Friday, April 21, 2017

Pernah bermula di sini...



“ Katanya, Al – Quran itu indah. apa sih isi Al – Quran itu? “

Pertanyaan itu menyeruak bersama ketakjubanku pada Alkitab yang selama ini kulahap.  Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk memeluk agama Katolik. Karena aku jatuh cinta pada ajarannya. Aku menyayangi pendeta dan guru yang biasa menjadi teman curhatku di sekolah. Aku menyayangi teman – teman yang tulus menerimaku di sekolah.

Aku nyaman dengan ajaran Nasrani. Meskipun aku terlahir sebagai muslimah dan dibesarkan dalam lingkungan muslim. Sayangnya, sampai usiaku menginjak digit belasan, aku belum menemukan ‘indahnya Islam itu sebelah mananya, ya?’. Karena di lingkunganku, ada perbedaan yang sangat kentara antara penganut ‘faham’ yang satu dan yang lainnya. Entah aku harus mendeskripsikan dengan apa, mungkin itu disebut mazhab. Satu sama lain saling menjatuhkan. Saling mengorek kesalahan dan kekurangan. Ah, ayolah. Beda organisasi aja diributin. Ribet!

Indahnya Islam hanya sekedar basa basi saja buatku. Nonsense. Bahkan ketika Papa memutuskan untuk menyekolahkan aku di sebuah sekolah Kristen, tetangga – tetanggaku yang sudah mendalami Islam cukup lama langsung meremehkan dan menyebutku ‘menggadaikan iman demi pendidikan’. Perih. Perih sekali. Memang sih, mungkin mereka menilai begitu karena dengan bersekolah di sana aku harus melepas jilbab yang baru 2 tahun kupakai.

Padahal selama satu semester, aku mengabaikan rasa malu untuk bolak balik ganti baju di ruangan pak satpam. Jadi gini, aku pakai kerudung dan serangam SMU panjang saat pergi dan pulang lalu ganti seragam betulan yang pendek di ruang satpam setiap datang dan mau pulang. Bapak - bapak satpam sudah tahu banget kebiasaan aku ini. Haha. Bahkan ternyata ibu kios di depan gerbang sekolah dan bapak - bapak tukang ojek di seberang sekolah sudah tahu kebiasaanku itu. Mereka bertanya - tanya kok ada anak pake jilbab masuk ke situ? Hehe...

Cuma pas masuk semester dua, semua personil satpam ganti. Aku lebay berfikir apa mereka dimarahi dan dipecat karena mengizinkan aku ganti baju di situ? Akupun berhenti ganti - ganti seragam padahal ternyata mereka diberhentikan bukan karena itu...

Tapi yang membuatku tak habis fikir, kenapa mereka tidak berbaik sangka atau bertanya dulu pada kami apa alasannya aku sekolah disana?

Aku sekolah di sekolah Kristen hanya untuk mencari ilmu dan disiplinnya saja. Bukankah dalam hadits disebutkan, ‘Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina’? 

Aku yang awam ini mengartikan, tak apa kita belajar bahkan sampai ke negeri Cina yang komunis sekalipun!

Sekolah di sana membuatku belajar banyak hal dan semuanya adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga guru - guru dan staff di sana selalu sehat dan dalam perlindungan Tuhan. Jesus bless you all, bapak dan ibu :)
Simpatiku terhadap Islam menurun drastis. Lingkunganku memang Islami, tapi aku tumbuh menjadi anak yang bandel. Tak mau mengaji, apalagi shalat. Orangtuaku tak kurang mendidikku. Mama menegurku terus menerus, mulai dari cara lembut sampai kasar. Tapi entah kenapa aku bebal. Entah apa yang menghalangiku dari ibadah – ibadah wajib itu.

Dan perlakuan tetangga – tetangga saat itu membuatku makin antipati pada agamaku sendiri. Bahkan, saat itu aku nggak percaya kalau Allah itu ada.

Hari itu, Minggu. Aku berantem sama mama. Melawan beliau, seperti biasa. Aku menyakiti hati mama lagi. " Ngapain sih mama belain orang - orang yang sering nyakitin kita? " Teriakku saat itu. Dengan kesal, aku lari ke kamar. Menyetel radio keras - keras. Entah kenapa, saat itu yang pertama terdengar adalah lantunan adzan Dzuhur. Badanku langsung beku rasanya. 

Biasanya, aku nggak suka dengar adzan. Berisik. Kalo ada adzan di radio, pasti langsung aku pindahin salurannya. Tapi  yang ini beda banget. Aku ngelanjutin dengerin radio itu dan ternyata itu adalah radio MQFM dan yang adzan tadi adalah Aa Gym. Ulama yang selama ini kudengar dari orang sekitar merupakan ulama yang sesat karena mengajak umat berdoa sampai nangis - nangis. Belum lagi di DT banyak lagu nasyid. Selama ini aku tahunya nasyid itu haram karena kita berdoa dan memuji Allah dan NabiNya melalui lagu. Sama kayak ajaran agama Nasrani.

Tapi dari MQ - lah, saya semakin penasaran, islam itu seperti apa sih?

Berangkat dari pertanyaan itu dan dari beberapa ceramah di radio, aku mulai membuka mushaf – ku yang sudah usang.

Kubaca terjemahnya perlahan. Ya, tentu hanya terjemahnya saja. Saat itu, meski usiaku sudah 16, aku belum bisa membaca huruf hijaiyah. Hanya sedikit saja sisa belajar di mesjid dekat rumah saat kecil dulu karena aku sering kabur kalau disuruh ngaji :p

6 bulan mendalami agama Nasrani lewat kebaktian tiap hari Sabtu, renungan tiap pagi sebelum kelas dimulai, dan diskusi dengan bapak pendeta yang dikenalkan temanku, guru – guru dan teman – teman memang membuat hatiku tenteram sekali. Mereka nggak mengajakku mengikuti keyakinan mereka tapi aku sendiri yang ingin hidup damai seperti mereka. Dalam agama mereka nggak ada tuh saling ngatain karena beda gereja. Semua baik - baik aja, ibadah sama - sama. Orangtua dan keluarga tentu saja nggak tahu karena aku nggak pernah cerita apapun sama mereka. Aku bandel, tapi bukan berbuat onar. Melainkan nggak bisa di atur karena setiap apapun yang mereka bilang, aku nggak mau dengar dan lakukan.

Tapi kali itu, aku baru membaca beberapa ayat dari surat Al – Baqarah, hatiku sudah meleleh. Ada getar halus yang menelusup dalam hati dan membuatku lemas seketika.

“ Alkitab memang indah. Tapi Al – Quran jauuuh lebih indah. “ Fikirku saat itu. Aku memeluk Quran – ku sambil menangis. Tapi aku tak tahu, bagaimana aku harus mempelajarinya? Membaca tiap hurufnya saja aku belum bisa. Aku memendam keinginan ini beberapa lama. Seperti keinginan berpindah agama yang juga kutunda. Aku ragu. 

Hingga suatu hari yang cerah, hari kedelapan di bulan Juni 2004, sahabatku berulang tahun yang ke – 17. Dan tanpa fikir panjang, aku menjebol (lagi) celenganku untuk membelikan sebuah Al – Quran untuknya. Ini yang kedua kali kujebol celengan setelah aku melakukannya seminggu yang lalu untuk membeli benda yang sama. Dia baru mulai berjilbab. Jadi kufikir, hadiah Quran pasti akan sangat Ia sukai.

Begitu Ia membuka kado dariku, Ia memelukku sambil menangis haru dan menggumamkan terimakasih. Dalam peluknya, aku berkata : “Ren, Aku mau belajar Islam”.

Tanpa kuduga, tangisnya menderas. 

“ Alhamdulillah, Ya Allah. “ Pekiknya. Saat SMP aku memang cukup nakal. Tak heran dia bahagia mendengar keinginanku ini. “Uwi, Reni baru gabung di Rohis sekolah. Kamu boleh ikut “

“ Rohis itu apa? “

“ Kerohanian Islam “

“ Aku kan bukan murid sekolahmu “

“ Gampang. Pakai saja rok abu – abu. Kau takkan ketahuan. “

Bismillah, aku ada di sana. Sebuah mesjid sederhana di salah satu SMK negeri. Mendengar penuturan Akang dan Teteh pementor, bertemu dengan sahabat – sahabat yang tulus, dan membantu kerja bakti di mesjid menjadi satu yang membuatku bahagia. Meski mereka tahu aku tidak satu almamater dengan mereka, mereka tetap mendukungku dan menyambutku dengan tulus. Sejak saat itu, setiap hari Sabtu, sepulang sekolah, aku langsung ke Solontongan berbekal semangat dan seragam SMU panjang karena seragam sekolahku nggak putih - abu dan pendek. Ikut duduk di masjid, menyimak kang Nyanjang bercerita.

Tak ada diskriminasi. Mereka membantuku belajar shalat, menghafal huruf hijaiyah, asmaul husna, dan hadits – hadits. Rapat, jadi panitia acara, hadir di majelis – majelis, seolah menutup rasa antipatiku pada kaum Muslim. Aku nggak ngerasa orang lain di antara temen - temen. Mereka open banget. Terharu, duh.

Indahnya Islam betul – betul terasa saat aku bersama mereka. Teman – teman Rohis.
Rohis menjadi syariah Allah menurunkan hidayahNya, hingga keinginan berpindah agama pun sirna. Rohis menjadi syariah Allah mengenalkanku pada siapa aku ini, untuk apa aku hidup, dan kemana kita setelah mati nanti.

Dari Rohis aku belajar pula berempati pada teman.
Dari Rohis aku belajar pula bertutur kata lembut namun tegas dalam prinsip.
Dari Rohis aku belajar pula berbakti pada orang – orang yang mencintaiku.
Dari Rohis pula aku belajar berkasih sayang.

Jadi, tak hanya ilmu Allah yang kudapat. Cara menjalani hidup dengan baik pun kudapat dan kulatih dari sana.

Meskipun aku bukan murid sekolah itu, aku merasa bahwa aku miliknya. Milik SMK Negeri 3 Bandung. Milik teman – teman. Milik ummat. Merasa sepenanggungan dan solidaritas yang mendalam. Bahkan setelah lulus pun, beberapa guru di sana lebih mengenalku daripada Reni. Mereka menyapaku hangat, bukan Reni. Hihi. Reni sempat cemburu padaku, tapi hey, SMKN 3 itu milik kita semua. Ngga perlu lah cemburu begitu.

That was amazing experiences. Alhamdulillah. Dari sanalah, semua petualangan hidupku bermula...

To be continue...
 

No comments:

Post a Comment