Saturday, August 19, 2017

Sakit

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Malem ini masih shocked sih, karena kemarin parno sama hasil konsultasi ke temen - temen. Gejala kolesterol, katanya. Sejak selesai Satguna, yang mana itu sudah sekitar 4 bulan yang lalu, pola hidup balik nggak baik lagi. Gak olahraga, sering banget minum air es. Jadinya tengkuk dan leher sakit banget. Udah minum painkiller tapi nggak ngaruh. Banyak yang bilang kolesterol, diabetes, darah tinggi...

Saya berusaha nggak peduli tapi rasanya terlalu sakit (halah bahasanya!). 

Saran Bu Nasya (Apoteker kantor), minum Nutrive Benecol aja. Alhamdulillah lumayan bisa lihat ke langit - langit tanpa terlalu sakit. Biasanya jangankan lihat ke langit - langit, ngangkat kepala sadikit aja haduh...

Difikir - fikir horor sih, umur belum 30 tahun, belum nikah, belum punya anak udah kena kolesterol. Tapi diakui juga gaya hidup memang nggak sehat. Betul atau tidaknya saya kena kolesterol tinggi, Inshaa Allah kedepannya mau diperbaiki. 


Gaya hidup saya nggak sehat. Gorengan saya konsumsi setiap hari sebagai sarapan sebelum kerja. Makan bakso. Berlemak - lemak dan minumnya es teh, jus dengan ekstra es, dan sejenisnya. 

Sejak dua tahun yang lalu, saya udah nggak bisa untuk nggak peduli sama kesehatan. Lebih bisa menerjemahkan emosi dan perasaan. Misalnya, ketika saya pusing, saya lemas, saya bahagia, saya sanggup, saya nggak sanggup, mau dan nggak mau, dan sejenisnya. Yup, baru dua tahun yang lalu.

Haha. 

Orang yang kenal dan merhatiin saya sih mungkin tahu gimana datarnya ekspresi saya dulu. Senyum aja susah. Muka teh ngerut terus. Entah karena parno, nggak enak badan, sedih, atau marah. 

Kalau saya ingat sih kok ya nyebelin banget, ya? Mungkin banyak yang tersakiti karena itu. Nggak enak badan sekalipun, nggak tau mana yang sakit, nggak tahu kenapa. Susah untuk mendeskripsikan sesuatu. Bukan susah sih, tapi nggak bisa. 

Kali ini sungguh berbeda banget. Saya kefikiran. Biasanya gak peduli. 

Saya juga capek berusaha menebak - nebak apa yang saya rasa. Karena dokter selalu bilang " Nggak apa - apa, kok " dibandingkan diagnosa jelasnya saya kenapa. Mimisan, migrain, myalgia, dll pun nggak disebutkan saya sebenernya saya sakit apa. Rasanya cuma dokter Lie Us yang nyebut saya sakit apa. Selainnya nggak nyebut kesimpulannya. Mungkin karena bingung denger penjelasan saya yang nggak jelas. Haha. Eh atau bisa juga karena kode etik dan sejenisnya. Apalah itu. Saya nggak tahu juga.

Saya selalu banyak mengeluh karena butuh yang merhatiin dan menenangkan (jyaaa!). Ketika A tidak mampu, saya cerita sama B, gitu terus sampai akhirnya saya capek sendiri nggak dapat respon sesuai. Memang susah yang begitu, sih. Malu sama Aa yang bilang nggak pernah mau ngeluh karena nggak mau bikin keluarga khawatir. 

Kemarin saya berjanji pada diri saya sendiri untuk bener - bener nggak nyari perhatian lagi. Hasil nasihat Mbak Nining, sih. Saya ingin seperti beliau yang tegar. Tangguh walau sendirian. Cuma ngandelin Allah aja. Bukan cuma sih da itu udah segalanya. Maksudnya nggak bergantung ke manusia gitu deh.

Rasa sakit menandakan kita ada. Hidup. Saraf masih berfungsi. Masih bisa merasakan sesuatu. Masih normal. Kalau nggak merasa sakit, mungkin badan mau terluka parah pun nggak kenapa - kenapa. Nggak ada rasa nggak suka. Mau memar segimana pun, ya udah. Nggak jadi masalah besar. Dan yang terpenting, nggak membuat kita lebih berhati - hati nantinya. 

Iya, kan nggak jadi masalah. Kalau jadi masalah, kita akan hati - hati agar badan kita ngga luka atau memar lagi. 

Memang susah mensyukuri rasa sakit itu. Yang ada pengen cepet sembuh. Misalnya seperti tengkuk saya sakit itu. Malah saya ingat - ingat, nggak pernah tuh bersyukur karena sakit tengkuk. Nggak pernah bilang, " Alhamdulillah, Ya Allah. Tengkuk saya sakit. Saya masih diberi rasa sakit dan ini menggugurkan dosa - dosa saya... "

Duh, saya mah jauh dari itu...

Doakan saya nggak kenapa - kenapa ya, temen - temen! Semoga dugaan kolesterol tinggi itu nggak tepat :)

Aamiin...

No comments:

Post a Comment