada melakukan kewajibannya. " 

Saya... nggak diam, sih. Pengen ngakak tepatnya. " Tapi dia begitu karena pengen cantik di mata kamu. Biar kamu nggak lirik yang lain. Itu demi kamu, lho. " 

" FYI ya, wi. Cowok nggak selalu butuh wajah cakep. Badan oke. Tapi juga perhatian dan merasa dihargai. Coba, lagi butuh kelon karena capek dikantor tapi ngga ada yang kelonin. Stress, oi! " 

Saya akhirnya ketawa. 

Tapi sebenernya masalah mereka lebih dari itu loh, teman - teman. Tapi intinya, Nagato hanya kurang perhatian. 

'Hanya'

Saya tertegun. Laki - laki selingkuh bukan selalu karena mencari kepuasan dari fisik dan syahwat. Tapi ternyata dari perhatian juga. Dari merasa dibutuhkan. Merasa dihormati. Merasa dianggap mampu. Wanita mandiri dan menarik seperti Raisa ternyata belum cukup memenuhi keinginan Nagato. 

" Saya nggak macem - macem, kok. Sephia selalu nyuapin dan nemenin saya waktu makan. Waktu saya malas makan dia nyuapin, waktu saya makan sendiri dia menemani saya. Saya nggak kesulitan nyari handuk setiap mandi di rumah dia, karena setelah saya bilang saya mau mandi, dia akan gesit siapkan handuk dan alat mandi. Airnya juga disiapin. Begitu keluar kamar mandi, sudah ada teh manis hangat di meja. Mumet di kantor pun ga bikin stress karena saya tahu harus cerita ke siapa. Dia lulusan SMA tapi tahu gimana cara jadi pendengar yang baik. Dia merespon dengan lembut jadi saya tenang lagi. Indah, wi. Serius. "

" Tapi selingkuh itu seperti membunuh orang dengan gunting kuku. Sedikit - sedikit, perih demi perih, sampai uratnya putus dan darahnya dibiarin ngalir sampai kehabisan darah dengan sendirinya. " Ujar saya.

" Jir, serem kamu mah! " Dia melonjak dan tertawa.

" Memangnya perselingkuhan gak serem? "  Bantah saya serius. Dia langsung membatu.

" Apapun alasannya, saya harap bisa diselesaikan dengan penyelesaian terbaik. Kalian bertiga teman saya. Saya mah bantu doa aja. "

Oke. Setelahnya, nggak ada komunikasi lagi antara kami bertiga. Sephia hanya tersenyum malu saja ketika kami bertemu. Nggak tega juga menyebut dia pelakor karena dia temen saya sih. Entah apa yang terjadi kemudian, saya nggak tahu. Saya hanya diberi kabar setelah beberapa bulan berlalu. Nagato dan Raisa berpisah. 

Ya, itu mungkin yang terbaik. 

Kisah mereka mengajari saya bahwa tidak selalu fisik yang menjadi penentu kebahagiaan sebuah rumah tangga. Melainkan hal - hal lain yang nggak terlihat juga. Seperti perhatian, saling menghargai, dan saling membutuhkan. Wanita seideal Raisa belum tentu bisa meneguhkan Nagato. Banyak juga artis dan pengusaha yang nikah cerai, kan. Padahal penampilan dan materi kurang apa lagi.

Terlebih, bagaimana mengatur ego. Ketika mengejar karir yang membludak atau kepentingan pribadi lain mendominasi, memang kadang kita lupa ada hak mereka yang harus kita tunaikan. Nggak bisa lah, udah nikah tapi ego tetep masing - masing. Nggak harmoni. 

Ah, dari dulu begitulah cinta. Deritanya tiada akhir.

No comments:

Post a Comment