Tuesday, October 18, 2016

Anime vs Lainnya

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Bingung mau kasih judul apa. Ini bukan tulisan bermaksud protes, mengelak, pembenaran, ataupun balik memojokkan. Ini hanya refleksi dari apa yang saya fikirkan. Karena jika harus mengutarakan langsung, sungguh, saya tidak pandai berbicara. Khawatir nantinya jadi hal buruk buat kita semua. Selama ini aku sudah cukup sabar, Mas. Tapi kamu nggak juga ngertiin aku. Aku udah gak sanggup lagi nahan semuanya jadi aku tulis di sini. 

Sebenarnya saya selalu senang bila ada yang mengingatkan. Meskipun masih belum siap kalau diingatkan dengan kalimat dan atau yang kurang enak dan baik. Tapi,  bagaimanapun, itu tanda sayang buat saya, kan?


Anime. 
Banyak yang menyamakannya dengan kartun. Padahal jelas berbeda. 

Perbedaan antara Anime dan Kartun:

·         Anime merupakan buatan Jepang. Sedangkan Kartun merupakan buatan barat atau Amerika, Eropa, dst.

·         Dalam hal genre, Anime dan Kartun sangat berbeda tentang ini. DiAnime sendiri, genrenya terbentang mulai untuk anak kecil, kayak Doraemon, sampai yang bisa dikategorikan dewasa seperti hentai kayak diAnime High School DxD atau adegan yang penuh dengan kekerasan, seperti Elfen Lied. Sedangkan Kartun kebanyakkan diperuntukkan bagi anak kecil. Misalnya Iron man, tokoh utamanya anak kecilkan? Walau versi filmnya diperuntukkan untuk dewasa.

·         Dalam hal Alur cerita, anime memiliki alur cerita yang kompleks dan cukup rumit atau agak susah untuk dipahami. Sedangkan Kartun lebih sederhana, tokoh utamanya tidak berpikir rumit. Misalnya Ben 10. Begitu ada musuh ia langsung berubah sesuai dengan kebutuhannya. Ide ceritanya sederhana, yaitu mengusir alien.

·         Anime banyak juga yang berbasis saintis, seperti dalam  anime La Storia della Arcana Famiglia. Sama halnya dengan kartun yang biasanya juga berbasis saintis, kayak Spiderman, X-Man, dll. Ada penjelasan ilmiah untuk semua itu, walaupun tidak semuanya seperti itu.

·         Anime dan Kartun lebih mendidik dari Sinetron Indonesia. DiKartun jarang ditemui kisah perselingkuhan, percintaan remaja yang lebay, ataupun perkelahian memperebutkan perempuan dengan keroyokkan, ataupun kebencian karena cemburu, atau manusia yang berkelahi dengan naik naga, ceritanya yang dipanjang-panjangkan kalau tokoh utamanya sudah tidak ada. Sedangkan diAnime banyak diajarkan tentang kisah-kisah persahabatan, kekeluargaan, dan kita menemukan banyak kata-kata bijak sebagai motivasi.


·         Anime adalah animasi yang berkembang di Jepang dengan gaya gambar yang realist tapi 2D dan berbeda dari manusia umumnya. Model utama anime biasanya adalah manusia, dan jalur ceritanya tidak seperti kehidupan sehari-hari yang biasa saja. Kebanyakan anime (tidak semuanya) dibuat di Jepang dan alur ceritanya biasanya lebih serius dengan durasi satu cerita, biasanya hanya satu musim (12-13 eps).

·         Kartun adalah animasi yang berkembang di Amerika yang bergaya gambar khayal dan utamanya menggunakan karakter binatang yang dibuat menyerupai manusia. Misalnya kayak Sweeper dan Boots di Dora the Explorer, Scooby-Doo, Tom & Jerry, dll. Tujuan utama dibuatnya kartun biasanya untuk menghibur dan ditunjukan untuk anak-anak, karena jalan ceritanya yang santai dan menghibur, dan biasanya menceritakan tentang kejadian sehari-hari karakter.

·         Intinya, anime itu BUKAN kartun. Kartun itu kebanyakan buat anak-anak dan bisa juga ditonton buat orang dewasa. Tapi kalau anime itu sendiri belum tentu semuanya bisa dinonton oleh anak-anak. Yah kembali lagi ke genre. Karena di Anime, ada genre yang memang tidak diperuntukan bagi anak-anak, kayak genre hentai dan ecchi.

Biar gampang, saya copas penjelasan soal anime dan kartun ini dari sini. He he. Keburu ngantuk, nanti tulisan ini nggak selesai kalo saya ketik semua *ngeles*

Sebenernya saya udah mulai lelah denger komentar orang - orang soal kecintaan saya sama Naruto - Narutoan. Sebenernya ga segitu cintanya sih, karena banyak juga cerita Naruto yang saya lupa atau skip. Nggak cuma Naruto sih, ada lah beberapa yang saya ikutin meski nggak sampe tergila - gila
sama Naruto. kenapa Naruto? Karena di Naruto ada tokoh sekeren Uchiha Itachi. Hihi. Kalo soal Itachi, sepertinya saya udah termasuk Nijikon atau otaku yang sudah nggak suka lagi sama manusia. Mereka lebih memilih karakter anime, manga, atau game, dan tentu ada rasa seksual juga. Abisan kalo lihat Itachi - kun itu suka ser ser gimanaaaa gitu. Ya mungkin baru 1/2 Nijikon karena buktinya saya masih suka deg deg an super dahsyat kalo disenyumin sama kamu *plak!*.

 Okeh, balik lagi ke topik anime. 
Sering banget deh denger komen, 
" Udah usia segitu masih suka anime, ih. "
" Kayak anak kecil, ih. "
" Pakai jilbab tapi suka dateng ke acara cosplay yang buang waktu aja. "
Dan lainnya, deh.

 Kawan, Anime bukan buat anak kecil, kok. Dari definisi di atas pun sebenarnya sudah bisa disimpulkan, kok. Mungkin orang yang berkomentar seperti itu taunya anime itu hanya Doraemon atau Sinchan. Coba deh kapan - kapan nonton Hi*hsc*o*l **D atau B**u *o *ic*. #eh... Jangan, deh. Parasyte aja. Biar nilai sendiri apakah genre gore seperti itu pantas buat anak kecil?

 Saya udah males njelasin, sebenernya. Makanya tiap ada yang mencibir cuma saya kasih senyum aja. Kali aja nanti dia naksir saya *halah*. 

Intinya, apapun yang kita lakukan itu bergantung niat kan, ya? Saya ga berani bilang " Ih, apaan nonton drama korea? Ngayal banget. Ga ada cecintaan macam gitu. Mending nonton anime. Anime itu bla bla bla... " karena bagi saya itu ya hak mereka yang emang suka. Mungkin mereka yang suka drama korea, film india, atau film Hollywood karena mereka bisa menangkap hikmah dari film - film favorit mereka tersebut. Yup, mempelajari hal - hal yang nggak bisa saya tangkap maknanya dari film - film tersebut.


" Daripada kamu buang waktu nonton anime, mending ngaji! " makasih dah ingetin tapi buat saya, ngaji bukan hal yang harus diketahui khalayak. Ga mesti lah saya bilang, " Saya udah ngaji sebanyak x juz. Alhamdulillah. Jadi bisa nonton anime. " Ah, asa teu kedah. Ya mungkin niatnya sekedar mengingatkan juga, ya ^^
 
Dewasa atau tidaknya seseorang memang tampak dari keseharian mereka. Tapi dalam frame  saya, menjadi dewasa nggak berarti kita ga bisa  lagi nikmatin hal - hal kecil yang unyu. Disuapin Mama, ndusel - ndusel di ketek Papa, merajuk sama Abang, ngupil sembarangan (oke, ini jangan diamalin!), joget - joget kalo lagi sendirian di kamar pake lagu - lagunya AKB48, dan hal lainnya. Saya rasa seseorang bisa menjadi dewasa dengan sisi kanak - kanaknya. Meskipun keduanya terdengar ironis, tapi bisa kok berbarengan. Asal kita bisa nempatinnya aja. Gak mungkin kan nangis gegara kejeduk pintu di depan calon mertua?

Ketika seseorang yang kekanakkan menonton anime, ia hanya akan menonton dan udah, gitu aja. Niru - niru apa yang dia liat, ciat ciat pasang jurus, atau meniru adegan ecchi atau hentai yang dia tonton. Tapi ketika seseorang yang dewasa menonton anime, dia akan faham makna cerita yang dia tonton dan mengambil hikmah darinya. Ada gitu makna dan hikmahnya? Ada, dong! Kalo ga nemu mungkin kamu masuk kategori pertama. He he.

Pun ketika seseorang nonton drama atau bahkan - maaf - film biru. Kan sinonimnya tu 'Film Dewasa', ya. Jelas genrenya. DEWASA. Tapi ketika orang yang kekanakan menonton, mereka mungkin akan meniru adegan yang dilihat, tanpa tanggung jawab. Tanpa fikir panjang. Akhirnya? Sex bebas. Dzalim ke orang lain. Tapi ketika seorang yang memang dewasa menontonnya, ia akan menganggapnya sekedar pengetahuan saja. Agar tidak berbuat lebih jauh seperti halnya bermain basket, kita harus tahu aturan boleh dan tidak bolehnya, kan? Biar kita nggak melanggar. Biar kita fikir panjang kalo mau lakukan itu dan orang dewasa justru nggak bakal nonton film dewasa sembarangan karena dia faham tanggung jawab yang harus ditanggung setelahnya.

Dapet ya, maksudnya?
 
Ini soal cara kita menyikapi dan soal selera aja, sih. Saya mah, gak masalah kok temen - temen deket saya ga suka anime. Karena kita temenan karena
diri kita. Bukan sekedar karena kesamaan hobi dan selera. Oke, ada yang seleranya sama kayak saya. Tapi apakah saya HANYA harus berteman dengan  mereka? Ya enggak, lah. Toh saya tetep bekerja di jam kerja, memaksimalkan family time, kopdar - kopdar bareng kawan - kawan tersayang, belajar di jam belajar (mm... yang ini sih gw sendiri ga yakin, sbenernya mah... tapi iya - in aja ya biar cepet!). Intinya, tidak mengesampingkan kewajiban di atas kesenangan.
 
Makasih ya, udah mengingatkan. Saya jadi merasa diperhatikan. Jangan lupa sayanya ditegur kalau khilaf, diingatkan kalau mulai lalai, dibangunkan kalau mulai terlena, disemangati kalau mulai lemah, dibantu kalau mulai tertatih, ditraktir kalau milad dan dikasih duit kalau lagi bokek. 
 
Terimakasih. Selamat malam.
Assalamualaikum ^^

(Posted : 13 Juni 2015)

No comments:

Post a Comment