Tuesday, December 6, 2016

DnD Siaga Stalker!

Asalamualaikum. 

Selamat sore.

Tetumbenan ya, saya mood nulis sore - sore. Ya mood nulis mah ga pagi ga malem juga jarang ada sih sebenernya :p 

Adakah di antara kawan - kawan pembaca yang punya blog tapi moody juga nulisnya? Saya kok gitu banget, ya. Sebenarnya dalam kepala tuh rameee banget. Malah sering dialog sama diri sendiri, tapi untuk beberapa hal kok susah dikeluarkan termasuk lewat tulisan. Bagaimanapun, benak yang ramai (bahkan hati sering perang sama fikiran. LOL) adalah suatu siksaan yang nikmat bagi saya. Sakit kepala, pasti. Sesak, iya. Tapi semuanya seperti melodi tersendiri yang sudah biasa bergaung dalam diri saya ^_^

Oke, kali ini saya mau berbagi kejadian semalam, tapi sebelumnya saya mau bercerita mengenai salah satu media sosial favorit saya dan klub kesayangan di dalamnya. 

Di blog lama, saya pernah cerita soal hobi saya menggunakan Beetalk. Udah lama saya pakai aplikasi ini dan seru banget karena ada berbagai klub yang bisa diikuti, sesuai hobi dan minat kita. 

Kurang lebih sudah dua tahun saya bergabung dengan Discuss and Debate. Salah satu klub yang memfokuskan diri sebagai forum diskusi dan debat - debat gemes antar member di dalamnya. Grup ini dibuat oleh salah satu sahabat saya, Bang Bayu alias B. Nggak ada medsosnya jadi nggak bisa saya tambah link nya di sini. Hehe. Sedangkan saya diamanahi sebagai admin. 

Semalam, kami (sekitar 5-6 orang) member lagi asyik bahas Freemasonry. Saya seneng banget ya, secara itu grup udah cukup sepi setelah hampir semua member lama eksodus ke aplikasi lain, yaitu Telegram Messager

Tahu - tahu Mbak Yousee (Yusi) masuk ke room dan marah - marah. Saya menyimpulkan begitu dari bahasa dan penggunaan capslock di seluruh huruf yang beliau ketikkan. 

Mbak Yusi mempermasalahkan salah satu member yang kedapatan men-stalker beberapa member lain. Entah bagaimana caranya, si Q ini berhasil mendapatkan data member - member yang "setengah menyamarkan identitasnya". 

Bang Aji, misalnya. 

ID beliau di room hanya 'A' saja dan tanpa foto jelas. Saya rasa Google Pic juga susah ya nyarinya kalo dari foto seperti itu. Entah foto asli atau bukan juga kami nggak tahu. Tapi Q berhasil mendapatkan foto Bang Aji ini bahkan sampai foto seluruh keluarganya. 

Sebagai perempuan, saya merasakan sekali kekhawatiran mbak Yusi ini. Siapa yang nggak parno kalau data pribadinya bisa didapatkan begitu saja oleh orang yang entah siapa nama aslinya, entah orangnya seperti apa, bahkan entah gendernya sebenarnya apa, yang hanya dikenal saat diskusi di room saja. 

Memang, di zaman sekarang mah mudah ya mendapatkan data oranglain. Kalau data saya yang tetiba nyebar mah wajar. Secara saya pecicilan dan eksis di banyak medsos. Tapi kalau yang dituju orang - orang yang tertutup dengan medsos, bagaimana? 

Ditambah lagi, saya ini orang yang gaptek. Gagap teknologi. Nggak terlalu ngurusin kehidupan oranglain juga, jadi jarang sampe kepo soal hidup oranglain. Mungkin mudah aja ya untuk tahu hal seperti itu, tapi bagi saya, ini cukup wow sih. 

Saya juga sering mendapati ada orang yang tiba - tiba mengirimkan foto saya. Entah yang dia ambil dari medsos, entah dengan cara ala ala jadi paparazzi. Saya takut sih. Awalnya saya nggak kefikiran ada yang minat simpan - simpan foto saya (bahkan ada yang ngaku dia pajang di kamarnya!) karena saya merasa nggak terlalu menonjol. Cuma anak introvert yang lari ke medsos. Tanpa prestasi, tanpa kebanggaan. Merasa nggak terlalu diperhatikan oleh dunia dan ah buat apa juga ya begitu segala. Tapi ternyata...

Saya termasuk orang yang seneng eksis walau sebenarnya sudah tahu dan mengalami resiko seperti itu. Jadinya kita nggak punya privasi yang cukup dan oranglain mudah mengetahui seperti apa dan bagaimana kita.

Apalagi bagi muslimah, hal ini tentu riskan ya. 

Takutnya dijadiin bahan khayalan, jadi fitnah, dan lain sebagainya. Naudzubillah

Kita nggak bisa menghalangi oranglain untuk mengusik privasi kita kalau nyata - nyata kita bagi dan kita nggak bisa juga menghentikan rasa ingin tahu oranglain terhadap kita. Jadi, mau nggak mau, harus kitanya yang memasang 'pagar aman' dan menyimpan apa yang layaknya disimpan saja. 

Akhirnya, saya berdiskusi berdua melalui japri sama Bang Bayu. Kami pusing. Jujur. Hahaha. Tapi resiko sebagai pengelola room sih, ya. Jadi ya sebaik mungkin harus dicari jalan keluarnya. Apalagi Mbak Yusi sebagai member lama dan terkenal dengan argumen berat namun tajam ini bilang mau keluar dari grup kalau masalah ini nggak selesai. 

Akhirnya kami sepakat buat nanya dulu ke Q ini, apa bener dia ngelakuin itu semua? Buat apa? Karena harus ada penjelasan dari kedua sisi, bukan? 

Semoga semuanya cepat selesai, ya!

No comments:

Post a Comment