Sunday, December 25, 2016

Cirebon Dadakan (3) : Sunan Gunung Jati

Assalamualaikum.

Oke, chapter tiga ini, saya mau cerita soal tujuan selanjutnya di trip Cirebon bulan lalu. Awalnya saya mau skip aja, tapi sayang banget kalo nggak ditulis. Biar saya dan orang - orang tersayang bisa baca dan ingat semua kejadiannya kalau kelak kami lupa. Biar jadi kenangan, ya :)

Nggak terlalu jauh dari tempat makan kami, kami sampai di makam Sunan Gunung Jati. Beliau adalah satu - satunya Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Courtesy of : Google

Kompleks Makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektar. Terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Jaraknya kira-kira 6 km sebelah utara Cirebon. 

Bapak kelewatan beloknya, jadi harus putar balik. Di sebelah kiri, ada plank bertuliskan " Makam Sunan Gunung Jati " tapi bapak terus melaju. 

" Pak, itu makamnya di sana! " Teriak saya.

" Bukan yang itu. Itu makam guru beliau. Syaikh Datuk Kahfi dari Baghdad. Nggak tahu kenapa kok ada petunjuknya kayak gitu. Makam Sunan masih di depan. " 

Saya dan tedhy hanya bisa manggut - manggut. Nggak jauh dari situ sih, jalan ke makamnya. Turun dari mobil, suasanyanya udah kayak Banten lama. Banyak orang jualan di pinggir area makam. Suvenir, makanan, minuman, dan lainnya. 

Matahari semakin terik. Saya melirik jam tangan, ternyata sudah hampir jam satu siang. Kami belum shalat dzuhur. Saya udah membayangkan akan begitu menyegarkannya wudhu di mesjid nanti. Semoga airnya nggak jadi hangat karena udara yang panas ini. Tapi saya keburu teringat kalau saat itu saya lagi berhalangan shalat. Mungkin wudhu saja cukup, ya. 


Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.

Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangidari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana/Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung (Cirebon).

Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah (Raja Demak) adalah keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

Sejarah yang lebih lengkap bisa baca di sini, karena data di atas juga saya copas dari situ. Hehehe...

Kami melangkah masuk ke gerbang area makam. Rupanya sama seperti Banten lama dulu. Hampir tiap 2 meter ada kotak sumbangan. Nggak sampai 2 meter, mungkin. Sekedar beberapa langkah saja jaraknya. Dan bapak petugasnya juga 'agak' memaksa. Ini kali ketiga saya ke tempat ziarah setelah sebelumnya ke Pamijahan, Tasikmalaya dan ke Banten Lama. Di Pamijahan nggak terlalu seperti ini, lah. Ini mirip kawasan Banten Lama.

Waktu di Banten Lama, saya masih kaget dengan sistem sumbangan seperti ini. Tapi kali ini udah lebih terbiasa dengan banyaknya yang minta sumbangan dari segala usia. 

Bapak ngajak kami ke mesjid belakang area makam karena katanya lebih nyaman dan lebih besar daripada mesjid yang disediakan oleh pengelola makam. Saya nggak tahu apa sebenarnya dikelola oleh pihak yang sama atau berbeda. 

Jalan menuju mesjid melalui gang yang nggak terlalu lebar. Sepanjang jalan berjejer warga (mungkin) yang duduk dipinggir gang sambil membawa wadah plastik agar orang yang melintas bisa sekalian memasukkan uang mereka sebagai sedekah ke sana. Saya sempat kaget ketika ada seorang ibu yang kira - kira berusia 30an tahun tiba - tiba menyodorkan wadahnya tepat ke hadapan saya yang sedang berjalan. Duh. Kagetnya kayak ditodong. He he. 

Tapi kami terus berjalan. Bukannya nggak mau ngasih atau pilih - pilih dan banyak mikir dalam sedekah, tapi sepertinya sedekah ke kotak yang ada di masjid lebih baik. Biar dikumpulkan oleh pihak masjid, untuk nantinya didistribusikan dengan lebih baik pada mereka yang membutuhkan.

Kami akhirnya tiba di masjid. Mesjid itu namanya Masjid Astana Sunan Gunung Jati. Aneh sekali, saya merasa sangat familiar dengan masjid itu. Padahal ini pertama kali saya ke sana. Saya nggak berani ambil foto di sana, karena takut nggak etis. Masa di masjid foto - foto. 

Dengan linglung, saya mengikuti bapak. Sampai tiba di sebuah tempat wudhu. Mungkin itu khusus laki - laki, ya. Saya nggak tahu juga sih. Hehe. Tapi bapak - bapak yang seperti pengurus masjid nggak negur saya. Jadi mungkin itu bisa buat laki - laki dan perempuan juga. (?)



Ini bak air tempat wudhu yang bapak bilang waktu itu. Bapak pernah cerita soal bak ini jauh sebelum kami berencana ke sini. Sebenernya di dalam bak ini ada ikan yang sengaja dipelihara. Ikannya juga gede - gede banget. Hihi. Mungkin sejenis ikan nila. Nggak tahu juga, sih. Bapak bilang, sumber air bak ini nggak pernah kering, sepanas apapun musimnya. udah gitu, di bagian dasar kolam ada lubangnya. Saya tengok dan menemukan banyak uang koin di dalamnya. Kata Bapak, mungkin aja ada orang yang percaya 'khasiat' bak tersebut dan melempar koin ke dalamnya, keinginannya akan terkabul. Wallahu a'lam.

Bapak ngajak kami buat ambil wudhu di Mata Air Kahuripan. Letaknya persis di sebelah bak itu. Agak ke belakang dikit, sih. Pas saya tengok, banyak laki - laki di sana. Saya nggak jadi ikut. Kan saya pemalu. *dijitak*

Saya memutuskan untuk cari tempat dan duduk menunggu sampai mereka selesai shalat. Bingung juga sih, mana tempat perempuan, dan mana tempat laki - laki. Ada sudut khusus perempuan yang disekat dengan triplek, tapi ada juga perempuan yang shalat di luarnya. Mungkin semacam lounge ya, kalo hotel mah. Pas masuk, di situ ada lemari kaca yang berisi Al - Quran yang kelihatan lama sekali. Katanya, itu quran dari masa Sunan Gunung Jati. Wow!

Pap yang di depan saya, saat nunggu Bapak dan Tedhy shalat
Bangunan - bangunan di kompleks makam ini sangat unik dan artistik. Akulturasi budayanya kental banget antara Jawa - Arab - Cina. Jawa - nya dari bentuk bangunan, Arab - nya dari kaligrafi - kaligrafi, dan Cina - nya dari porselin di sekitar area makam. Di masjid itu juga ada banyak loh, piring - piring porselin cina seperti yang bisa dilihat di foto. Foto ini saya ambil karena saat saya tanya ke seorang bapak di sana, katanya boleh ambil foto. Walaupun tetap berasa gak etis, tapi ini terlalu bagus buat dilewatkan. Mohon maaf kalau ada yang nggak berkenan. 

Ada kisah unik dari akulturasi Cina di sepanjang areal. Benda-benda tersebut dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Ratu Rara Sumandeng dari Cina sekitar abad ke-13 M. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, tetap saja, semuanya terlihat terawat dan masih bagus. saya juga mengkaitkan akulturasi Cina dengan Puteri Ong Tin Nio yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati juga yang berasal dari Cina. Masya Allah. Unik dan menarik, bukan?

Setelah Bapak dan Tedhy selesai, saya beranjak dan mulai bersiap menjelajahi area makam. Nunggunya nggak terlalu bosan karena warga dekat masjid ada yang memutar dangdut koplo dengan volume fantastis. Hahaha. Jomplang, ya? :)

Kami kembali menapaki jalanan yang dimeriahkan oleh para peminta sedekah. Petualangan dimulai dan terasa semakin seru ketika kami melangkah masuk ke gerbang makam. Total semuanya ada sembilan tingkat, dan makam Sunan berada di tingkat ke sembilan. Tingkat satu sampai delapan adalah makam keturunan beliau. Makan orang - orang hebat yang membaca namanya saja sudah membuat saya takjub. 

Keseluruhan area ini disebut Wukir Sapta Rengga. 

Keunikan lainnya tampak pada adanya sembilan pintu makam yang tersusun bertingkat. Masing-masing pintu tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda, secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: pintu gapura, pintu krapyak, pintu pasujudan, pintu ratnakomala, pintu jinem, pintu rararoga, pintu kaca, pintu bacem, dan pintu kesembilan bernama pintu teratai. Semua pengunjung hanya boleh memasuki sampai pintu ke lima saja. Sebab pintu ke enam sampai ke sembilan hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati sendiri.

Kami menyusuri area dan akhirnya sampai ke atas, walaupun tidak tepat ke depan makam Sunan karena itu khusus keturunan. Di pintu pertama dari bangunannya, ada makam puteri Ong Tin Nio yang saat itu dipenuhi peziarah Tionghoa. Puteri Ong Tin Nio adalah puteri kaisar Yung Lo dari Cina. Jadi mungkin mreka bermaksud menziarahi leluhur mereka juga. 

Suasana mistis kental sekali karena banyak dupa dinyalakan. Entah kenapa saya selalu dapat kesan mistis dari dupa, walaupun sebenernya nggak mesti bertujuan mistis juga. Saya suka arsitektur makamnya. Kesan etnis Tionghoa kental sekali dengan banyaknya aksen keramik.

Kami harus mengisi daftar tamu dan memberikan infaq seikhlasnya di pintu masuk, tapi Bapak nggak melakukannya. Mungkin karena Bapak adalah keturunan keluarga kesultanan Cirebon, ya. Daftar tamu itu katanya untuk tamu umum. 

Kiri kanan rutenya dipenuhi ratusan makam orang hebat. Saya tak henti berdoa untuk mereka. Karena takjub juga. Saya semakin ingin tahu, seperti apa kelak saya akan dikenang oleh generasi saya selanjutnya, ya?

Sampai di sisi tembok makam Sunan, Bapak ngajak kami tawassul. Mendoakan Sunan dan keturunannya. Berdoa biar Cirebon makin makmur dan masyarakatnya sejahtera. Sekaligus merasakan aura perjuangan para penyebar agama Islam kala itu. Lagi - lagi dengan iringan musik dangdut koplo bervolume fantastis yang diputar warga sekitar :D

Hari semakin sore, dan masih ada tujuan selanjutnya. Yaitu Makam Syaikh Datuk Kahfi atau dikenal juga dengan nama Syaikh Nur Jati, yang petunjuk makamnya membuat saya salah duga di awal tulisan ini. 

Selintas masih sama. Hanya tanpa masyarakat peminta sedekah sebanyak di makam Sunan. Ada banyak anak tangga yang mengantarkan peziarah ke makam Syaikh dan banyak juga peziarah Tionghoa. Akulturasi budaya yang indah :)

Kami nggak lama di sana. hanya mengamati Bapak dan Tedhy tawassul, sambil saya kontemplasi bahwasanya saya juga akan mati. Suatu hari nanti, entah kapan. Bersiap dari sekarang, karena 'entah kapan'-nya itu yang masih misteri. 

Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penerus penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat, dan putera dari Syekh Datuk Ahmad. Ia juga merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan.
Datuk Kahfi adalah tokoh perintis dakwah Islam di wilayah Cirebon. Ia menggunakan nama Syekh Nurjati pada saat berdakwah di Giri Amparan Jati, yang lebih terkenal dengan nama Gunung Jati, sebuah bukit kecil dari dua bukit, yang berjarak 5 - 6 km sebelah utara kota Cirebon, tepatnya di desa Astana Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon. 
Di antaramurid-muridnya, murid yang tercatat sangat cerdas adalah Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat.
Pada suatu ketika mereka berkumpul di Pasanggrahan Amparan Jati, dibawah pimpinan Syekh Nurjati. Mereka semua murid-murid Syekh Nurjati. Dalam sidang tersebut Syekh Nurjati berfatwa kepada murid-muridnya :
“Wahai murid-murid ku, sesungguhnya masih ada suatu rencana yang sesegera mungkin kita laksanakan, ialah mewujudkan atau membentuk masyarakat Islamiyah. Bagaimana pendapat para murid semuanya dan bagaimana pula caranya kita membentuk masyarakat islamiyah itu?”.
Para murid dalam sidang mufakat atas rencana baik tersebut. Syarif Hidayatullah berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat islam sebaiknya diadakan usaha memperbanyak tabligh di pelosok dengan cara yang baik dan teraturPendapat ini mendapat dukungan penuh dari sidang, dan disepakati segera dilaksanakan. Sidang inilah yang menjadi dasar dibentuknya organisasi dakwah dewan Walisongo. 
Seru, kan?
Masih ada tujuan terakhir dari rangkaian cerita ke Cirebon ini. Bersambung ke chapter 4, yaa! Inshaa Allah ^^

Sumber : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Datuk_Kahfi
https://budayacirebon.wordpress.com/2011/04/28/makam-sunan-gunung-jati-wisata-religi-di-cirebon/
http://gunung-jati.blogspot.co.id/2013/02/doa-dupa-dan-peziarahan-cirebon-bagian.html


No comments:

Post a Comment