Sunday, March 26, 2017

Semua Serba Yang Pertama (2)

Assalamualaikum.

Selamat siang.

Inshaa Allah ini adalah lanjutan Chapter pertama.

Di sini saya mau cerita perjalanan kami di hari ke dua. 

Kami masak sarapan dan makan siang. Kemudian Kang Epi sama Abah Soma datang. Secara udah jam 07.15 dan kami belum kumpul deket masjid. Padahal jam kumpul pagi tuh jam 7, kata Kang Rusel. 

Sama Abah dikasih tahu banyak hal. Terutama soal cara bertahan dalam hutan. Seperti untuk menghindari kesasar, kita bikin bacokan kecil dan sedikit di batang pohon sebagai patokan. Yang ditandai adalah sisi yang bakal kelihatan saat kita turun. Juga dikasih tahu beberapa jenis tumbuhan liar yang bisa dijadikan makanan saat survival. Pengalaman memang parameter yang baik. Abah menguasai medan banget. Secara beliau sudah aktif di kerelawanan sejak sebelum tahun kelahiran saya.

Akhirnya kami sampai titik kumpul jam 07.40 dan harus kumpul lagi jam 08.30 setelah sarapan dan shalat dhuha.

Kelompok 1 masak sarapan

Kami praktek navigasi setelahnya. Teori - teori baru yang masih bikin bingung di malam sebelumnya udah jelas banget setelah praktek. Hal baru, belajar baca kompas, bidik patokan, baca peta, Compass-man juga. Menyenangkan banget. Seriusan. Tapi sepanjang agenda, kepala saya berkunang - kunang. Pusing muter. Malah setelah shalat dzuhur mau lapor Teh Evi kalau saya nggak kuat. Tapi nggak sempet bilang.

Compass - man
Foto di atas adalah sesi pertama di hari ke dua. Kami harus menentukan titik 90 derajat untuk kemudian menentukan posisi teman kami di seberang sana. Setelah teman kami ada di titik 90 derajat dari kami, teman kami itu harus membidik balik dengan sudut 270 derajat untuk memastikan bahwa bidikan saya benar dan posisi dia sudah sesuai.




Kami selesai jam 11.30 lalu makan siang. 

Habis dzuhur, saya dan teman - teman compass-man lagi dengan rute lebih ekstrim!


Jika sebelumnya hanya di tanah datar, kali ini di medan landai. Ampuuun!




Tujuannya memang melawan rasa takut dan meningkatkan daya jelajah. Biar kita nggak takut nerabas semak dan bergerak cepat walaupun sedang tidak berada di jalan setapak. 

Luar biasa banget rasanya, ketika bawa tas besar dan berat, harus berjalan di tanah landai dan bidik membidik seperti foto di atas. Sudutnya pun berbeda. 30 dan 330 derajat. 

Saya beberapa kali hampir jatuh. Tapi kami tetap ceria. Rasa takut saya perlahan habis setelah beberapa meter bergerak. Saya juga melihat Kang Aef dan Kang Sihab yang menjadi tulang punggung kelompok ini. Mereka yang maju duluan sekaligus memastikan Saya, Mbak Nining, dan Teh Drian selamat dan baik - baik saja. Belum lagi Kang Sihab harus tukeran ransel sama Mbak Nining karena udah nggak kuat. Mbak Nining harus sangat menjaga tulang belakangnya agar nggak terlalu lelah karena sudah pernah cedera.

Saya capek dan takut. Ingin sekali mengeluh, tapi saya melihat Kang Aef dan Kang Sihab selalu tersenyum walau porsi tugas dan beban mereka lebih besar dari saya.

Resiko jadi cowok, katanya.

Saya jadi ingat pada papa. Beliau juga begitu ya, tempat bergantung sekeluarga. Walau capek harus tetap bertanggungjawab penuh. Saya nggak boleh manja. Kalo manja, nanti konsentrasi teman - teman saya terbagi. Mereka harus menjaga saya juga. Otomatis 'beban' mereka bertambah, walaupun saya yakin mereka tidak menganggapnya beban. 

Bismillah, harus bisa. Akhirnya, walau tetap dengan bantuan mereka buat pegangin webbing  beberapa kali, saya bisa jalan di medan seperti itu. Teamwork sangat diperlukan. Juga saling percaya. Bukan saling mengandalkan. Karena semua sudah punya beban masing - masing. Nggak boleh nambahin lagi beban kita ke mereka. Semua harus bergerak demi tercapainya tujuan. 

Saat turun, teh Drian keseleo. Kami semua khawatir. Alhamdulillah beliau nggak apa - apa. Bisa pulih dengan segera. Inshaa Allah.



Jam 2, peluit ditiup. Tanda sesi sudah selesai. Kami kumpul dekat Al - Karim sekaligus penutupan. 

Saya sangat bersyukur semua sudah selesai. Kami semua saling mengagumi diri sendiri karena semua nggak nyangka bisa melalui semua rangkaian diklat pekan ini. Dahsyat. Ternyata batasan diri kami masih bisa dilampaui karena memang bisa. Allah membuat kami bisa. Melalui tangan dan pengawasan para pelatih, kami bisa.


Walau capek tetep ceria karena kami menjalaninya dengan penuh sukacita
Semoga saya, kawan - kawan Satguna 7, pelatih, panitia, dan pihak - pihak lainnya diberi kesehatan, dimudahkan semua urusan, diberkahkan usia dan rizkinya, selalu dalam perlindungan dan penjagaan Allah. Semoga usaha kami ini bisa bermanfaat buat orang banyak. 

Klik like, share dan aminkan doa ini agar masuk surga. 
*dilempardusindomi*

No comments:

Post a Comment