Friday, June 2, 2017

Ledakan

Assalamualaikum. 

Selamat jelang sahur. 

Malam ini saya nggak bisa tidur. Ngantuk sih, tapi... Masih ada yang memaksa otak saya berfikir. Tentang kejadian kemarin, yang sama sekali nggak pernah saya bayangkan akan saya alami. 

Kejadiannya sangat nggak menyenangkan. Jadi maaf ya, kalau postingan kali ini sungguh ngawur. Bikin galau. Bukan maksud pamer, tapi blog ini memang sengaja dibuat untuk menumpahkan pemikiran dan perasaan saya. 

Sejak dulu, saya sering berfikir. Kenapa sih di dunia ini harus ada orang galak? Yang nggak lembut. Yang pemarah. 

Kamu tahu kenapa?
Saya sering menghadapi orang pemarah. Walaupun saya sendiri nggak berarti bukan pemarah. Saya juga jengkelan. Egois. Tapi kali ini, sungguh baru saya alami.

Ada seseorang, yang baik dalam pandangan saya. Yang walaupun dingin dan datar, dia kadang membuat kejutan hangat. Sungguh karakter khas manusia bergolongan darah AB, katanya. 

Termasuk ketika itu. Kemarin, tepatnya. Ketika saya membuktikan rasa penasaran yang sebenernya menjadi hak saya untuk tahu. Tahu, dan kemudian marah. Merasa tidak suka. Tapi... ternyata nggak sesederhana itu. 

Saya baru betul - betul sadar bahwa nggak semua orang bisa menerima dan bertanggungjawab atas 'kesalahan' mereka. Saya bubuhkan tanda kutip, karena memang bisa saja mereka nggak sadar bahwa itu salah. 

Saya juga mengaku salah, karena telah menyampaikan dengan cara nggak baik. Saya nggak tahu mana yang lebih baik. Bertahan dengan kebohongan, atau jujur dan kemudian dihinakan. Ah, manusia sih emang hina. Yang mulia cuma Allah aja. 

Ego saya berteriak, rasanya nggak terima. 

Saya fikir, masih banyak wanita yang lebih egois dan menuntut banyak daripada saya. Yang rumahnya lebih jauh dari saya. yang mood - nya lebih nggak stabil dari saya. Tapi kejadian kemarin, sungguh membuat saya merasa menjadi wanita paling buruk di seluruh dunia. 

Pertanyaan lain muncul. Kenapa kok sepertinya saya nggak pantas diistimewakan? 

Kalimatmu tajam, pria. Saya nggak bakal lupakan. Bukan untuk membalaskan. Sekedar pengingat bila diri ini mulai lalai. Menjadi baik itu nggak mudah. Ketika kita baik, sebenernya itu kebaikan untuk diri kita sendiri, bukan? Meskipun nggak semua pihak menerima kebaikan kita. Bisa jadi bumerang sendiri buat kita, ketika kebaikan kita malah dinilai sesuatu yang melecehkan. 

Manusia marah karena dua hal. Dia emang nggak bersalah, atau dia marah untuk menutupi kesalahannya. Kamu yang mana? Saya nggak pengen suudzan. Tapi diri kamu yang membuktikan bahwa prasangka saya benar. 

Saya rasa, saya nggak ingin lagi bertemu orang setipe itu. Tidak sekalipun, untuk seumur hidup saya kedepannya. Tapi berkat dia, saya jadi tahu. Fisik dan penampilan berbanding lurus dengan kasih sayang yang akan kita dapat dari dunia. Dari orang - orang seperti dia. 

A, walau kamu memaki saya dengan panggilan 'anjing', saya bangga disamakan seperti anjing. Anjing adalah hewan setia dan cerdas. Mereka selalu percayapada ketulusan orang yang mereka sayangi. 

Dan dari semuanya, kali ini yang tersakit. 

Terimakasih. Semoga kita nggak pernah ketemu lagi :)

No comments:

Post a Comment