Tuesday, October 18, 2016

Malaikatku

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Kau terlalu bersinar untukku. Tentu, karena kau adalah malaikat dengan sayap putih membentang. Hingga aku tak sanggup berlama – lama menikmati lembut tatapmu. Hanya mampu menatap sedetik, lalu kemudian membuang pandangan. Aku tak bermaksud menyinggungmu, namun apa dayaku bila akhirnya kau berfikir bahwa aku membencimu.
Kau terlalu tinggi untukku. Tentu, karena kau adalah malaikat dari langit lapis ketujuh sedangkan aku hanya sebatang kaktus yang hidup kesepian ditanah tandus sini. Sulit rasanya bagiku naik kesisimu, dan aku yakin, sulit pula bagimu menyadari keberadaanku.
Kau tak mungkin kugapai. Tentu, karena dengan sayapmu itu, kau bisa terbang kesana kemaridengan riangnya. Sedangkan aku hanya seekor ikan kecil yang ditakdirkan menyelam sepanjang hidup. Aku ingin terbang bersamamu, namun aku tak bisa meninggalkan takdirku.

Orang bilang, malaikatmu itu hanya turun sekali.  Entah kapan waktunya, tak ada yang tahu. Ia bisa menjelma menjadi pangeran berkuda putih, sosok penuh wibawa dengan kemeja rapi dan kacamatanya, pemuda urakan dengan banyak tato, atau bahkan malaikat yang mencabut nyawamu kelak. Ya, untuk yang terakhir itu, kurasa setiap orang pasti mengalaminya. Yang kumaksudkan adalah, seseorang yang bersosok malaikat, namun sejatinya ia pencabut ruh – mu. Ruh yang membuatmu ceria dan bersemangat menghadapi hari.

Aku menantikan kehadiran malaikatku. Sejatinya aku tak tahu, apakah orang yang membawa separuh sayapku itu akan datang kapan dan dalam wujud apa. Atau mungkin dia sudah pernah datang?
Kau tahu, seseorang yang berhasil meniupkan ruh kebangkitan padaku? Ruh yang sungguh memberiku semangat dan membuatku sadar arti hidup. Menjadikanku seorang hamba yang mengenal siapa Tuannya. 
Malaikatku itu berusaha sabar padaku, namun apa yang kulakukan? 
Aku baru sadar bahwa dialah malaikatku, setelah ia melayang jauh dengan kedua sayapnya yang terbentang luas. Mungkinkah aku menyusulnya kelangit sana dengan sayapku yang hanya satu? Ya, ia belum menyelesaikan tugasnya. Mengubahku menjadi malaikat pula. Karena malaikat hanya akan bersanding dengan malaikat, bukan?
Aku heran. Mengapa bisikan iblis lebih merdu daripada nyanyian malaikat hingga manusia lemah dan bodoh sepertiku terbuai dan menafikan kehadiran sang malaikat.
Kebencianku bertunas. Mengapa dia pergi begitu cepat? Mengapa ia tak bisa lebih bersabar menanti sayapku lengkap dan kokoh? Aku membencinya. Sangat!
Apa kini aku telah berubah menjadi iblis?
Hm, mungkin.
Aku merasa seperti iblis yang terjebak dalam raga malaikat. Hm, meski Cuma malaikat setengah jadi. Aku senang melanggar aturan yang dulu diamanahkan oleh malaikatku. Senang, tapi masih ada sesal dalam hatiku. Masih ada rasa bersalah bila aku melakukan hal buruk. Mungkin aku belum berubah menjadi iblis. Baru setengahnya saja, mungkin? Bahkan seperenambelasnya saja aku tak mau. 
Dan kini, malaikatku itu mungkin takkan kembali. Namun aku menginginkannya. Tak ada cara lain, aku harus mengokohkan sayap ini sendirian. Tanpa dia. Dan meski sayapku sudah kokoh, kurasa ia takkan utuh. Mungkin hanya sebuah sayap mungil yang mengepak pelan meski aku berusaha. 
Kau tahu kenapa?
Karena malaikatku telah membawa pergi sayapku yang satunya…
Ia membawanya karena diriku tak kunjung mengubah diri agar sayapku lengkap dan mampu menghuni langit bersamanya.
Bila aku membesarkan hatiku, mungkin ia membawanya agar ia selalu mengingatku.
Kini, aku sudah bisa untuk tak menyalahkannya namun masih harus sangat berusaha tak menyalahkan diri sendiri. aku harus melengkapi sayapku. Harus. Meski malaikatku tak kutemukan kembali, aku akan menemukan malaikat yang lain.
Kuharap,malaikatku itu akan datang kembali. Entah dalam wujud apa, entah kapan, entah dimana. 
Aku percaya, ada yang bisa mengutuhkan separuh sayap ini. Entah itu malaikat, seperti malaikatku yang dulu, ataupun sesama makhluk lemah dengan satu sayap juga, hingga akhirnya kami saling melengkapi untuk dapat terbang.
Suatu hari…

Maaf. Penantianku sampai sini saja. 6 tahun, cukup? Aku tak bisa membiarkan semuanya berlarut. Meskipun aku iblis, aku ingin menghabiskan waktuku bertransformasi menjadi iblis baik. Apa? Oh, tidak ada ya? Baiklah. Catat aku sebagai yang pertama.

Kosan, 14 Agustus 2014 (10:06 pm)
Suatu hari aku akan cukup baik :)

No comments:

Post a Comment