Sunday, March 26, 2017

Semua Serba Yang Pertama (1)

Assalamualaikum.

Selamat pagi. 

Hari ini saya libur kerjanya. Alhamdulillah. Karena jadwal libur tanggal merah yang semestinya besok jadi digeser hari ini. Biar bablas, katanya. Menyesuaikan dengan jadwal tim produksi juga di tempat kerja karena besok saya ada jadwal kerja bareng mereka. Doakan lancar, ya!

Hari ini saya terbangun dengan badan yang super pegal - pegal sehingga rasa syukur saya semakin bertambah atas liburnya hari ini. WooHoo!

Kemarin, saya menjalani serangkaian agenda yang betul - betul baru saya alami. Sampai nggak tahu harus ngomong apa, karena terlalu bingung ngebedain beneran kenyataan apa ngayal doang. Hihi. Karena bahkan saya nggak merasa saya sanggup dan sudah bisa melalui semua rangkaian acaranya. 

Saat itu saya sudah selesai packing dan kemudian mama bilang kalau papa juga nggak bakal ada di rumah weekend ini. Terfikir untuk membatalkan presensi diklat pekan ini, tapi mama meyakinkan untuk ikut. Rasanya nggak tega membiarkan mama sendirian di rumah, karena mama orang yang penakut dan nggak pernah jauh dari kami. Kalaupun ada yang pergi, ada yang lain yang menemani. Tapi kemarint tidak begitu. Adik saya juga menginap di Soreang karena menghadiri Basic Training Taekwon Do yang diadakan UKM Tae kwon Do UPI, almamaternya. Papa juga pergi. Beliau ada kerjaan di Jakarta sehingga jelaslah sudah, mama sendirian weekend ini :(

Hari Sabtu, saya berangkat kerja habis subuh biar bisa pulang lebih cepat. Kalau jam 1 udah bisa ninggalin lab, saya berharap bisa bersiap pergi lebih cepat juga. Tapi apa mau dikata, lalu lintas Padalarang - Dago macet seperti biasa. Belum lagi matahari yang super terik, membuat saya meleleh sempurna di dalam angkot. Exhausted banget rasanya. Dari Rohto jam 12.30 sampai Dago 14.45. Gustiiiiii!

Capek dan ngantuk banget rasanya. Belum belanja keperluan yang kurang untuk diklat dan nanti jam 4 sore ada jadwal kuliah. Rasanya pengen tidur, tapi nggak boleh sampai ketiduran. Banyak yang belum dikerjakan walau badan agak demam.

Memantapkan niat, jam 17.30 saya berangkat ke DT. Nggak kuliah :D

Saya menatap tas besar yang sesak di hadapan saya. Pertama kali bagi saya mengenakan ini. Walaupun cukup sering hiking, tapi tasnya nggak segede gini. Cuma pake tas 40L aja. Bukan yang 65 + 10L seperti ini. Kemudian mama nanya, " Kuat gitu kak, pakenya? " 

Bismillah, dengan PD saya kenakan. Kalimat pertama yang muncul di benak adalah : ADUH!

Gila itu berat sekali :))

Nggak kuat, tapi gengsi da di depan mama :p 

Berangkatlah saya naik gojek. Sampai DT, kelas sudah dimulai karena memang mulai jam 16.00 kan ya. Kami belajar Navigasi Darat dari Abah Soma, salah satu super seniornya kerelawanan di Indonesia.

Lagi - lagi saya melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Belajar baca peta dan segala tentangnya. 

Amazing ya, selembar kertas yang awalnya saya fikir 'cuma' penunjuk arah dan lokasi saja, ternyata ada banyak makna dari tiap gores garisnya. Kita juga bisa tahu kontur daerah tersebut hanya dari peta. Baca pake protaktor dan menentukan koordinat kita. Sungguh ya, semakin kita tahu, semakin banyak yang ternyata kita belum tahu :)

Protaktor
Hal kecil memang sering mengajarkan hal yang lebih besar daripada dirinya sendiri, setuju? 

Ternyata nggak susah menentukan kita lagi ada di mana ketika di alam terbuka. Cukup membidik patokan pertama dan kedua dengan kompas bidik, lalu menarik garis perpotongan. Kemudian, menentukan titik koordinat dengan bantuan protaktor tersebut.

Kompas Bidik

Dari hasil perhitungan tersebut, kita juga bisa tahu jarak tempuh yang di butuhkan untuk menuju ke lokasi tersebut, lho! Keren, kan?

Kelas selesai sekitar pukul 22.00 malam. Konon, akan dilanjutkan dengan perjalanan panjang ke Subang karena kami disuruh bawa peta daerah Sagala Herang, Subang. Tapi ternyata nggak ke Subang tapi ke Situ Lembang.

Kami diminta berkumpul depan Daarul Hajj untuk repacking isi tas sekaligus diperiksa kelengkapannya. Kata Teh Welly, tas akan terasa berat dan besar ketika kita nggak menata isinya dengan baik. Hati juga gitu kali, ya *nahakadinya

Kami diminta membongkar isi tas dan mengumpulkannya di atas bentangan ponco. Jujur, packing tas juga baru tahu ilmunya malam itu. Jam 23.00, panitia sudah mulai menegangkan. Saya mulai khawatir atas kelanjutan nasib saya selanjutnya, mau diapakan kira - kira? 

Dari DT, kami naik angkot ke Terminal Parongpong. Tepatnya sebelah Villa Istana Bunga, tempat saya dan teman - teman Santika KBB menyambut kedatangan Pak Anis Matta dulu. Ih gening jalannya jauuuuuuhhh pisaaaaaannnnnnn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tengah malam kami baru sampai Curug Pelangi dan masih menyisakan perjalanan panjang menuju Cijanggel, tujuan kami malam itu. Udah gitu teh beberapa kali melalui area yang nggak ada penerangan jalannya. Ngandelin kerjasama tim, senter kecil, dan konsentrasi aja. Badan rasanya udah remuk. Sama kayak hati setelah ditinggalin sama kamu. Selain remuk, badan juga panas dan nafas sesak, sama kayak waktu nerima undangan nikahan mantan atau gebetan. 

Saat itu saya berfikir, sanggup nggak sih menjalani semua ini? 

Apalagi temen - temen bilang, pelantikan biasanya berlipat lebih berat lagi. Hati sempat bicara, " Nggak deh, nggak sanggup. " 

Tapi sekarang saya sudah di sini. Saya harus menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Walaupun demikian, saya masih ragu untuk melanjutkan diklat ini. Kaget, jelas. Ini bukan hanya mendobrak zona nyaman saja, tapi betul - betul nggak jadi diri sendiri. 'Sialnya' saya suka dan bersyukur dapat kesempatan ini. 

Kami sampai juga di Cijanggel dengan selamat. Dengan badan yang serasa sudah dipreteli. Malam itu, sambil denger Kang Rusel berbicara, saya menatap langit. Kangen sekali dengan mama yang sedang sendirian di rumah. Mama lagi apa, ya? Apa sudah tidur? Sudah makan? Pengen banget video call, tapi ponsel kami dititipkan di panitia semua. Cuma leader yang boleh bawa. Badan selelah ini, tentu jauh lebih lelah mama saat melahirkan saya. Apalagi sejak mulai hamil sampai saat ini, detik ini. Nggak ada bandingannya. Kemudian saya jadi merasa malu kalau harus mengeluh. Apalagi menyerah...

Setelah istirahat beberapa menit, KAMI MASIH HARUS NAIK KE LOKASI SOLO BIVAK!

Saya memutuskan untuk, udah pasrahin aja. Saya masuk Satguna tanpa paksaan. Sehingga ketika saya memilih masuk Satguna, otomatis saya menerima dan pasrah atas program yang sudah dibuat para pelatih dan panitia. Kalau ga rela ya tinggal out aja dari diklat, toh. Allah memilih saya untuk berada di sini dan saya percaya penuh pada panitia. Itu saja. Keun nafas mah ngos ngosan juga da nanti ada masanya saya nggak bisa bernafas lagi. Jadi ngos ngosan separah apapun tetap harus disyukuri. Berarti saya masih bisa nafas. LOL.

Saya sering mendengar dan melihat foto mereka yang lebih dahulu melakukan Solo Bivak, tapi belum ada gambaran apa dan bagaimananya. Sampai di lokasi pun bingung mendirikan tenda tuh gimana. Alhamdulillah dibantu sama Mbak Nining, leader kami pekan itu. Saya bersyukur letak bivak kami nggak terlalu berjauhan. Jadi kalau ada apa - apa bisa mudah minta bantuan, fikir saya. Kami merentangkan webbing dan menyampirkan ponco. Kemudian menarik keempat ujungnya. GIrang banget rasanya saat bivak udah jadi. Ihiw!

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ada sisa waktu satu jam menuju shalat malam dan harus dimaksimalkan. Awalnya mau tidur tanpa matras karena mikir ribet besok paginya ketika beberes, tapi pas masuk bivak saya disambut banyak hewan kecil, teman baru saya satu  bivak. Ah bukan, saya tamu mereka. Setelah minta maaf sebelumnya ke mereka, saya merebahkan badan. Ah, luar biasa rasanya.

Angin gunung yang berhembus ganas membuat saya mengigil. Saya mengambil cardigan (gak bawa jaket karena tas udah penuh banget) dan kembali meringkuk dalam bivak karena memang nggak cukup kalo terlentang. Diiringi sayup suara Mang Abon dan Nazmi yang masih ngobrol santai, saya menerawang jauh. Menatap langit - langit bivak yang sebenernya nggak jauh. 

Kami di sini atas izin Allah, dengan niat berbeda tapi tujuannya sama. Menjadi diri sendiri yang lebih baik dan lebih bermanfaat buat orang lain. Akhirnya malam itu saya mengalami tidur di hutan, di alam bebas, dengan suasana super tenang walau fikiran tetap ramai. Betapa saya bersyukur, Allah Maha Baik. Luar biasa baik. Doa saya waktu kelas 6 SD, 16 tahun yang lalu dikabulkan saat itu, malam itu. Pengen nyoba camping. Walaupun usia sudah segini, tapi semangat saya nggak boleh kalah sama yang muda :))

Beberapa saat setelah kontemplasi, saya tertidur.

Udara menggigit banget saat itu. Saya menyalakan headlamp dan ternyata sudah jam 4 pagi. Subuh sebentar lagi. Mbak Nining teriak dari dalam bivaknya. " Ada yang udah bangun? " Cuma saya yang menjawab, dan kami ngobrol sedikit. Kemudian yang lain ikut terbangun. Mbak Nining mengabsen kami dan kami menyahut, masih dari dalam bivak masing - masing. 

Saya meregangkan kaki yang sudah kram akibat semalamn terlipat. Udara semakin nggak bersahabat. Mengigil sekali. Rasanya pengen nyanyi lagu " Come Josephine " da berasa jadi Rose pas ngambang di laut di atas papan kayu di film Titanic. 

Pagi buta, kami ngumpul, bareng - bareng menuju mesjid Al - Karim di bawah. Setengah berlari menuruni bukit supaya badan lebih hangat. Kaki kaku dan badan mengigil nggak dirasa karena bentar lagi Allah manggil. Adzan subuh menjelang. Godaan selanjutnya adalah, boro - boro wudhu, kaki nempel lantai kamar mandi aja merinding sebadan - badan. Salut sama santri - santri sini yang tentu harus terbiasa dengan itu semua. 

Setelah shalat subuh dan setor hafalan, kami kembali ke bivak untuk masak sarapan dan makan siang. Suasana cair banget. Kami menikmati banget momen itu. Masak di hutan, berbagi makanan. Nyeduh kopi dan minum rame - rame. Alhamdulillah, seneng banget. Meski begitu, saya masih aja banyak bengong. Menatap wajah temen - temen satu per satu dan berusaha menyerap energi positif mereka. Sungguh, betapa kami saling melengkapi dengan karakter masing - masing.

Benar dugaan saya selama ini. Hutan jauh lebih menyenangkan dari pusat perbelanjaan.

Ngapain aja kami di hari kedua? Bersambung ke chapter 2, yaaa! ;)

No comments:

Post a Comment