Sunday, August 20, 2017

Soal Baju

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Malam ini kok ya pengen ngobrol sesuatu yang lebih personal tapi mungkin temen - temen ngobrol lagi pada sibuk soalnya grup lagi sepi. Salah satu grup merespon dengan candaan, mungkin lagi ga pengen bahas yang baper. Heheu.

Terus, kenapa saya memutuskan nulis di blog? Karena blog bukan sesuatu yang terbuka seperti facebook, twitter, dan medsos lainnya. Orang berkunjung ke blog dengan maksud beneran niat baca. Niat pengen tahu. Apapun itu motifnya. Sekedar kepo, nyari gosip, atau cuma iseng aja karena lagi bosan. Medsos lain kan seolah - olah membuat orang lain mau nggak mau baca cerita kita dan itu menyebabkan reaksi yang lebih beragam. Lebih buruk lagi, jadi diketahui oleh mereka yang semestinya nggak tahu.

Saya bukanlah tipe verbal yang mudah mencurahkan apa yang difikirkan melalui lisan. Biasanya kalah cepat ngomongnya sama orang lain jadi nggak bisa leluasa cerita, salah ngomong yang menyebabkan salah faham, dipotong duluan atau tiba - tiba dialihkan obrolannya. Temen kantor ada tuh yang seperti itu. Lagi diajak ngobrol tahu - tahu jawabnya nggak nyambung karena dia tiba - tiba buka topik baru. He he...

Keterbatasan saya ini sebenarnya merupakan kelebihan, katanya. Karena orang yang belum kenal saya, sudah terlanjur menilai saya pendiam, kalem, dan lembut. Jadi pas ketauan orongoh - nya, rusak sudah pencitraan yang mereka buat sendiri. 
Jadi gini...

Keputusan saya untuk kembali mengenakan pakaian syar'i memang didukung semesta. Terbukti dari beberapa orang dekat saya yang mengatakan demikian. Walaupun tetap ya, syarat dan ketentuan berlaku. Tapi masih saja terasa berat ketika mendapati baju - baju syar'i berharga lebih mahal daripada yang biasa saja. Ya, wajar lah ya, kan bahan yang dipakai lebih banyak. Saya juga jadi sering beli baju. Ya, walaupun nggak ada budget (curhat karyawan yang gajinya abis dipake transport haha!), tapi tetep harus dibeli. Beli yang simpel - simpel. Karena ternyata ada ya baju syar'i yang harganya sampai 500 ribu. Bagi saya, itu cukup 2 atau 3 buah. Heheu. *kekeup dompet

Rasanya pengen deh minta baju - baju urunan yang udah nggak kepakai dari temen - temen yang lebih dulu pake baju syar'i. Tapi ya saya wanita pekerja. Punya gaji. Masa harus begitu juga T^T

Mau nggak mau, satu - satunya solusi adalah, saya nabung. Nabung uang buat dikit - dikit dibeliin baju muslimah. Selain itu, saya mengais sisa - sisa peninggalan zaman shalihah dulu :p 

Baju lama, banyakan yang atas bawah. Sekarang lagi pengen pake gamis terus. Yang simple kan gamis, ya. Simple pake, tinggal geblus. Simple nyuci, cuma nyuci satu doang. Simple juga nyetrikanya jadi lebih sedikit *pemalesan

Mungkin orang nggak nyangka kondisi saya seperti ini. Berarti pencitraan saya sukses. Hahahaha! *ketawa ala Joker

Baju muslim, kini nggak sesusah dulu untuk didapatkan. Sekarang di mana - mana banyak. Waktu zaman saya mah, cuma bisa didapat di Daarut Tauhiid. Pernah juga deh saya beli kerudung (sampai sekarang masih ada dan kembali saya pakai) waktu ada event ormas tertentu. 

Di pusat - pusat perbelanjaan nggak ada yang se - syar'i itu. Diakalin deh, pake kerudung dobel - dobel. Kalo yang satu udah melorot, ya udah. Rusak. Haha. Belum lagi ternyata nusukin jarum pentul juga ada caranya. Saya mah dulu pake pake aja. Jadinya mencong mencong atau melorot ke depan, menutupi mata -_-

Sekarang, alhamdulillah, perkembangan islam di masyarakat udah jauh berbeda dari masa awal saya mengenal islam dulu. Sekarang mah jangankan yang jilbabnya lebar, yang bercadar sudah banyak. Beli cadar sudah bisa di toko online maupun di pusat perbelanjaan. Itupun sudah nggak diintimidasi seekstrim dulu. Maka, rugi lah kalau nggak pakai baju muslimah yang syar'i karena ujian kita sekarang nggak seekstrim dulu (I hope).

Ujiannya sekarang adalah... 

Kadang saya dan orang di sekitar saya lupa, kalau saya sudah nggak pakai baju yang ngepas badan gitu. Bukan yang ngetat kayak jilboobs gitu ya, tapi misalnya kemeja yang cuma sepinggang, baju kaos yang nggak ketat tapi nggak terlalu longgar juga, celana panjang, kerudung segitiga biasa yang cuma dibagi dua sekedarnya, hingga dada masih terlihat. 

Gitu, loh. Ngerti nggak sih? >_<

Adek jadi kesel, Bang!

Misalnya, waktu belanja baju sama calon mama mertua. Beliau bilang, " Tinggal beli atasan satu lagi sama celana panjangnya ya, wi. " 

Saya jawab, " Nggak, Mah. Uwi mah mau gamis aja satu lagi. " (Satunya lagi udah beli gamis juga)

Karena hari udah kesorean, kami nggak jadi beli stelan terakhir. Lalu, saat di rumah, Beliau bilang gitu juga ke calon suami. Alhamdulillah, lega banget waktu calon suami bilang, " Nggak nggak nggak! Jangan celana panjang. Nggak bakal saya kasih (izin) pake celana panjang. " 

Lega T^T

Hari ini saya pergi sama Mama. Kejadiannya pun mirip. Udah keliling sana sini tuh, Mama merekomendasikan baju - baju atasan yang sesungguhnya sedang saya hindari. Yah, masih menutup aurat sih, nggak menerawang, nggak tipis, nggak menyerupai pakaian laki - laki. Tapi yah, duh. Nggak tahu, asa nggak pengen, gitu. Sempet sih ada yang bikin tergoda. Tapi ya nggak segimananya menggoda.

Mungkin Mama terlalu semangat juga, jadi lupa kalau saya bilang mau pakai gamis aja kedepannya. Akhirnya mah alhamdulillah, kebeli gamisnya. Sesuai yang saya mau. Cuma berkesan banget, ya.

Dalam proses hijrah kita, nggak cuma kitanya yang harus sabar. Yang harus berdoa minta diberi keteguhan dan kesabaran. Tapi juga orang - orang disekitar kita. Karena sedikit banyak, sadar atau tidak, prosesnya melibatkan mereka juga. Mereka sudah menata ulang hati, ekspektasi, dan prasangka mereka ke kita. Kenapa sekompleks itu? Karena kita nggak mungkin bisa menjelaskan detil alasan kita hijrah dan menyamakan persepsi kita dengan meraka, apa saja yang harus kita ubah, dan apa saja yang akan terpengaruh nantinya pada semua orang, bukan?

Bahkan yang nyinyir pun sedang membimbing kita menjadi pribadi yang nggak mudah goyah. Maka marilah kita bimbing mereka menjadi pribadi yang bertoleransi. Caranya, tunjukkan kesan terbaik, tersenyumlah :)

Yang berjuang bukan kita saja, kok. Mereka juga :)

Apakah setelah saya total menutup aurat, apakah ujian saya selesai? 

Nggak, dong. Mungkin akan lebih berat. Jadi, nikmatin saja. Karena jika satu kesulitan saja mengundang 2 kemudahan, maka jika kita merasa punya 1000 kesulitan sekalipun, kemudahan yang kita punya ada 2000 kemudahan, loh. 

Bismillah :)

No comments:

Post a Comment