Saturday, May 6, 2017

Mengejar S.T

Assalamualaikum. 

Selamat malam. 

Malam minggu, nih. Siapa yang nggak ke mana - mana setiap malam minggu? Cung! Tadi beli perdana internet buat reload modem aja Cigadung macet. Apalagi jalan besar, ya? Kebayang jalan Dago gimana padatnya. Anehnya, makin malam makin padat. Orang - orang pada ke mana atuh, ya? Yang kebayang teh mereka mahasiswa, para eksmud, atau keluarga yang jarang punya waktu santai. Mereka memanfaatkan waktu weekend buat kumpul sama temen - temen atau keluarga. Bisa juga sama pasangan. 

Sebagai orang yang kebanyakan santai, saya malu setiap mau ngedumel. Biarlah sesekali mereka santai. Karena saya bisa setiap hari menikmati jalanan Dago (yang nggak nikmat kalo lagi macet mah T^T). 

Saya adalah mahasiswi semester 8. Semestinya begitu. Tapi sempat cuti panjang yang mengakibatkan saya harus ngambil semester 4 di saat teman - teman udah mulai nyusun skripsi. Hah, ada yang lebih menyedihkan daripada keduluan mantan move on. Yaitu keduluan wisuda. 

Saya berusaha banget ngumpulin motivasi buat menyelesaikan semester ini. Selalu seperti itu, sih. Saya kurang suka sesuatu yang 'rutin'. Yang harus dilakukan berulang - ulang dan sama, setiap harinya. Jadi ingat, zaman SD saya udah nggak betah sekolah. Prestasi nggak jelek - jelek amat, sih. Alhamdulillah memuaskan walau nggak bisa nyaingin Nurdin yang seumur - umur ranking satu. Tapi bahkan saat itu saya nggak mempermasalahkan ranking. Umur segitu udah sok tua nganggap skill lebih penting dari ranking. Haha. 

SD, malas sekolah. Tiap pagi pasti drama. Nangis nggak mau ke sekolah. Semua orang rumah ngomelin saya. Sering dicubitin juga biar mau sekolah. Tapi tetep nggak mau. Apalagi sejak di sekolah sering di-bully dan nggak punya teman. Sekolah tuh jadi tempat yang mengerikan daripada kamar lantai dua rumah kami yang bertahun - tahun kosong dan cuma ada bohlam kuning 5 watt aja.

SMP, sama! Malas juga ke sekolah. Saya lebih suka ngapain gitu di rumah. Toh pelajaran di sekolah nggak semuanya penting (halah!). Sekolah SMP tuh masa - masanya banyak kaget. Ngeliat temen naksir - naksiran, kaget. Ada yang pacaran sama sesama murid sekolah saya, kaget. Ada yang dandan, kaget. Meni udah pada tau make up dan parfum saat saya mandi aja masih jarang. Pada rajin nyisir dan pake seragam gaul di saat saya masih ga peduli ketika kerudung saya menceng - menceng dan muka hinyai berminyak ga jelas warnanya.

SMA.... ini paling drama. Kelas dua SMA, saya sempat nangis parah dan memohon - mohon sama mama biar diizinin berhenti sekolah. Padahal saya belajar di sekolah yang terbilang susah orang masuk situ teh. Sekolah yang persaingannya tinggi dan walaupun ripuh, saya bisa mengimbangi. Nggak payah - payah amat walaupun nggak berprestasi amat juga. 

Saya nggak suka sekolah. Di kelas, kita cuma duduk diam. Menyimak, mencatat, dan mengerjakan banyak soal. Bosaaaannn!

'Sialnya', saya malah PD melanjutkan sekolah ke jurusan yang terbilang susah. Teknik Kimia. Kimia murninya aja susah, apalagi Teknik Kimia. Begitu komentar yang sering saya dengar ketika orang mendengar jawaban saya mengenai jurusan kuliah. Saya cuma bisa senyum. Iya. Memang susah.

Yang baru saya sadari adalah, betapa banyak alasan saya untuk nggak ke kampus. 

Nggak, saya nggak malas. Saya cuma ga suka aja kalo harus lama - lama konsentrasi menyimak. Kenapa nggak metode tanya jawab aja, sih?

Saya sukanya diskusi. Ngobrol. Sambil ngapain jugaa, gitu. Kayak waktu jadi santrinya A Dea zaman SD dulu, kalau disuruh ngafalin sambil duduk, saya nggak bisa. Susaaah hafalnya. Kalau ngafalin sambil uget - uget, loncat - loncat, bahkan lari - lari di masjid, sebentar doang juga hafaaal! ^o^

Sampai hampir kepala 3 sekarang juga, rasanya masih sama. Masih seperti itu. Sayangnya, metode klik seperti itu nggak bisa selalu saya pakai. Sering sekali saya menerima ucapan nggak menyenangkan dan bahkan bikin down karena merasa diri ini aneh. Tapi dipaksakan belajar memang menyiksa. Sampai masa SMA, saya masih sering menangis ketika belajar dengan duduk bersama buku dan alat tulis. Huhu. Kecualiiiii kalau belajarnya sambil denger musik kencang - kencang. Dulu, saya dengernya Linkin Park. Mudah banget hafal dan fahamnya kalau sambil ada musik. Saya juga heran, bagaimana bisa musik seriweuh itu justru malah membuat saya bisa penuh berkonsentrasi ya? 

Sampai sekarang, saya sering ditegur adik saya karena belajar dengan memakai earphone. Kata dede, itu bikin nggak konsen. Padahal itu satu - satunya cara saya biar konsen. Beda metodenya, ya :)

Lagi - lagi, sayangnya, di kelas nggak bisa belajar pakai musik. Jadilah di kelas saya sering tidur aja ketika guru mengajar. Kalau SMA sih nggak bisa, karena guru kami ngajar di tempat yang lebih tinggi. Depan kelas ada tangganya. Jadi nggak bisa tidur soalnya kelihatan nanti. Bisa masuk buku dosa T^T

Bagaimanapun bagi saya yang nggak suka sama kelas dan sekolah, kuliah, rasanya menjadi wajib di masa sekarang. Karena bikin STRTTK (Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian) minimal harus D3 Farmasi. Nggak semudah zaman saya yang ketika lulus SMF sudah dapat STRTTK. Kenapa harus ada STRTTK segala? Karena kami tenaga medis yang harus 'legal' terdata. Sekarang, rasanya semua lowongan kerja yang ada mengharuskan pelamar memiliki STRTTK ini. Lah, bingung dong saya. Nggak bisa berpaling dari kerjaan yang sekarang, jadinya. Walaupun kuliahnya nggak farmasi lagi, sih. Huhu.

Jadi, bagi saya, harus kuliah kalau mau pekerjaan yang lebih baik. Ya yang sekarang juga baik sih, alhamdulillah. Tapi bagaimana dengan persaingan kedepannya? 

I was wondering, ada nggak ya, kuliah yang sesuai dengan saya? Terlepas dari itu, saya harus menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Gimanapun caranya. Saya jadi berfikir, ketika saya ngga bisa menyesuaikan diri dengan kondisi belajar yang tidak sesuai dengan metode yang saya suka, apakah saya menjadi siswi yang nggak survive dengan ketidaksesuaian lingkungan? Apakah orang yang baru bisa kuat dan menonjol ketika dia di 'habitat'nya kemudian bisa disebut orang yang tidak - memiliki - mental - tangguh - seperti - seorang - pejuang?

Saya berfikir semakin keras, ketika orang - orang yang lebih tua menasihati dengan, " Nikmati prosesnya. Nanti ada hasilnya. " sedangkan yang muda - muda bilang " Do what your love, wi! Cari passion kamu. "

Saya bingung, keduanya punya mekanisme survival yang berbeda. Saya simpulkan mungkin karena zamannya sudah berbeda. Orang - orang yang lebih tua bicara begitu karena mungkin perjalanan mereka seperti itu dan kita lihat banyak yang nggak sekolah tinggi dengan pekerjaan sederhana saja sudah mampu membangun 'kerajaan' mereka. Sedangkan teman - teman sebaya banyak yang bahkan masih mencari passion dan apa yang pas bagi mereka. 

Saya berfikir, apakah orang yang lebih tua juga kefikiran mencari apa yang sesungguhnya mereka mau? 

Kuliah, menyenangkan kok. Asal jangan dirasa. Makin dirasa, makin nggak suka. Saya masih harus berusaha menjadi sama seperti temen - temen yang lain. Yang setidaknya, walaupun sama nggak suka di kelas, mereka survive. Betapa saya menyadari lemahnya mental saya. Kelemahan ini, apa bisa jadi kekuatan? Hmm...

Untuk apapun, alhamdulillah :)

No comments:

Post a Comment