Tuesday, August 15, 2017

Sorry Seems To Be The Hardest Word

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Kamis lalu, kami pindah ke tempat tinggal baru. Secara pandangan saya sebagai manusia, jujur, tempat baru ini nggak lebih baik dari tempat lama. Tapi kami bisa di sini, sehat, tidak kekurangan suatu apapun, berarti di mata Allah tempat ini lebih baik bagi kami. 

Yang bikin nggak nyaman adalah : tetangga saya jadi banyak dan lingkungan jadi ramai. Haha. Konyol, memang. Untuk seorang ISTJ, banyak orang bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi saya juga nggak mau kalau harus tinggal di tengah hutan lama - lama. Saya suka hutan, tapi kalau untuk tinggal di sana, hm... wanita manjah kayak saya belum bisa kayaknya :p

Kalau kata Mama, " Kita ngikut aja proses dari Allah. " 

Gitu.

Oke, I have something to share now. Sebelum idenya nguap, saya harus cepet - cepet ngetiknya. 

Gini loh...
" Siapa yang pernah disakiti oleh orang lain dan sampai sekarang kalau ingat (orang dan kejadiannya) masih suka nangis? "


Pertanyaan itu saya dapatkan dari Ustadz Dudi Muttaqin, salah satu ustadz favorit saya, saat pembukaan Sekolah Pra - Nikah angkatan 6 tahun 2007 lalu. Saya terhenyak. 

" Cung (acungkan tangan), ada nggak? " 

Saya dan beberapa peserta lain mengacungkan tangan. 

" Nih, saya kasih tahu obatnya. Coba, pejamkan mata. Bayangkan orang itu ada di depan kita. Coba bayangkan. " 

Dada saya mulai sesak. Tapi nggak mau nangis. Saat itu, mungkin air mata saya udah kering *uhuk!*

" Terus, coba teriakkan kalimat ini.... " 

Hening. Mesjid Salman ITB yang saat itu ramai terasa hening. Yang saya lihat hanya saya dan dia. Wanita itu. 

" Teriakkan yang kencang, " Ya Allah, saya memaafkan dia! " "

Saya nggak bisa mengatakan itu didepan orang itu. Maaf rasanya sangat jauh. Yang dia lakukan pada saya, terlalu fatal. Sangat fatal. Akhirnya kalimat itu nggak saya ucapkan. Dalam hati sekalipun. Samar - samar saya dengar isakan. Oh, ada yang nggak kuat juga rupanya. 

Sepulang dari sana, saya berfikir, apakah saya pernah ada di posisi wanita itu? Dibenci karena perbuatan saya yang disadari atau nggak, sudah sangat merugikan orang lain?

Kok jadi ngeri sendiri, ya. Sering rasanya. Yang bisa saya lakukan hanya mendoakan segala yang terbaik buat mereka. Mereka? Iya, saya merasa sudah menyakiti banyak orang. 

Kita kadang lupa, atau menganggap mereka lupa, atas kesalahan kita. Padahal, siapa tahu orang yang kita sakiti masih sangat mengingat itu semua. Kita udah bersikap biasa saja, tapi dia masih belum merespon dengan sepenuh hati. Wah, tanda tanya besar tuh.

Saya pernah ditanya oleh Pak Uus, leader geng Hair care di kantor. Saat itu mood saya lagi rusak banget dan beliau tiba - tiba muncul. Saya nggak marah - marah, hanya bersikap kurang ramah. Tapi Pak Uus yang memang adalah orang yang lembut kemudian menegur saya. Nggak langsung sih, mungkin sekitar dua hari kemudian. Beliau nanya, kenapa saya nggak ramah padahal biasanya ramah? Apa beliau salah?

Wah, saya malu sendiri. Malu banget. Saat itu juga saya menjelaskan alasan saya nggak ramah ke beliau. Alhamdulillah semua selesai saat itu juga. Komunikasi yang tepat memang merupakan kunci kelancaran apapun, ya.

Sayangnya, nggak semua orang sedewasa Pak Uus. Ada yang kalau kita nggak ramah malah balik nggak ramah. Ada yang malah lebih - lebih marahnya. Haha. *amitamit *eluselusperut

Memaafkan, sesungguhnya adalah suatu kemuliaan. Suatu hadiah, suatu hal yang indah. Tak ada beban bagi orang yang tersakiti. Bahkan Abdullah bin Amr r.a mendapatkan kunci masuk surga karena terbiasa memaafkan siapapun yang menyakitinya setiap hari, sebelum beliau tidur.

Coba, menyimpan kekesalan bikin sesak dada saja, bukan? 

Atau mungkin, ada di antara teman - teman yang menyakiti orang lain tapi sampai nggak bisa tidur dan ngga enak makan kalau ingat kejadian atau orangnya? 

Wah, perkara perasaan memang biasanya nggak mudah. Ketika meminta atau memberi maaf dianggap sesuatu yang berat, coba bandingkan dengan apa yang kita rasakan ketika membiarkan kekesalan atau kekecewaan itu berakumulasi dalam hati? 

Lebih lega yang mana? 

Kemudian, bagaimana jika seseorang membenci dirinya sendiri? Membenci ketidakmampuan dirinya untuk ini dan itu, misalnya. Atau membenci apapun yang pernah dilakukannya. 

Saya selalu ingat kata - kata Bang Kiki, " Nggak bakalan ada yang sayang sama kamu kalau kamu nggak sayang sama diri sendiri, Wi. " 

Memaafkan diri sendiri, menurut beberapa orang, lebih sulit dari memaafkan orang lain. Saya setuju dengan pendapat ini, sih. Tapi mencintai diri sendiri tentu harus diutamakan. Karena toh di akhirat juga hanya kita (dan amalan yang bisa mengundang safa'at) yang bisa menolong kita.

Memaafkan diri sendiri, menurut saya, bisa dimulai dengan menentukan batas kesanggupan kita terhadap sesuatu. Memaksakan sesuatu nggak selalu baik, bukan? berkompromi terhadap sesuatu yang belum bisa kita lakukan atau dapatkan padahal sudah kita upayakan semaksimal mungkin, bisa jadi penghibur tersendiri. It's OK to fail :)

Ah, mulai ngaco dan melebar, nih. 

Oke, mulailah minta maaf pada diri sendiri, pada Allah atas segala kebandelan kita. Kemudian pada keluarga, pada orang - orang terdekat. Cobalah pejamkan mata, ingat dengan seksama, pada siapa saja kita pernah berbuat nggak baik? Kemudian doakan kebaikan untuk mereka satu per satu. Setelah itu, dirasa - rasa siapa dan kejadian apa yang pernah bikin kamu ngerasa tersakiti. Ngerasa baper tiap ingat. Ngerasa masih belum ikhlas...

Susah? Masa susah?

Sepengalamanku, untuk melakukan ini, kita hanya butuh tiga hal. 
1. Diri yang (berusaha) ikhlas
2. Kejujuran sama diri sendiri
3. Hati yang dibuka lebar selapang - lapangnya. 

Hidup yang terasa berat, bukan berarti bebannya yang berat, loh. Bisa aja karena kita yang nambah - nambah beban dan nyusahin diri sendiri.

Sok coba. Bismillah :)

No comments:

Post a Comment