Thursday, October 27, 2016

28

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Bandung freezing banget seminggu ini. Hujan terus juga. Tadi siang saya baru sadar dari dialog Teh Arry dan Mbak Cuit pas lunch di kantin. Tahun ini sepertinya kita nggak ngalamin musim kemarau. Hujan turun hampir sepanjang tahun. Banyak daerah kena banjir, seperti Pasteur dan Pagarsih Senin lalu. Semoga kedepannya nggak banyak banjir lagi. Aamiin.

Tiga tahun berlalu sejak hari itu, hari saya mendapatkan izin buat menentukan hidup sendiri. Sejak saya bisa mulai belajar mendengar apa yang saya inginkan dan tidak inginkan, sejak saya mengenal yang namanya bergaul, nongkrong, jalan bareng, touring, punya pacar yang beneran saya sukai, kenal kafe dan mall, dapat teman baru dengan habit yang totally beda sama saya, dan lainnya, deh. Luar biasa. 

Rasanya jadi manusia yang punya nyawa dan perasaan. Mulai menjalani hidup seperti orang kebanyakan, normal, bahagia, sedih, marah, merasa kurang, dan lainnya. Aneka emosi. Sejak dibebasin itu pula berat badan melonjak naik 8 kg setelah sebelumnya paling pol di 42 dan itupun balik ke 40 setelah dua hari dan mencapai angka itu sekali doang seumur hidup -___-. Kata orang sih, gendut itu berbanding lurus dengan kebahagiaan. he he.

Seneng dan bersemangat banget bisa sampai di hari ini. Nggak berhenti buat bersyukur deh, pokoknya. 

Jadi... apa yang terjadi setelah tiga tahun? 

Entah kenapa, tahun ini perhatian saya benar - benar tertuju ke " Usiamu, untuk apa kamu habiskan? " 

Saya membandingkan hidup saya dengan hidup orang - orang yang saya kenal (maupun tidak, sih). Usia 28 teh udah pada di tahap mana? Mengobrak - abrik ruang yang bahkan nggak ingin kamu lalui bukan hal yang mudah, lho. Maksudnya, semacam mengingat apa saja yang nggak pengen kamu ingat. Karena sakitnya, traumanya, atau gagalnya. 

Saya melakukannya, dan ternyata saya nggak siap. 

Membandingkan hidup kini dan dahulu memang butuh kesiapan kan, ya. Siap untuk nggak jadi down  setelahnya, siap untuk memerbaiki kualitas kedepannya, siap untuk tetap bersyukur atas apapun yang terjadi. 

Dan kemarin saya gagal. Ketika mengingatnya kembali, saya membandingkan hidup saya saat itu dengan mereka yang kini berada di fase saya saat itu. Kebayang wajah - wajah yang sebenernya nggak saya kenal, hanya saya ketahui nama dan sedikit kisah hidupnya, dan sekaligus orang - orang terdekat saya. Sahabat dan keluarga tepatnya. 

Ada rasa iri yang nggak tertahankan, ketika saya membayangkan betapa indahnya kehidupan mereka. Betapa mudahnya mereka mendapatkan apa yang dulu pernah saya perjuangkan mati - matian. Ya, bisa karena ujian mereka memang di sektor yang berbeda dengan saya sehingga ranah ripuhnya beda, atau bahkan mereka benar - benar lurus memasrahkan diri sama Allah sedangkan saya nggak. 

Siang itu, nggak disadari saya menangis. Kok bisa ya, padahal masih di lab. Mata saya berair di saat tangan saya bekerja dengan lembar formula yang sudah saya print sebelumnya dan fikiran yang sebenarnya fokus juga pada lembar itu. 

Mereka bisa memakai kerudung syar'i tanpa harus berhadapan dengan omongan pedas tetangga. 
Mereka bisa ber - taaruf tanpa dianggap obral, murahan, atau beli kucing dalam karung.
Mereka bisa menikah muda tanpa dicibir sana sini. Bisa menghadiri pengajian tanpa disebut sesat karena berbeda. 

Dan yang paling luar biasa, mereka bisa menjalankan apa yang mereka yakini tanpa harus konflik dengan orangtua. Duh, enak banget ya. 

Zaman saya mah... duh... 

Sebenernya, kurang lebih dua bulan terakhir, saya kefikiran kembali ke lifestyle yang dulu. Bahagia banget loh. Hihi. Tapi saya berfikir, apakah nanti saya akan kuat untuk kembali seperti itu? Akankah mama dibuat menangis dan memohon - mohon pada saya untuk berpakaian lebih 'normal' karena mama udah ga kuat sama omongan tetangga? Apakah teman - teman saya masih mau menerima saya yang dikenal nggak konsisten padahal hanya harus pintar cari celah untuk berdiplomasi dengan orangtua? 

Kalo berubah lagi, pasti juga dibilang plin plan. Udah begitu, begini, eh begitu lagi. Tapi mereka yang komen pasti nggak tahu, kalo di fase 'begini' ini banyak banget yang bisa saya pelajari. Banyaaaaak banget improve yang dihasilkan. Dengan izin Allah tentunya.

Bisa, sebetulnya. Karena orangtua saya sudah lebih tahu ilmunya dibandingkan dulu. Mama juga akan jadi sangat jarang menangis karena udah jarang kumpul sama buibu yang kompor itu. Yang tahunya 'sekedar komentar' padahal yang 'sekedar' itu cukup membuat mama saya menangis, memohon pada saya untuk lebih 'biasa'. Padahal saya nggak hamil, nggak lepas jilbab, nggak pindah agama. Aneh, ya. Too much love will kill you

Saya juga merasa, seripuh apapun saya menjalani semuanya selama 11 tahun merjuangin pengen jadi lebih baik dalam beragama, lebih ripuh menjalani hidup yang didalamnya ada banyak hal yang bikin Allah gak suka. 

Tiga tahun, rasanya cukup deh berbandel - bandel, nambalin fase remaja yang nggak saya alami seperti remaja kebanyakan. Oranglain mah remaja cari prestasi, cari cinta, cari identitas, saya malah sibuk cari Allah. Hihi... Udah gak penasaran lagi sih, udah puas juga mainnya, hedonnya, senengnya...

Sekarang, udah tinggal fokus menata buat masa depan anak. Mikir jauh ke depan. Menjaga perasaan suami, dengan nggak ngegalauin mantan (LOL!) apalagi bahas - bahas cowok di media. Kebayang nanti, kalo udah nikah, suami baca atau lihat sesuatu yang bisa ngeganggu ketenangan hatinya. Wah T___T

Saya bukan wanita baik - baik. Ini saja udah bikin jiper sendiri kalau ada yang ngedeketin. Tapi ya, walau mungkin (pasti ada aja) dinilai cewek pemilih, cewek player, gagal mulu soal cinta, bagi saya, ini ikhtiar saya. Kalo akhirnya gagal, ya berarti kata Allah nggak itu orangnya. Simpel. 

Tahun depan, saya nggak mikirin menikah. Justru lebih kepengen beresin kuliah dan kerjaan dengan lebih bertanggungjawab. Dulu saya yang minta ke Allah, sekarang saya harus bertanggungjawab atas doa - doa saya. Pas pengen mohon - mohon, tapi udah dikasih malah disia - siain kan gimana ya...

Lebih produktif, pasti. Masih mikir sih mau ngejar apa. Karena udah nanggung di farmasi dan tekim. Masih milih - milih mana mimpi saya yang masih bisa disesuaikan dengan garis takdir yang harus saya jalani. Kalo bisa, kewajiban dan keinginan bisa balance. Hihi. Aamiin...

Banyak PR deh yang pasti. 

No comments:

Post a Comment