Tuesday, October 18, 2016

" Hmm... Saya Nggak Tahu... "

Assalamualaikum. 

Selamat malam. 

Percakapan kami diakhiri sejam yang lalu. Tapi sampai saat ini, saya masih kefikiran juga sama isi obrolan kami barusan.

Gini ceritanya...

Tadi siang, Bang Shin yang memang sedang ada pekerjaan di Bandung nanyain toko handphone yang kapabel. Abang mau beli HP lagi yang support buat provider Indonesia. Saya yang bukan anak gadget nggak terlalu banyak tahu juga, sih. Driver beliau bilang mau bawa ke BEC, tapi bingung mau ke toko mana karena beliau juga nggak sering beli HP. Akhirnya dengan bekal pengetahuan dari beberapa teman, saya tunjukin Shin - kun ke satu toko HP yang udah lumayan ngetop se-BEC.

Sekitar selepas Isya, sahabat saya itu menelepon. Awalnya saya cuma basa basi aja nanya apa HP yang diidamkan udah dapet atau belum? Ternyata... 

(Dari yang saya simpulkan...)

Bang Shin datang dengan t-shirt dan celana selutut. Dilengkapi sendal jepit. Simple dan seadanya. Apalagi kaos yang dipake tuh kaos Astro Boy kesayangan yang udah lusuh. Kontras banget sama penampilannya yang biasa serba rapi dan mengkilap. Katanya lagi malas rapi - rapi. Pengen simpel dan nyantai aja. Plus rambutnya nggak disisir klimis kayak biasanya juga. Katanya biar ga banyak cewek ngelirik. Hadeh... >_

Dah gitu, saat Bang Shin dan drivernya sampai di toko tersebut, seperti biasa, pramuniaga tokonya nyapa. " Cari apa, mas? " Bang Shin jawab " Bimbit. ". Sadar mas pelayan tokonya bengong, dia mengkoreksi jawabannya. " Handphone " Katanya. Mas - masnya senyum seadanya. " Handphone apa? " Lanjut mas itu. Bang Shin nyengir, " Hm... saya nggak tahu. "

Mungkin dengan jawaban dan cara berpakaian yang nggak menyakinkan membuat mas itu ragu, apa memang Bang Shin mau (baca : sanggup) beli? 

Setelah mas itu natap Bang Shin dan drivernya dari kepala sampe kaki, mas itu melengos pergi. Sahabat saya itu bingung, kan. Lah ada customer kok gak dilayani? Padahal toko masih sepi. Yang beli baru Bang Shin sama seorang mbak - mbak yang dilayani dengan ramah oleh pramuniaga yang lain. Mungkin karena masih pagi dan toko - toko baru pada buka.

Baru aja Bang Shin mangap mau ngomong, " Ini ada merk xyz. Murah. Cuma 250 ribu. Udah ada radio sama MP3. Kalau yang ini 300 ribu. " Ujar mas itu. Bang Shin saling tatap sama Pak Driver. Mungkin masnya udah sensi. Dia bilang lagi, " Kalau masih kemahalan, tuh di konter sana beli hape Esi* Hidayah. Secondnya dapet 30-50 ribu." Sambil senyum sinis. 

Pak driver mulai kesel. Beliau ngajak Bang Shin ke toko yang lain, dan semuanya terjadi sesuai harapan. Sahabatku ini dapet HP yang dia butuhkan. 

Saat cerita, dia bilang ke saya. " Dik, saye nak beli laa... Sebenar ni salah saye juge. Kalimatnya tak habis. Tadinya nak lanjut kate 'bise recommend HP bagus?' tapi saye tak jadi cakap. Dah speechless. He he. Saye dah tak tahu nak cakap ape."

Saya ngga bermaksud menjustifikasi apapun itu soal mas - mas pramuniaga itu. Mungkin anaknya sakit. Atau kalo belum punya anak, mungkin dia lagi marahan atau putus sama pacarnya. Atau bisa juga kontrakannya belum kebayar. Atau lagi ga enak badan gara - gara nggak bisa BAB selama sebulan. Tapi ya kok saya nggak terima juga. Rasanya nggak profesional aja. 

Selesai beli HP di toko lain, mau nggak mau mereka harus balik ke toko pertama karena kunci mobil nggak ada. Seinget Bapak driver sih ketinggalan diatas etalase toko. Mungkin bapak driver lupa atau terlalu kaget sama perilaku pramuniaga itu tadi. Saat kembali ke toko, mas - mas yang ngga bisa BAB sebulan itu lagi ngobrol sama temennya. 

" Bangcik ape tengok key mobil saye, ke? Pakcik ni lupa. " Mas itu mengangguk ramah sembari mengambil kunci yang ternyata udah disimpenin ke atas meja kasirnya. Mas yang tadi jutek itu terpana sama Bang Shin dan drivernya, dan kedua matanya fokus sama kantong plastik yang ditenteng Bang Shin, yang ternyata tulisan ASUS Padfone Infinity - nya keliatan dari luar. Bang Shin nggak ngeh sih awalnya. Tapi pas kunci didapat dan bilang makasih ke masnya, mas jutek tadi jadi senyum ke Bang Shin dan driver. 

Hm, menarik menurut saya. 

Betapa penampilan yang sederhana membuat seseorang di-under estimate dengan mudahnya. Kalau saya boleh agak kasar, mas itu udah suudzan duluan mengira customer yang datang hanya mau merepotkan dengan nanya ini itu tapi nggak beli. Ya, meskipun demikian, tentu akan sangat indah kalau mas itu tetap memerlakukan pembeli dengan sebaik mungkin. Toh ini buat kredibilitas tokonya juga, kan. Selain menurunnya kredibilitas toko tersebut, tokonya jadi kehilangan rizki. Kalau tadi masnya nggak jutek, satu unit ASUS Padfone Infinity seharga kurang lebih 7-8 juta terjual. Ya, rizki sih nggak bakal ketuker. Tapi, mungkin telat atau ngga datengnya rizki bisa diakibatkan karena attitude kita sendiri. 

Judging dari penampilan -> suudzan -> kredibilitas turun -> rizki ngga jadi dapet.

Wah! 

Mungkin pula ini adalah salah satu contoh kasus dari hadits, “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557). Dilapangkan rizki, ibarat air kran. Bisa aja dari PDAMnya mah ngalir lancar dan bersih, tapi pas di kran rumah kita, krannya tersumbat atau apalah hingga keluarnya sedikit aja. Mencak - mencak nyalahin PDAM " Kenapa sih airnya dikit? Padahal tarifnya naek. Gimana sih! " padahal kesalahan ada di kran air rumah kita. Wallahu a'lam.

Kami faham, mungkin banyak customer yang ngga menyenangkan. Mangkanya dijustifikasi seperti itu. Bang Shin nggak lama - lama gondoknya. Tadi pun kami cerita malah jadinya lucu. Mengenai hal ini, Bang Shin punya analisa unik tersendiri. " Boleh jer diaorang masilah training. Belum boleh bedakan mane kastemer baik dan yang tak. "

Nah, analisis yang jauh lebih bijak daripada saya bilang ga bisa BAB selama sebulan. He he.

Saya membayangkan, betapa akan sangat menyakitkannya bila itu menimpa saudara - saudara kita yang memang tak berpunya. Saat mereka membutuhkan dan ingin juga memiliki hal - hal yang lumrah dimiliki manusia lain yang sedikit lebih beruntung, sesungguhnya mereka juga punya hak.  Tapi sekarang, nampaknya banyak pihak udah ngejatohin mental duluan. Apa mereka merasa lebih baik? Apa mereka lupa bahwa mudah saja bagi Allah untuk membalik posisi mereka?

Saya berdoa dan sangat memohon sama Allah agar ngga ada seorangpun yang berani membentak orangtua dan adik saya. Agar mereka bisa hidup layak dan dihargai orang. Kalo ada yang berani bentak, sudah sewajarnya dan seharusnya seorang anak untuk membela. 

Ya Allah, apapun kondisi kami, apapun kondisi orang yang kami hadapi, semoga kami selalu bisa menjadi manusia yang memuliakan manusia. Aamiin...

Di ujung percakapan, Bang Shin berpesan. " Jangan menilai sesuatu mengikut rupa atau fizikal. Berlaku adillah. Sesungguhnya adil lebih dekat kepada takwa. " 

Iya, bang. Iya. Insya Allah :)

(posted : 13 Januari 2015)

No comments:

Post a Comment