Thursday, August 3, 2017

Insecurity

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Akhir - akhir ini Dago dingin banget. Alhamdulillah, jadi ngerasa banget tinggal di Bandung. Sempat sih, panas. Sampai pas ganti baju, baru sadar kalau baju saya basah sama keringat. Tapi apapun cuacanya, saya selalu betah di Bandung. Walaupun hanya beraktivitas di daerah itu - itu saja, tapi rasanya berat kalau harus ninggalin Bandung. Bukan berarti nggak pengen sih. Cuma belum ada kesempatan dan izin saja.

Udara yang dingin, entah kenapa selalu identik dengan aktivitas kunyah mengunyah, ya? Adakah teman - teman yang seperti saya? Bawaannya laper mulu, pengen ngunyah mulu. Awalnya pengen yang manis. Udah abis, kok jadi pengen yang asin, ya? Udah yang asin, haus. Pengen minum yang dingin - dingin. Kok dingin, ya? Pengen yang anget - anget. Udah gitu, malah nambah laper. Ya udah deh makan makanan berat. Udah abis makan berat, pengen ngemil yang enteng - enteng. Sukro, keripik pisang, seblak kering, kastangel, kue salju, sari roti, indomie, baso cuanki, nasi padang...

Weekend lalu, saya ada agenda donor darah di pesantren. Tugas saya sebagai sekretaris. Tugas yang nggak semestinya saya sanggupi, karena ternyata kesalahan saya dalam tugas tersebut membuat semuanya chaos.

Di mata teman - teman,  acaranya masih sukses. Tapi bagi saya, saya hanya menyusahkan mereka. Terutama setelah teteh suster marah - marah ke saya karena form yang saya buat nggak sesuai maunya dia. Sedangkan saya membuatnya sesuai instruksi senior saya. Bersikap nggak ramah tapi pas depan teman - teman kembali ceria sambil gitu deh pokoknya. Hadeh. Maaf, teh. Saya mah nggak sesempurna teteh.

Banyak banget yang terjadi, teman - teman. Saya nggak tahu harus gimana. Paling sering sih saya merasakan nggak nyaman, nggak terima, nggak ikhlas, nggak mau dalam kondisi seperti itu, tapi di sanalah saya (harus) berada.
Saya bingung, dengan kondisi seperti itu, siapakah yang akan bertanggungjawab di hadapan Allah nanti?
Tapi saya berusaha meyakini bahwa Al - Qohar adalah salah satu nama Allah. Maha Memaksa. Kalau Allah nggak menghendaki saya hidup di frame seperti ini, mengabulkan doa - doa saya dulu, belum tentu juga saya akan menjalani hidup yang baik. Ikhlas adalah satu - satunya cara yang harus saya lakukan sekarang. Selain itu, Allah memang selalu memberikan yang terbaik kan buat kita? Jadi saya simpulkan, bukan lingkungan yang mengekang saya, tapi saya yang belum bisa (atau mau) untuk bertumbuh. 
Di usia sekarang, nggak lucu memang bila saya masih mencari apa yang membuat saya bahagia. Karena umumnya, orang di usia saya sudah merintis atau malah memetik hasil dari upaya - upaya mereka. Selalu iri pokoknya. Usia muda sudah mencapai ini itu. Tapi saya kembalikan lagi, ini udah ketetapanNya. Ketika usaha saya digagalkan, bukan berarti Allah nggak sayang. Tapi Allah punya rencana sendiri. Yang jauuuuh lebih indah dari rencana kita :)
Tahun 2017 adalah tahun hadiah buat saya. Luar biasa banget ketika banyaaaak sekali doa yang bertahun - tahun lalu dipanjatkan. Belajar di DT, berkunjung ke mesjid Lautze, Rappeling, bermalam di gunung, persiapan pernikahan, wah, semua deh. 
Saya bahagia, bersyukur dan bersemangat, tentu. Tapi sekaligus kaget. Ada sisi manusia yang berkata, " Duh, umur segini baru terkabul semua. Nggak bisa maksimal atuh cuma nyoba sedikit - sedikit karena diburu - buru menikah. " 
Tah, gitu manusia mah :(
Padahal Allah memberikan itu ke saya di tahun 2017 ini karena di mataNya tahun inilah saya siap. Tahun inilah saya layak menerima pengabulan - pengabulan doa. Marathon dikabul doanya. Walaupun saya jadi harus bersegera membiasakan diri dengan atmosfir baru. Seperti ketika tiba - tiba tawaran Satguna datang, belajar di DT, pakai kerudung panjang lagi, bersyahadat lagi, tiba - tiba semangat ke kampus tapi jadwal kereta udah nggak masuk ke jadwal kuliah dan mau ga mau tunda kuliah sampai nemu solusi terbaik. Pindah kerja atau berani pake motor, dan tiba - tiba dilamar dan resmi jadi calon bini orang, dan lainnya. 
Semua serba marathon. Instan, rasanya. Belum terbiasa dengan satu fase, harus membiasakan dengan fase selanjutnya. Semoga semuanya lancar, bisa berkah buat semua. Nggak tahu lagi harus gimana bersyukurnya :)

Tapi tetap ada satu sudut hati yang takut, yang masih skeptis, bener nggak sih ini teh terkabul? Gimana kalau Allah sekedar nguji aja kayak sebelum - sebelumnya? 

Kali ini, entah kenapa, jadi lebih banyak mikirin dunia. Mungkin karena sekarang udah mulai keliatan tujuan hidup walaupun samar. Nggak tahu gimana jemput rizki dan memaksimalkannya. Jika memang benar sukses saya ada di dunia farmasi, maka inshaa Allah Dia akan membukakan jalan. Saya udah (memaksakan diri) buat nggak melulu mendambakan passion (karena saya nggak punya passion nggak punya hobi nggak punya cita - cita) tapi sekarang lebih berfikir gimana caranya saya bisa lebih bermanfaat buat orang lain. 

Sekarang nggak lebih dari sesosok manusia yang sekedar bernafas. Nggak ada imbas apa - apa ke sekitar selain cuma nyusahin doang. 

It's OK. I'll take some time. Kalem. Apa - apa ada waktunya. Ada fasenya. Target saya, usia 30 sudah settle. Biarlah dua tahun ini saya membiasakan diri untuk ini itu, mengejar dan mengupayakan ini itu lebih keras daripada kelak. 

PR terbesarnya, keep going. Selama ini mundur karena takut. Takut ini itu. Belum lepas jiwanya. Semoga kedepannya lebih berani lagi. Semoga Allah menguatkan. Aamiin...

No comments:

Post a Comment