Tuesday, October 18, 2016

#Menuju28

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Alhamdulillah, baru selesai makan siang, nih. Kalian udah makan siang atau belum? 

Rencananya, semalam saya mau nulis sesuatu. Tapi nggak jadi karena kepala udah sakit banget dari siangnya. Jadilah minum analgetik dan tepar. Bisa touchdown kasur saat jarum pendek jam masih menunjuk angka sembilan rasanya amazing banget. Saya nggak ingat kapan terakhir bisa rebahan santai di jam segitu. Sepertinya memang harus dikasih sakit dulu biar bisa istirahat :(

Oke, karena nggak konsen nulis, jadilah semalam saya me - repost beberapa tulisan lama. Kalau temen - temen berminat, mangga di baca dengan label Dibuang Sayang. Ya, karena sayang kalo sekedar menuhin laptop atau teronggok di FB saya. Karena blog lama saya sudah dihapus terkait lupa nomor hp untuk notifikasi login -___-

Anyway, apa sih yang mau saya tulis? 
Apa cuma saya di sini yang ngerasa kalau bulan Oktober itu cepet banget berlalu? Tahu - tahu tinggal sisa kurang dari dua minggu aja, nih. Saya baru sadar usia saya akan berubah bulan ini sekitar dua bulan yang lalu. Iya yah, sisa dua bulan lagi usia saya di angka 27 :)

Usia 27, tapi nggak berasa 27. Kenapa? 

Karena saya merasa belum nambah tanggungjawab. Apalagi masih kuliah gini, kan. Di mana temen - temen sekelas (bahkan kakak tingkat juga) hampir semuanya berusia lebih muda. Yah, berat untuk diakui tapi itulah kenyataannya. Saya harus menyelesaikan PR saya yang lain terlebih dahulu sebelum akhirnya mantap memutuskan untuk mengenyam bangku perguruan tinggi. 

Usia ini, rasanya makin turun aja kualitasnya. Setahun terakhir, saya lebih manja. Lebih nurut sama keadaan. Kalo dulu kan, senengnya bangkang. Ha ha. Tapi nurut nggak selamanya baik, saya rasa. Tahun ini buktinya. 

April 2016, adikku wisuda. Berarti tugas orangtuaku memberikan pendidikan terbaik buat dede sudah selesai. Tinggal memercayakan dede melanjutkan hidupnya dengan peran dan fase selanjutnya. Ada rasa sedih juga, harus menghadiri wisuda adik dengan status yang masih sama. 

Mahasiswa, karyawan, dan ... SINGLE.

Rasanya kayak jalan di tempat, tau nggak :))

Emang nyaman sih, dan saya rasanya belum pengen meninggalkan segala yang ada sama saya sekarang. Termasuk status. Walau siap, tapi sekedar siap. Hukum menikah masih sunnah bagi saya, tapi hukum menuntut ilmu akan selalu wajib sampai kapanpun. Motivasi untuk lulus cumlaude seperti adik saya membuncah, walau saya sendiri masih terbatas ini itu. Terutama stamina. 

Okeh, next, yang paling membayangi adalah... keputusan saya untuk "bersederhana" dalam beragama. 

Ada sedikit sesal ya, kenapa dulu di ujian jilbab dan akidah saya nggak lolos. Nggak bertahan. Nggak berjuang lebih lama. 8 tahun, dan semua seolah nggak berbekas. Tapi sejujurnya ada rasa lega yang luar biasa ketika melihat Mama nggak pernah menangis lagi karena omongan orang soal pakaian dan idealisme saya. Walaupun sekarang mereka membalik omongan dengan, " Neng (panggilan Mama), si Kakak kok bajunya jadi biasa, ya? " dan Mama kemudian mengadu pada saya dengan ekspresi malu. Padahal saya nggak lepas jilbab. Nggak jilboobs. Nggak pindah agama. 

Dibalik keinginan untuk 'kembali', ada rasa takut yang saya rasakan. Di antaranya : 
1. Gimana kalau mereka mengkritik lagi dan menyakiti perasaan orangtua saya lagi dengan lontaran kata - kata mereka yang seolah memvonis? 
2. Gimana kalau saya ketemu dengan oknum - oknum yang berbuat jahat dibalik topeng agama seperti dulu?
3. Gimana kalau saya harus kembali berjuang sendiri menata hidup sesuai apa yang saya inginkan dan yakini, di saat diri ini sudah terbiasa sejak kecil diaturin sama orangtua dan hanya tinggal melaksanakan tanpa berfikir ini itu? 

Ah, masih banyak deh.

Ingin sekali saya kembali ke masa lalu, merjuangin apa yang saya mau, karena ternyata, mendengar kata dunia pun nggak cukup untuk mereka yang terlalu banyak bicara? 

Ya, saya tahu, jalan Allah tuh susah. Delapan tahun saya mencoba. Dua tahun terakhir saya fikir akan lebih mudah karena udah ga di jalan Allah tapi ternyata sama beratnya, ya. Tantangan akan selalu ada. Dan saya akan selalu berjuang sendirian. 

Hikmah dari dua tahun ini adalah, sejak saya membuka diri, saya mempelajari sangat banyak soal kehidupan. Soal apa - apa yang sebelumnya hanya saya yakini sebagai "ini pahala itu dosa" tanpa tahu kenapa. Saya punya banyak teman yang mengajari saya menjadi lebih manusia. Sesuatu yang nggak (atau belum) saya dapatkan dari komunitas lama saya.

Rasanya kayak... baru punya nyawa. Oh, gini ya hidup teh :)

Indah, memang. Cuma, untuk tahun selanjutnya, saya harus tegas pada diri sendiri untuk membangun istana saya. Merapikan apa yang masih berantakan, dan menambah printilan ini itu di sana sini. Terlambat, gitu deh. Tapi ya, selama masih hidup, saya rasa nggak apa - apa berusaha. Harus malah.

Fikiran rasanya lebih tertata setelah masuk bulan Oktober ini. Udah makin kebayang apa aja yang mau dan harus saya lakukan kedepannya. Mohon maaf bagi para kritikers, nggak bakal semuanya saya dengar lagi. Saya akan mendengarnya sebagai masukan saja. Bukan tuntutan. Da saya nggak punya duit juga kalian nggak ngasih jadi maafkan kalo keinginan kalian nggak semua saya turutin. Nih saya kasih upil aja buat kenang - kenangan. 

Oke, rasanya siap memasuki usia 28. Udah punya bayangan mau ngapain aja. Walau memang harus berlari kencang banget sih. Tapi harus siap. Udah cukup main - mainnya. Tapi sih kalau bisa, saya ingin jadi orang yang religius tapi gak mau eksklusif. Teman saya bilang, bergaul dan beragama itu seperti dua titik berlawanan. Ga bisa beriringan. Ya, zona tengah aja deh kalo gitu. Nakal nggak, eksklusif juga nggak. 

Dede udah makin dewasa. Udah nggak butuh banyak contoh lagi, sepertinya. Karena adikku memang orang yang berkarakter sejak awal. Jadi dia lebih "matang" dibanding saya yang hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan ngikutin omongan orang. Sekarang pun, kalau saya kasih tahu, dia sudah punya pendapat dan pendirian sendiri. Dan saya senang akan hal itu. Selama masih baik, akan selalu saya dukung. 

Tinggal saya dan Dek Tedhy. Kami masih harus banyak belajar dan berusaha mencari. Doakan ya kami bisa jadi sebaik - baiknya manusia, alias manusia yang bermanfaat bagi orang lain. 

Ah, masih banyak yang mau saya tulis. Nanti, inshaa Allah, kalau saya kuat, berani dan sanggup mengingat kembali, saya akan bercerita soal bagaimana saya menghabiskan masa awal usia 20, ya! Buat pelajaran aja bagi semuanya :)

Oke, sebentar lagi udah masuk jam kerja. Kerja adalah ibadah dan sebentuk rasa syukur. Jadi harus sungguh - sungguh. Semangat!

No comments:

Post a Comment