Wednesday, August 30, 2017

Jerawat

Assalamualaikum. 

Selamat malam.

Malam ini saya tidur ditemani mama, karena dede ada acara outing sama sekolah tempat dia mengajar. Adik saya itu super deh. Jadwalnya padat banget. Semoga dede sehat terus ya, de! *kisskiss

Minusnya, rumah jadi sepi. Kayak malam ini. Sejak sebelum Ramadhan kemarin, jadwal dede makin padat. Udah nggak antar jemput saya lagi. Saat dia sampai rumah, saya yang udah nggak ada tenaga buat ngobrol. Kadang malah saya tidur sebelum dia pulang. Otomatis jadwal ngobrol kami jadi nggak ada sama sekali. Sekalinya ngobrol paling cuma yang ringan aja. Nggak cecurhatan bebaperan seperti biasa. Heheu...

Malem ini ngobrol yang ringan aja, ya. 

Jerawat. Ringan diomongin, berat diterima-in. Haha.

Saya yang nggak pernah jerawatan (kecuali saat mau haid), harus menerima kenyataan wajah saya jadi bengkak parah karena jerawat sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Mungkin lebih. 

Eh pernah deh, sekali. Tapi nggak lama. Waktu saya kerja di salah satu pabrik farmasi di Lembang.

Rasanya berat banget. Bukan karena malu (saja), tapi karena sakitnya yang nggak tertahankan. Nyut - nyutan. Apalagi tumbuhnya nggak cuma satu atau dua. Bisa delapan sampai beberapa belas sekali muncul. Semuka - muka. Huhu...
Orang mulai banyak yang khawatir. Saya jomblo, akan susah cari jodoh kalau wajah saya seperti ini, kata mereka.

Yang ngejek juga banyak. Anggaplah maksudnya bercada, ya. Walau nggak lucu. 

Mulai dari, " Ih, Uwi puber! " atau " Ciyee, jerawat kangen! " dan kalimat - kalimat sejenisnya.

Saya selalu cuek sama penampilan, sampai akhirnya kalimat - kalimat miring datang dari dua orang yang saya anggap penting. 

Pertama, temen ngobrol. Perantau yang (ngakunya) kesepian, jadi saya jadikan temang ngobrol saja walau saya mah ga kesepian. Dia ngajak saya makan bareng sepulang kerja. Saat saya bilang, " Tapi saya lagi jerawatan. Malu nggak bareng - barengnya? " 

Voila! Jawaban dia adalah, " Oh, kamu jerawatan? Nggak usah jadi deh makan malamnya. " 

" Kenapa? " Tanya saya. Sedikit kecewa, sesungguhnya.

Lalu dia jawab lagi, " Kamu lagi jerawatan gitu makan depan saya, nanti yang ada saya jadi nggak nafsu makan. "

Ini menyakitkan saya, kala itu. Saya yang asalnya senyum senyum, jadi mendadak mello. Pengen nangis. Kok jahat banget bicaranya, ya? Betapa selera humornya buruk banget. Kalau niat becanda itu juga...

Saya pura - pura mengabaikan kata - katanya soalnya dia juga nggak ganteng jadi bodo deh dan berusaha untuk tetap PD walaupun yang komen banyak. Yang ngeliatin dengan tatapan yang undescribeable juga lebih banyak. Jerawat seolah nggak berhenti muncul. Saya sering sakit kepala karena yang nyut - nyutan bukan hanya satu titik aja.

Waktu berlalu, saya punya kawan dekat baru. Jika kawan dekat yang pertama mengenal saya sejak sebelum jerawatan satu pun, kali ini kami kenalan setelah saya berjerawat banyak. Saya rasa nggak masalah, karena teman saya itupun juga sama demikian. 

Ternyata...

" Itu wi, jerawat. Jangan jerawatan, ya! Saya malu bawa kamu nanti. " 

" Loh, kan temenan nggak lihat fisik tapi nyaman, seru sama nyambung. " dalam hati saya bergumam, " Ah dia juga jerawatan. " 

" Iya, tapi saya mah nggak bisa. Asa ga enak aja diliatnya... " 

Walaupun yang ini nggak semenyakitkan kasus yang pertama (dan yang lainnya), tapi rasanya gimana, gitu. Pantes aja masuk bulan kedua kami berteman baik, dia mulai menghilang dan nggak ajak pergi - pergi lagi. Bahkan mamak di rumah juga seriiing bilang, " Itu muka kayak orang sakit cacar. " Ini juga jleb, tapi karena yang ngomong adalah mamak saya, jadi ya diterimain aja. Diikhlas - ikhlasin ... T^T

Dari sinilah saya berazzam, " Saya harus memerbaiki penampilan. "

Karena ternyata nggak sekedar nyaman, seru dan nyambung aja kita memilih teman, tapi juga yang berpenampilan menarik. Saya terlalu naif berfikiran bahwa orang - orang yang bersama saya, tulus nerima saya apa adanya. Ternyata nggak semuanya begitu. Komentar dan ejekan mereka akan saya jadikan masukan.

Dari situ, saya mulai lebih concern,  dan baca banyak artikel. Tanya sana sini juga. Ternyata yang ngeh adik saya. Dia bilang, saya jerawatan kalau habis makan makanan pedas. Ya walaupun faktor sering begadang dan ga jaga makanan juga ngaruh, ya.

Mati - matian saya mengurangi makanan pedas, dalam beberapa bulan, efeknya terlihat. Walau tetap aja, yang baru ketemu saya atau yang nggak merhatikan tetap jijik, ya. Tetep memandan nggak respek. Tapi bagi saya, diri saya yang sekarang udah lebih baik dari yang dulu.

Beli skincare yang ternyata alhamdulillah cocok. Walaupun belum total, ya. Karena bulan ini saya abis - abisan makan pedas, jadinya banyak tumbuh lagi. 

Saya udah merasa mencoba apapun, tapi kok difikir - fikir niatnya jadi kurang tepat, ya? 

Rasanya malah jadi nggak menghargai dan mencintai diri sendiri. Karena berubahnya untuk terlihat baik didepan orang lain dan nggak di bully lagi. 

Nggak bisa dipungkiri, menjaga penampilan adalah salah satu upaya kita menghargai diri sendiri. Niat ini yang nggak boleh melenceng. Bisi jadi penyakit 'ain.

Saya pernah dengar di luar negeri ada anak remaja bunuh diri karena jerawat. Yup. Dia di - bully. Saat - saat mello saya sih ngerasain down juga, tapi menghibur diri aja. Mereka nggak tahu begitu maksimalnya saya berusaha. Waktu kerja di Lembang sih, pas saya resign, kulitnya balik sehat lagi. Kan yang penting kulit sehat. Bukan kulit putih.

Disabar - sabarin, dikuat kuatin... ya kok gimana gitu rasanya. 

Malah sepertinya kok makin sering denger orang, " Asal cantik. " 

Seperti yang saya dengar dari salah satu teman kerja, syarat untuk admin baru adalah, " Cantik " 

Lalu yang terekam kuat adalah, di tempat PKL saya masa SMA dulu, seorang petugas di sana nanya - nanya soal keluarga saya. 

" Oh, yang kayak orang Papua itu adiknya, ya? Duh kasian ya. Item keriting gitu dong ya? "

Kok kasian...

Bagi saya, mencibir fisik mah nggak bijak. Da itu udah ciptaan Allah. Terus merasa lebih waw, gitu? Sepertinya politik devide et impera masih aja ada di dunia. Ah, yang penting saya mah nggak gitu. Inshaa Allah nguat nguatin buat ga komen fisik. 

Saya beruntung kenal Bang Shin.  Dia tuh model. Kulitnya licin. Ganteng. Perawatannya mahal da. Haha. Tapi waktu saya tanya kenapa Abang bisa punya banyak teman, beliau jawab, " Jangan menilai dari rupa atau fisik. " 

Kemudian saya memerhatikan bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungannya. Kepada siapapun yang mengajaknya berinteraksi, reaksi abang sama baik dan santunnya. Beliau juga bilang, " Walau kita menemukan hal yang menurut kita buruk dari fisik atau penampilannya, nggak patut lah kita ungkapkan. Orang yang cerdas harus tahu mana yang harus diungkapkan dan tidak. Kalau ditanya, jawab tapi jangan menggunakan kalimat atau berekspresi yang membuat mereka terluka. Bullying nggak sekedar dengan perbuatan dan ucapan tapi juga dengan gesture dan tatapan mata. Siapapun, seperti apapun, punya hak diperlakukan sebaik mungkin. Saya juga bukan manusia sempurna... "

Dengan fisik seperti itu, Bang Shin bisa saja menjadi sombong dan meremehkan oranglain. Paling jawabannya akan sama seperti cowok - cowok memaklumi wanita cantik. " Cewek cantik mah bebas. " atau " Untung cantik." Tapi Bang Shin nggak melakukannya. Justru yang keliatan biasa banget yang suka kayak begitu. He he....

#EtaTerangkanlah

No comments:

Post a Comment