Saturday, August 19, 2017

Konsep Pernikahan

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Postingan kali ini, mari kita baper. Haha.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu sahabat saya, Siti, menawarkan paket jaipong untuk pernikahan.  Mapag Panganten, katanya. 

Saya menerawang, Siti memang orang yang detil. Untuk pernikahannya saja, persiapannya detil dan matang. Padahal hanya 5 bulan. Waktu yang menurut beberapa orang nggak cukup buat persiapan nikah. 

Saya baru sekitar 4 atau 5 tahun dekat dengan Siti. Kami satu sekolah saat SMP, tapi saya nggak mengenal dia dengan baik. Cuma sekedar tahu dia itu tetangganya teman sekelas saya. Sekarang malah lebih dekat dengan Siti daripada dengan teman sekelas saya itu. He he. 

Saya selalu kagum sama Siti. Dia orang yang tahu hidup teh mau ngapain, kalo udah dapat yang dia inginkan, dia akan melakukan apa. Dia hidup untuk apa, meraih apa, dan lain - lain. Mungkin kalau saya bandingkan dengan teman - teman saya yang lain, Siti termasuk dalam 7 orang paling berkarakter yang saya kenal. Hahaha.

Termasuk saat memilih calon suami. Kami sama - sama kakak jomblo yang galau karena adik kami sudah berada dalam kondisi ideal untuk menikah. 

Takdir Allah menggariskan Siti bertemu jodohnya lebih dulu dari saya. Mei 2016, alhamdulillah dia menikah dan saya melanjutkan kejombloan >_<

Dia begitu antusias menyambut hari besarnya. Memersiapkan ini dan itu. Saya yang memang nggak suka acara pernikahan dan super jarang ke undangan malah nggak tahu harus berbuat apa ketika diminta menjadi panitia. Bantu - bantu beberes satu hari sebelumnya. 

Siti yang semestinya menenangkan diri, bersiap, dan istirahat dengan cukup, menjadi orang yang paling sibuk bahkan di satu hari sebelum akad nikah mereka. Saya salut. Dia tahu apa yang akan dihadapi dan apa yang harus dipersiapkan menghadapi itu. 

Jika kakak jomblo yang galau adalah kesamaan, maka perbedaan kami adalah : Siti menanti jodoh sambil memersiapkan diri, saya menanti jodoh sambil santai. Memang saya sudah berada di fase bodo - amat - nikah - atau - nggak - da - jodoh - mah - nggak - ke - mana - yang - penting - saya - udah - usaha. Selama beberapa tahun terakhir malah saya udah nggak pernah doa jodoh. Malah berfikir kalau nggak sunnah yang utama mah saya lebih suka nggak nikah aja. Ribet. Doa lagi, taaruf lagi, berhembus kabar saya mau nikah lagi, orang pada heboh lagi, berharap lagi, disakiti lagi, gagal lagi, galau lagi.... #Eh. 

Pokoknya berbeda banget sama Siti.

Itu. 

Sekarang, ketika saya sudah harus bersiap, nyatanya saya bingung harus apa. Ditanya mau nuansa warna apa untuk baju dan konsep resepsi seperti apa saja saya nggak tahu jawab apa. Upacara adat, pernak pernik, menu untuk stand makanan camilan, warna baju, pagar ayu, bla bla bla... Bingung apa dulu. Malah banyak yang nggak kefikiran. Haha.

Saya nggak punya hobi. Meski orang - orang (mungkin) tahu saya suka anime, tapi nggak se - otaku itu untuk merealisasikannya dalam resepsi pernikahan. Warna favorit, hitam, biru, abu - abu. Tiga warna yang mungkin agak gimanaaa gitu kalau dijadikan tema pesta. 

Saya merasa bodoh sendiri sih, kok nggak kefikiran untuk konsep acara. Ada banyak referensi, tapi rasanya asa nggak pengen, gitu.

Saya nggak iri pada mereka yang pernikahannya mewah. 
Saya malah iri pada mereka yang akad nikah dan syukuran sederhana saja sudah cukup.  

Saya nggak iri pada mereka yang punya pasangan yang keluarganya berada.
Saya malah iri pada mereka yang menikah dalam kondisi sederhana dan kemudian saling menguatkan hingga kemapanan mereka miliki.

Saya nggak iri pada mereka yang persiapannya segambreng.
Saya malah iri pada mereka yang dua bulan khitbah kemudian akad nikah.

Saya nggak iri pada mereka yang udah nikah bulan madu mewah.
Saya malah iri pada mereka yang udah nikah bulan madu ke puncak gunung.

Hehe. 

Aneh nggak sih kalo begitu? Da teu kabita. Asli.

Ya walaupun persepsi " sederhana " bagi tiap orang tentu berbeda, ya. Kalo memang sanggup, mangga. Karena pernikahan memang sekali seumur hidup (aamiin) dan sudah semestinya dibuat berkesan sesuai kesan yang ingin dikecap. Berbeda dalam pendapat sudah biasa, bukan?

Ini saya beri label 'Curhat' karena memang saya sedang curhat. Jadi ini cerita saya dan nggak bermaksud nyindir atau apapun lah itu yang negatif - negatif.

Jadi, sekarang apa dulu yang disiapin? 

Meskipun nggak kebayang mau seperti apa dan masih berasa mimpi, saya tetep Excited and can't hardly wait! Kalau memang sudah terjadi, inshaa Allah nanti saya cerita lagi.

Mohon doa restu :)

No comments:

Post a Comment