Friday, April 14, 2017

Gamang Pelantikan


Assalamualaikum.

Selamat pagi. 

Long weekend, nih. Jumat, hari ini, libur. Harusnya saya ikut pelantikan Satguna dari kemarin sampai Ahad depan. Tapi, semua ga bisa sesuai rencana...

Sedih, sih. Udah gitu diomelin sama Eyang. Tapi jadi PR banget buat saya. Harusnya saya lebih menjaga niat dan semangat saya. Nggak gampang luruh gara - gara inget pengalaman pahit di masa lalu.

Sebetulnya sudah sejak ada ribut - ribut penentuan tanggal pelantikan, saya gamang. Bisa nggak ya izin ga kerja dan ikut pelantikan?

Bukan belaga sibuk, tapi si sampo nggak bisa ditinggal dengan tenang. Saya berdoa agar Allah menjadikan saya orang yang sabar dan kemudian Allah memberikan saya project ini. 

Maafkan, sungguh maafkanlah kelemahan saya...
Dua minggu sebelum hari H, saya semakin gamang. Bisa nggak ya, pelantikan?

Saya kemudian membuat to do list sampai H-1. Duh, kok sepertinya nggak memungkinkan, ya? Sebagai orang yang lebih memercayai hasil hitungan matematis daripada kalimat " Kita bisa kalau optimis, yakin dan berfikir bisa ", saya meminimalisir pekerjaan dengan lebih sering pulang terlambat dari tempat kerja. Yang kemudian secara otomatis membuat saya harus membolos dari kuliah juga. 

Banyak drama yang terjadi pula. Dua minggu sebelum pelantikan, kaki saya kram dan mau ga mau jadi ga bisa diklat mingguan. Karena sakit banget rasanya. 

Weekend selanjutnya, badan saya panas. Sangking drama -  nya, sampai - sampai saya membuat Mama menangis karena melihat saya menangis sambil bilang saya gak sanggup hidup dengan banyak tuntutan seperti ini. Tempat kerja yang jauh banget dari rumah dan menghabiskan gaji dan waktu saya untuk transportasi, kerjaan yang nggak selesai - selesai, malah terus bertambah dari waktu ke waktu, kuliah yang udah nggak saya inginkan lagi karena pengen di tempat yang lebih bagus, dan kali ini, memilih menghindari apa yang saya inginkan (Satguna) untuk berfokus pada tiga hal sebelumnya, yang sebenernya nggak saya inginkan. 

Ketika semua pihak menuntut saya seperti itu, kok rasanya nggak adil ya?

Selasa lalu, saya mencoba ngomong sama atasan untuk minta izin cuti Kamis ini. Mau pelantikan. Berbekal surat izin dari senior, saya bicara. Sebelumnya, minta izin papa juga sempat nggak diizinkan. Beliau khawatir aja, banyak kejadian orang hilang di gunung apalagi saya akan ada di atas sana selama 4 hari. Kelamaan, kata orang tua saya mah.

Saat izin papa saya dapat setelah sebelumnya strict melarang, atasan saya juga mengizinkan asal project saya selesai. Oh, syarat yang sungguh sulit saya penuhi. 

Saya harus istihkarah. Tapi kenapa kemudian saya menjadi lebih tenang ketika memikirkan untuk nggak ikut pelantikan?

Alhamdulillah, saya punya tim yang luar biasa baik. Mereka mengusahakan dan meyakinkan saya untuk tetep ikut sampai selesai. 

Senior saya juga baik banget. Saya dikasih kesempatan bergabung mulai hari Jumat. Saya kembali bingung, tapi baru saat itu saya mengakui, saya nggak ikut bukan karena saya nggak bisa usahakan, tapi karena TAKUT. 

Ketakutan itu datang kembali dan masih sulit saya eliminir. Saya berlindung dari setan yang menghalangi dari segala kebaikan.

Oke, kali ini, jelas saya mengecewakan keluarga baru saya. Tapi bukan cuma mereka. Diri saya sendiri sesungguhnya sangat kecewa. Semestinya saya mengukur diri dari awal, tidak hanya modal mau aja. Tapi juga pantas atau tidak saya ada di sana. 

Saya nggak bakal (lagi) menyalahkan oknum - oknum yang membuat saya merasakan paranoid ini. Sekarang saya mulai meng-introspeksi diri aja. Bukan kenapa dulu saya bisa kejebak, tapi kenapa sampai sekarang saya masih parno. Hebat sih mereka. Tapi semestinya saya lebih hebat dalam mengendalikan diri saya, kan?

Saya merasa dipencundangi diri sendiri. Ah, ga ada harganya lagi. Mungkin nanti nggak punya muka buat ketemu keluarga saya lagi. Yah, kembali lagi ke dalam liang di tanah saja...

Semoga ini memang keputusan terbaik. Saya nggak bakal pernah lupa kenangan 3 bulan ini. 

Fabiayyi a'laa irabbikumaa tukadzibaan?

No comments:

Post a Comment