Thursday, June 21, 2018

Sakit

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Walaupun Ramadhan sudah berlalu, semoga semangatnya tetap tertanam ya, temen - temen. Gimana dengan Shaum Qadha dan Syawal - nya? Ada yang sudah mulai? 

Malam ini, saya mau cerita soal sesuatu yang terjadi hari Minggu (19 Juni 2018) lalu. Tentang sesuatu yang luput dari kontemplasi saya, hingga kemudian ujian tersebut diulang lagi dan lagi sama Allah.

Ujiannya ada di judul tulisan ini. 

Sakit.

Apanya yang sakit? 

Sunday, June 3, 2018

Obat Jiwa dan Ramadhan Pertama Kami

Assalamualaikum.

Selamat dini hari. 

Ngga kerasa, ternyata terakhir nulis tuh bulan Maret, yah. Kirain baru sebulan doang nggak posting di sini. Suami menyarankan saya untuk fokus memposting perjalanan kami saja dan tidak yang lainnya, terutama curhat. Ibaratnya travel blogger lah. Sebagai cerminan diri kami berdua yang tukang maen :p 

Di draft ada beberapa artikel yang nggak selesai. Belum dibereskan. Saya ngerasa masih harus belajar sangat banyak untuk cerita perjalanan, objek wisata, dll. Belajar dulu. Doakan, ya. 

Selain blog ini, saya juga punya akun tumblr. Sayangnya sekarang sudah di blokir dan harus pake VPN katanya. Jadinya saya nggak punya ruang untuk sharing hal - hal yang ringan kayak gini. Sekedar ngobrol saja. Sekedar ngajak ngalor ngidul. 

Tahukah kamu gimana rasanya nggak nulis dalam waktu lama? 

Writer block dan cranky terus !!!

Saturday, March 17, 2018

Trip Ke Gunung Padang Cianjur (1)

Assalamualaikum. 

Selamat siang. 

Hari terik banget ini. Katanya karena efek fenomena alam Cincin Matahari tanggal 13 Maret 2018. Ada juga yang bilang tanggal 31 Maret 2018. Nggak banyak sih yang saya baca soal ini. Tapi memang menyengat banget. Saya bersyukur tinggal di dataran tinggi yang walaupun masih tetap panas, tapi nggak separah kalo di dataran rendah. Bisa pecah nanti Adek, Bang. Nggak dilapis Pyrex >_<

Semalem keingetan masih nyimpen beberapa foto saat jalan - jalan ke Situs Gunung Padang Cianjur tanggal 02 Desember 2016 lalu. Yah, udah lebih dari setahun, memang. Tapi semoga bisa sedikit membantu, ya. Itu kunjungan ketiga saya, setelah kira - kira 25 Desember 2015 dan pertengahan tahun 2016 (yang ini nggak yakin kapan, sih. Lupa.) ke sana bersama teman - teman Napak Tilas Community. Berkesan banget sih, kalo menurut saya. Soalnya seru.

Sayangnya, foto - foto kami udah nggak ada di HP dan hard disk. Soalnya laptop dan  HP lama rusak. Ngga selamat data - datanya T_T

Yang bersisa dari dua trip pertama cuma tiga, sih. NIh fotonya...

Pendakian Pertama : Papandayan (4)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Mauuuu ngelanjutin cerita Papandayan (3).

Panjang, yak? Haha. Ini part terakhir. Insya Allah. 

Malam yang seram dan dingin sudah berlalu. Subuh tiba. Saat keluar dari tenda, rasanya damai banget. Beda dengan semalam. Dengan bantuan head lamp, kami mendapati plastik sampah kami sudah terkoyak dan terburai. Duh...

Alhamdulillah, penjagaan Allah memang luar biasa. Kami ke kamar mandi untuk berwudhu. Bahkan jam 04.00 ke toilet saja sudah antri, tuh. Malah ada suara mandi di balik salah satu bilik. Uyuhan ~_~

Pendakian Pertama : Papandayan (3)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Jadi, kali ini mau melanjutkan cerita di Papandayan (2)

Memang benar yang orang bilang. Ujian banget itu ketika hari mulai gelap. Saat itu, saya yang newbie bener - bener menggantungkan diri ke Allah dan suami. 

Ketakutan sepanjang malam dan benar - benar merindukan matahari terbit. Pengalaman pertama yang nggak saya bayangkan sama sekali saat di Cijanggel. Di sana tidur pakai bivak aja. Nggak pakai jaket. Kepala terbuka gitu aja. Awalnya mau rebahan gitu aja di atas rumput, dong ~_~ Nggak kebayang ada hewan di situ. Ular, mungkin. Atau yang paling mungkin, anjing liar. Bisa aja, kan? 

Para santri yang mengikuti program Santri Siap Guna diwajibkan menjalani Solo Bivak di ujung program. Tujuannya, katanya untuk menguji keyakinan kita sama Allah. Biar manteng keyakinan kita sama Allah. 

Dan itu benar adanya.

Pendakian Pertama : Papandayan (2)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Dago terik. Padahal beberapa menit yang lalu hujan turun. Cuaca belum menentu. Jaga kesehatan yaa, temen - temen!

Kali ini saya mau melanjutkan cerita Papandayan (1).

Jadi, setelah kami mulai mendaki, saya masih kuat kok naiknya. Setidaknya sampai 10 - 15 anak tangga pertama. Asli, payah banget nih fisik. Ngos ngosan. Beda sama suami yang kelihatan anteng aja naiknya. Beberapa kali suami menawarkan buat bawain tas, istirahat dulu, minum dulu, dan lainnya. Beda banget deh naik sama suami tuh. Ayok naik gunung dengan yang halal :p

Cuaca lagi cukup panas. Lumayan panas lah. Terbayang - bayang nasi padang yang kami beli sebelum memasuki wilayah Papandayan. Rencananya itu buat makan nanti malam :D
Yang saya sesalkan, banyak bekas - bekas vandalisme. Ameh naon atuh, ameh naon? :(

Friday, March 16, 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (1)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Sebenernya ini adalah cerita bulan Desember 2017, saat kami memutuskan bulan madu setelah drama pengantin - baru - dikecoh - tespek. Tespek saya hasilnya dua garis dengan samar di salah satunya. Baperlah, saya hamil. Rencana semula untuk berbulan madu batal. Karena memang suami sangat bersemangat untuk segera punya anak. 

Tapi ternyata nggak lama setelah kalimat " Ya Allah, saya nggak siap. " saya ucapkan dalam doa, saya haid. Memang rasanya belum siap ketika di bulan kedua pernikahan, saya sudah hamil. Mengenal suami saja belum banyak, karena kami memang cuma dekat 5 bulan saja sampai akad nikah teh. Untuk menghibur, suami akhirnya mengajak saya berbulan madu sesuai rencana awal kami. 

Saat itu cuaca lagi nggak menentu. Lagi musim siklon Dahlia. Saya berfikir ulang apa akan baik - baik saja kalau jadi pergi? Tapi suami berkeras dan meyakinkan kalau semua akan baik - baik aja. Papandayan adalah gunung yang mudah didaki, katanya. Nggak berupa hutan belantara dan sudah banyak personil yang mengelola. Nggak perlu khawatir. 

Mengingat pengalaman - pengalaman beliau di dunia pendakian, saya memercayakan diri sepenuhnya saja. Kami baru mengabari (bukan meminta izin) pada orangtua saat benar - benar mau berangkat. Haha. Memang benar adanya. Sesuai dugaan, orangtua saya nggak mengizinkan. Cuaca lagi nggak bagus, kata mereka. Tapi suami sudah yakin pergi. Jumat jam 17.00 kami berangkat. Prediksi, insya Allah hari Minggu sore sudah di Bandung lagi. 

Sejujurnya, saya pun takut untuk pergi. Tapi beginilah ya namanya sudah bersuami. Patuh pada suami walaupun sebenernya pengen patuh sama Papa. Haha.