Tuesday, May 23, 2017

Hijrah : Anak DT, Murid Aa Gym

Assalamualaikum.
Selamat malam. 
Mata udah kriyep - kriyep, tapi rasanya kok masih pengen nulis sesuatu. Biar menjaga kewarasan dan kebersahajaan (naon atuh?).
Sejak awal tahun 2017, saya mulai membiasakan diri menuliskan prestasi apa saja yang sudah saya lakukan. Bukan, bukan yang berupa medali, piala, atau uang sebagai hasilnya. "Sekedar" apa - apa saja yang selama ini nggak bisa atau belum bisa saya lakukan. Entah karena kesempatan yang belum ada, kemageran yang merajalela, maupun alasan lainnya.
Semunya hal - hal simpel. Sesimpel saya bisa (punya niat) bikin kotak berpartisi buat nyimpen alat tulis kantor di laci meja kerja. Yang biasanya B banget alias berantakan dan apa adanya, jadi lebih terorganisir. Walaupun sekedar terbuat dari dus bekas oleh - oleh Tadashi Seto - san (Senior Manager di tempat kerja), tapi saat udah jadi, berbentuk dan berfungsi sesuai yang diharapkan, rasanya adalah... priceless. Puas banget. Kayak waktu liat mantan tikusruk, kamu tahu? 
Dan prestasi yang menurut saya tertinggi bulan ini adalah...


Munafik, memang. Saya pernah berjanji pada diri sendiri untuk nggak akan pernah pakai kerudung seperti itu lagi ketika saya menyerah saat ujian berat itu datang. Tapi siapa yang berani menolak hidayah? 
Saya sudah pernah cerita, bisa temen - temen baca di postingan ini. Tapi nggak tahu kenapa, sejak pakai lagi pekan lalu (mulai Senin, 14 Mei 2017), rasanya beda. Lebih tenang saja. Nggak seperti dulu lagi. Jika dulu pakai ini teh lebih dominasi rasa gamang takut omongan orang, kali ini saya lebih tenang. Mungkin karena sekarang yang pakai jilbab syar'i udah banyak jadi saya nggak dianggap aneh binti sesat lagi.

Sejujurnya, masih ada ragu, risih, malu, nggak PD. Tapi lagi - lagi semua itu nggak sehebat dulu mendominasi. Entah karena sekarang sudah trend seperti yang saya sebutkan di atas sehiingga yang nyinyir udah ga banyak, entah karena saya yang sekarang sudah lebih dewasa dan (agak) stabil, entah karena emang sekarang sudah lebih siap. 
Tapi ada yang ganjel. Ego saya kok ya masih belum nerima kalau ada yang bahas agama. masih malas dengarnya.

Ironic.

Maha Baik Allah mengizinkan saya cerita masalah ini ke Bu Esa yang juga temen sekelas saya selama 6 tahun di SD. Waktu itu saya bilang, mau menghilangkan takut dan trauma saya sama mereka yang menampakkan identitas keagamaan seperti jilbab dan pakaian syar'i atau jenggot dan celana ngatung (ini lupa istilahnya apa). Tapi kata Bu Esa, rasa takut dan trauma itu bukan untuk dihilangkan atau dilawan. Tapi dikendalikan. Ah, baru kefikiran. Bener juga. Bu Esa mah kayaknya dari lahir udah dilengkapi processor termutakhir. Wkwkwk. Semoga berkah ilmunya, bu. Love you.

Untuk ini, Allah juga menurunkan pertolongannya melalui cara lain. Kali ini melalui Ncess Moci yang ngajak ke Mesjid Lautze. Dimasukin grup "Himpunan Remaja Karim Oei", kumpulan ikram - nya Mesjid Lautze juga. Ini udah sangat menguatkan saya yang sebelumnya adalah seorang Agnostik. Kaget

Di fase ini juga, nggak tahu kenapa kok rasanya pengen lagi belajar baca Quran yang lancar, tartil, baik. Ngehafal lagi. Karena jujur, isi kepala saya yang biasanya super ramai jadi lebih terkendali. Selain itu, saya merasa sejak kecil sampai sekarang belum bisa memberi kebanggaan pada orangtua. Setidaknya, dengan menghafal al - Quran, saya bisa membuat kedua orangtua saya bangga dihadapan Allah kelak, ketika mereka nggak bisa bangga atas saya di dunia ini. Aamiin...

Nggak lucu banget, ketika saya bilang, " I love you, Papa! " (kalimat ini sering saya ucapkan pada kedua orangtua dan adik saya. Selama menunggu pria halal yang nanti akan saya ucapi kalimat ini setiap hari :p), tapi perilaku saya tidak mencerminkan kecintaan saya kepada keluarga. Pada Papa yang menanggung segala dosa saya, Mama yang sabaaaar mendoakan saya, dan adik saya yang semestinya mencontoh banyak hal positif dari saya.

Oiya, setelah tiga tahun nggak ngaji, sekarang saya baca Al - Quran juga sudah mulai lancar lagi, lho! Dibimbing Kang Amin, Teh Fani, sama Teh Umi. Semoga makin bisa menjaga tilawahnya. Doakan, ya! 


Namun dengan diambilnya keputusan ini, PR saya dalam memerbaiki diri bertambah. Sangat banyak. 

Terutama sesuai dengan judul postingan ini. Ketika berbuat bodoh dan absurd, orang beberapa kali berkata, " Duh, ini anak DT teh riweuh!", " Duh, si teteh. Muridnya Aa Gym. " atau yang terparah (sejauh ini), " Masa anak Aa Gym gitu? " padahal Aa sama sekali nggak kenal saya. Saya yakin ituhhh! ~_~

Yup, mau nggak mau, suka nggak suka, siap nggak siap, kita akan dituntut untuk terus lebih baik, bahkan dituntut sempurna dalam setiap usik sedikit sekalipun. Kalau nggak, yang jelek bukan cuma diri kita, girls. Tapi keluarga, guru, bahkan agama kita. 

Kata Mang Abon, " Hindari hal - hal yang dapat memicu omongan orang lain. Budaya DT mungkin berbeda dengan tempat kita biasanya hang out. " 

Setuju!

Bagi teman - teman yang sudah biasa dengan lingkungan islami seperti Teh Umi dan Mpit mungkin ini mudah. Tapi untuk saya dan teman - teman lain yang berada di lingkungan dengan atmosfer berbeda, tentu ini PR banget. Saya juga merasakan perbedaannya. Mulai risih kalau ada obrolan yang nggak terlalu penting, mulai risih kalau terlalu akrab dengan lawan jenis, dan sejenisnya. Tapi ada dilema juga, saya nggak mau jadi eksklusif. Terutama karena tiga tahun ini pergaulan saya umum dan bebas, juga lebih banyak punya kawan laki - laki daripada perempuan. Adek mah doyannya sama laki - laki soalnya, bang T^T

Saya masih ingin seperti Shin - Kun. Pengetahuan dan pengamalan agamanya hebat menurut saya tapi dia masih bisa berbaur dengan kalangan manapun, tanpa melepaskan identitasnya sebagai muslim yang baik. 


Bagaimanapun, pakaian dan sebutan " Anak DT " memberikan rem tersendiri bagi saya pribadi. Ketika mau berbuat ga jelas, jadi mikir lagi. Berbuat ga guna, mikir lagi. Dan lainnya. Walaupun sejujurnya agak gimanaa gitu dengan sebutan itu.

Sedikit - sedikit berproses, deh. Inshaa Allah. Sambil kembali diyakinkan bahwa Allah adalah satu - satunya yang pantas saya sembah, puja, dan mintai pertolongan. Yang harus selalu saya jaga dan cari ridha - Nya, dan juga harus saya utamakan dalam segala hal. 

Sulit, memang. Saya akui ini bener - bener nggak mudah. Tapi pertolongan Allah itu dekat, sesungguhnya. Adaaaa aja jalannya. Sedekat kening dan lantai saat bersujud, katanya. Karena Allah itu dekat. Lebih dekat dari denyut nadi kita sendiri. Kita yang suka nggak sadar kalau sebenernya Allah udah nolong kita. Udah jawab doa kita. Udah ngasih jalan buat kebuntuan kita. Cuma kitanya yang nggak peka. Makanya bang, belajar peka!

Dan untuk temen - temen yang membaca tulisan (ga jelas) ini, saya mohon, ingatkan kalau saya lupa, tegur kalau saya mulai bandel lagi, bimbing kalau saya belum tahu, kuatkan kalau saya lemah, jajanin kalau bokek, traktir dan kasih kado kalau saya milad.

Hidayah itu mahal, temen - temen. Nggak semua orang bisa dapat. Bagi yang sudah dapat, jagalah hidayah itu. Maka ia akan berbalik menjagamu. Inshaa Allah ^_^
 

No comments:

Post a Comment